Gerimis turun di Yogyakarta kemarin petang. Bersamaan dengan mendung yang menggayuti langit, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 2003, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IX tutup usia.
Penguasa Kadipaten Pakualaman itu meninggal (sedha) pada usia 77 tahun, di ranjang ICU RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, pukul 15.10 WIB.
Menurut Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, Muhammad Syafak Hanung, Sri Paduka--panggilan Paku Alam IX--dirawat sejak 6 November. Selang 10 hari, kondisinya melemah sehingga dipindah ke ICU. Kemudian, Selasa (24/11) kemarin, Paku Alam IX sesak napas akut sehingga harus memakai alat bantu pernapasan.
"Jenazah akan diberangkatkan dari Pura Pakualaman ke makam keluarga di Astana Giri Gondo, Kulonprogo, Minggu (hari ini) sekitar pukul 12.30 WIB," terang Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Indro Kusumo, Penghageng Kawedanan Hudoyo lan Pariwisata.
Empunya nama lahir Bendoro Raden Mas Haryo Ambarkusumo itu meninggalkan tiga putra, yaitu putra mahkota Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo Prabu Suryodilogo, Bendoro Pangeran Haryo Seno, dan Bendoro Pangeran Haryo Danardono.
Kerabat Keraton Yogyakarta, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Prabukusumo, mengungkapkan duka cita atas kepergian Paku Alam IX. Ia mengaku sering berdiskusi tentang keraton dan Pakualaman dengan almarhum yang dinilainya sosok humoris. "Saya harap setelah pemakaman langsung, ada pengangkatan supaya tidak mulur-mulur.
"Ucapannya mungkin berkaca pada friksi internal Pakualaman di waktu lalu. Seusai Paku Alam VIII wafat pada September 1998, mekanisme pemilihan pengganti baru digelar. Alhasil, penobatan Paku Alam IX baru terjadi Mei 1999. Namun, pada April 2012, Pura Pakualaman sempat geger lantaran KPH Anglingkusumo, saudara tiri Paku Alam IX, mendeklarasikan diri dengan gelar serupa.
Ketua Hudiyono Yogyakarta KPH Kusumo Parasto mengatakan keluarga mengangkat Suryodilogo sebagai Plt Paku Alam IX. "Proses suksesi tidak ada problem, tinggal menentukan waktu jumenengan.