Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Pembalap di Lintasan Terakhir

(AR/M-6)
26/11/2015 00:00
Pembalap di Lintasan Terakhir
(FOTO-FOTO: MI/ARIES MUNANDAR)
KETERTARIKAN Soedarto terhadap sejarah di Kalimantan Barat bermula saat dia mengajar di Sambas pada 1965. Lelaki kelahiran 1933 itu memperhatikan pengaruh Keraton Alwatzikhoebillah bagi masyarakat Sambas. Rasa penasaran pun lantas tebersit. Dia ingin lebih jauh mengetahui hal ihwal dan sejarah Kerajaan Sambas. "Kerajaan Sambas sekarang memang tidak lagi memiliki political power, tapi masih menjadi pusat pelestarian budaya," ujar Soedarto. Meneliti sejarah di Kalimantan Barat bukan pekerjaan gampang. Minimnya arsip dan dokumen sering kali membuat penelitian tersebut menjadi kurang komprehensif.

Soedarto mengibaratkan catatan sejarah di Kalimantan Barat sebagai mozaik karena banyak yang belum diperkuat dengan dokumen penting. Dokumen bersejarah itu kini kebanyakan menjadi koleksi museum di luar negeri.  Sementara itu, selebihnya tidak diketahui lagi keberadaannya. "Namun, sering pula dokumen bersejarah didapat dari pihak yang tidak diduga sebelumnya," ungkap Soedarto. Nasib tidak kalah mengenaskan juga dialami bangunan bernilai sejarah. Sebagian besar gedung kuno tersebut sudah tidak lagi bersisa.

Mereka ambruk dimakan usia atau dirobohkan untuk diubah wujud dan fungsinya menjadi bangunan modern. "Ini sebuah ironi. Kalimantan Barat kaya akan sejarah, tapi tidak bisa melestarikan peninggalannya," tegas Soedarto. Lenyapnya jejak sebuah sejarah berpengaruh besar terhadap generasi penerus. Mereka tidak bisa lagi mengenal dan mempelajari peradaban di masa lampau. Menurut Soedarto, nilai luhur dan semangat perjuangan dari generasi pendahulu juga menjadi sulit untuk diwariskan.

"Generasi sekarang tidak bisa lagi menyaksikan bagaimana orang-orang tua dahulu menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara," jelas alumnus Institute for Educational Management, Vietnam, itu. Namun, Soedarto tidak pernah menyerah. Sejarawan yang menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman itu terus mengasah kemampuan. Sejumlah buku terbitan asing pun dipelajarinya sebagai sumber pengetahuan baru. Berbagai literatur tersebut diperoleh dari para kolega di luar negeri. Membaca sekaligus menjadi cara Soedarto merawat ingatan, selain mengajar di kampus. Lelaki yang tetap melajang di usia tua itu juga bertekad untuk terus mendedikasikan ilmunya sebagai amal jariah. "Ibarat pembalap yang sudah melihat garis finis di depan mata, saya harus menambah kecepatan supaya menang," pungkasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya