Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Hipogonadisme bukan sekadar Masalah Seks

MI/PUTRI ROSMALIA OCTAVIYANI
25/11/2015 00:00
Hipogonadisme bukan sekadar Masalah Seks
(THINKSTOCK)
TESTOSTERON merupakan hormon seks utama laki-laki. Kekurangan hormon tersebut dapat menimbulkan masalah seksual. Namun, tidak hanya itu, defisiensi hormon testosteron juga bisa menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya, seperti diabetes, serangan jantung, dan stroke.

"Kondisi testis seorang pria yang tidak dapat menghasilkan cukup testosteron disebut hipogonadisme. Seorang pria yang mengalami hipogonadisme akan mengalami berbagai gangguan," ujar dokter spesialis andrologi, Nugroho Setiawan, pada diskusi kesehatan yang diselenggarakan Bayer pekan lalu.

Terkait dengan seksualitas, hipogonadisme menyebabkan penurunan gairah seksual dan disfungsi ereksi. Laki-laki juga akan kehilangan massa otot, mengalami kerontokan rambut pada tubuh, serta mengecilnya ukuran testis karena masalah itu.

"Lebih dari itu, hipogonadisme juga mengganggu metabolisme tubuh pria. Menurut penelitian, bila seorang pria kekurangan hormon testosteron, orang tersebut biasanya juga mengalami gangguan sindrom metabolis seperti diabetes melitus dan dislipidemia. Begitu juga sebaliknya, bila seorang pria mengalami penyakit sindrom metabolis, orang tersebut cenderung juga mengalami hipogonadisme," terang Nugroho.

Karenanya, hipogonadisme yang tidak ditangani dapat menjadi faktor risiko beberapa penyakit berat pada laki-laki. Penyakit yang paling kerap terjadi ialah obesitas, osteoporosis, diabetes, dan penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke. Data penelitian menyebutkan 42% lakilaki penderita diabetes tipe 2 memiliki gejala hipogonadisme.

"Efek metabolis hipogonadisme juga berpotensi menyebabkan penurunan kadar kolesterol baik (HDL) dan penaikan kolesterol jahat (LDL), gangguan metabolisme glukosa, kenaikan kadar lemak, serta penurunan volume sel darah merah.

" Dijelaskan Nugroho, hipogonadisme terbagi menjadi dua jenis, yakni sekunder dan primer. Hipogonadisme primer atau yang biasa disebut kegagalan testis terjadi akibat terjadinya cedera atau masalah pada testis. Adapun hipogonadisme sekunder terjadi akibat masalah di kelenjar hipofi sis di otak. Kelenjar itu bertugas memberikan sinyal pada testis untuk memproduksi testosteron.

"Hipogonadisme umumnya terjadi pada pria di atas usia 40 tahun, ketika semua sistem dan ketahanan tubuh secara alami mulai menurun. Namun, gangguan itu juga dapat terjadi pada usia muda, di bawah 30 tahun, bahkan sejak lahir. Jadi, masalah tersebut bisa mulai terjadi kapan saja. Bahkan, dari sejak seorang anak berada di dalam kandungan, akibat pertumbuhan testis yang abnormal."

Sayangnya, sebagaimana masalah seksual lainnya, hipogonadisme kerap tidak ditangani dengan benar karena ketidaktahuan masyarakat dan faktor malu. Ketika mengalami masalah disfungsi ereksi yang menjadi tanda utama hipogonadisme, kaum laki-laki kerap malu untuk berkonsultasi dan mencari terapi yang tepat. Padahal, 18% laki-laki penderita disfungsi ereksi mengalami hipogonadisme.

"Tanda yang paling mudah untuk mendeteksinya adalah terjadinya penurunan gairah seksual dan disfungsi ereksi. Dibutuhkan kemauan dari pasien untuk memeriksakan diri agar dapat sembuh. Sayang, banyak yang justru memilih menggunakan obat-obatan yang salah ketika mengalami masalah seksual," imbuh Nugroho.

Picu depresi
Pada kesempatan sama, psikolog Tara de Thouars menjelaskan hipogonadisme dapat memicu depresi.

"Testosteron penting untuk memungkinkan seorang pria untuk memiliki ereksi dan mengalami hasrat seksual. Pada pria yang mengalami hipogonadisme, kemungkinan akan mengalami pula disfungsi ereksi. Pria yang mengalami disfungsi ereksi dan penurunan libido akan mengalami gangguan psikologis, seperti depresi, kecemasan, dan stres yang akhirnya berujung pada permasalahan dengan pasangannya.

" Untuk itu, lanjutnya, penting bagi laki-laki untuk terbuka kepada pasangannya dan juga mau berkonsultasi baik dengan dokter andrologi maupun psikolog sehingga masalah yang memengaruhi kesehatan fisik dan psikologis itu dapat diatasi dengan cepat dan tepat.

Saran senada juga disampaikan Nugroho. "Tidak perlu malu untuk berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala hipogonadisme, seperti penurunan libido dan disfungsi ereksi."

Menurutnya, hipogonadisme dapat diterapi dengan pemberian testosteron tambahan dan jika terjadi disfungsi ereksi dapat diterapi dengan obat vardenafi l.

"Sebaiknya jangan pernah mengambil jalan pintas dengan mengonsumsi obat. Bila mengalami hipogonadisme, kita harus tahu akar permasalahannya sehingga pengobatan dapat efektif dan kualitas hidup dapat diperbaiki," pesan Nugroho. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya