GURU SMK Negeri 3 Ambon Wutmaili Romuty, 43, mengaku sangat mencintai tanah kelahirannya, Ambon, Maluku. Untuk itu, selain mengabdi sebagai seorang guru, ia pun ingin memberikan manfaat bagi daerahnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya peralatan dalam proses belajar-mengajar, lelaki yang akrab disapa Pak Uce itu tidak lantas berpangku tangan. Justru, ia berhasil memberdayagunakan sampah untuk menjadi bahan pembelajaran di sekolah.
"Mendidik mereka dengan segala keterbatasan, kita harus lebih pandai. Berbekal pengalaman mengelola sampah di lingkungan, saya buat buku bahan ajar pengelolaan sampah," ujarnya kepada Media Indonesia seusai mengikuti perayaan Hari Guru Nasional (HGN) 2015 di Jakarta, kemarin (Selasa, 24/11/2015).
Tak disangka, idenya memasukkan pengelolaan sampah ke dalam kurikulum tingkat SD hingga SMA/sederajat itu malah langsung dijadikan muatan lokal wajib oleh pemerintah daerah setempat sejak 2010.
Bagi Pak Uce, mengelola sampah harus dijadikan budaya masyarakat, khususnya di Ambon. Sebagaimana visi misi yang diusung Ibu Kota Maluku itu, yakni Ambon bersih di siang hari dan bersinar di malam hari.
"Kebiasaan itu bisa dimulai dari sekolah. Awalnya dengan cara mengintegrasikan dengan materi pelajaran," ucapnya.
Pemenang kedua Guru SMK Berprestasi pada 2014 itu pun mengajak para guru mata pelajaran agar menyisipkan wawasan lingkungan ketika proses belajar-mengajar di kelas. Menurutnya, hal itu bisa diterapkan oleh seluruh guru mata pelajaran.
Tepat saat perayaan puncak HGN 2015, ia kembali mendapat anugerah tertinggi, yaitu Satyalancana dari Presiden RI Joko Widodo. Penghargaan itu sekaligus dijadikannya sebagai pemacu prestasi lebih tinggi lagi di masa mendatang. "Penghargaan ini akan saya perlihatkan kepada guru-guru yang lain supaya ikut semangat dalam berprestasi.(Mut/S-3)