Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kesederhanaan dalam Ketenaran

(FU/M-6)
19/11/2015 00:00
Kesederhanaan dalam Ketenaran
(MI/Furqon Ulya Himawan)
GANG itu terlampau sempit. Bahkan, salah satu motor harus berhenti merapat ke pinggir jika berpapasan dengan motor lain. Di gang sempit itulah Mbah Doel tinggal. Ketika Media Indonesia menyambangi rumahnya pada Rabu (11/11) lalu, di Dusun Kemetiran Kidul, Desa Pringgokusuman, Kecamatan Gedong Tengen, Yogyakarta, sebagian warga di gang itu antusias memberi petunjuk.  "Masih jauh. Tapi ini lurus saja, nanti pas ada becak-becak yang parkir itu, belok kanan. Masuk gang sempit yang menurun itu, rumahnya dekat situ," kata salah satu warga menunjukkan lokasi rumah Mbah Doel.

Sesampainya di tempat yang ditunjukkan, terlihat seorang lelaki duduk bersila di samping toko kelontong yang menjajakan beberapa perabot rumah tangga. "Iya, itu Mbah Doel duduk di samping toko," ujar seorang perempuan yang berada dekat toko sambil menunjuk ke arah orang tua itu. Saban hari Mbah Doel menghabiskan waktu duduk di samping rumahnya. Tempat duduknya itu sekaligus menjadi ruang kerjanya saban hari.

"Membuat boneka barongsai dan topeng," ujar Mbah Doel, tentang aktivitas saban harinya di rumah. Topeng dan boneka barongsai hasil kerajinan tangannya dia jajakan di depan rumah yang sekaligus disulapnya menjadi toko. Meski di dalam gang sempit, barang-barang itu selalu laku dan cepat habis, terlebih pas waktu perayaan Hari Raya Imlek. "Saya jual di rumah saja," kata dia seraya menunjuk beberapa dagangan yang ada di warung kelontongnya. Sejak pensiun dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, 24 tahun silam, Mbah Doel mulai menggeluti aktivitas membuat topeng dan boneka. Dia memilih bermasyarakat dan mendirikan paguyuban naga barongsai bernama Isaku Iki.

Di masa mudanya, Mbah Doel berperan memperkenalkan budaya pencak silat di Eropa. Meski demikian, hal itu tidak lantas membuatnya sombong. Warga sekitar lebih mengenal Mbah Doel sebagai sosok seniman topeng atau barongsai, tidak sebagai pendekar pencak silat. "Itu (pencak silat) dulu, sekarang bermasyarakat saja," kata dia. Setiap orang yang berjumpa dengannya selalu menyapa dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat.

Katanya, hal itu bukan karena dia seorang pendekar, melainkan pernah menjabat sebagai ketua RT di kampungnya. Konon semasa mudanya, Mbah Doel mengaku sebagai sosok lelaki yang disegani warga kampung dan menjadi panutan laiknya jawara. Namun, setelah generasi berganti, dia hanya dikenal sebagai orang tua biasa, orang tua yang mahir membuat topeng, bukan sebagai orang tua yang pernah berjasa memperkenalkan budaya pencak silat ke Eropa pada masa Presiden Soekarno. "Jadi jangan heran kalau sekarang saya lebih dikenal sebagai seniman pembuat topeng," ujar lelaki yang pernah beberapa kali ikut pameran topeng di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) itu.

Pengagum Soekarno
Memperkenalkan budaya pencak silat di Eropa bagi Mbah Doel adalah tugas mulia. Makanya dia bersedia, terlebih waktu itu yang mengutus adalah Presiden Soekarno. Namun, Mbah Doel sendiri belum pernah bertemu langsung sosok proklamator tersebut. "Saya itu pengagum berat Bung Karno, tapi malah belum pernah bertemu langsung dengan beliau," ujarnya. Mbah Doel sebenarnya ingin sekali ketemu Bung Karno waktu itu, menceritakan pengalamannya memperkenalkan pencak silat di Eropa. Tapi sayang, Presiden Soekarno sudah meninggal terlebih dahulu.

"Kalau enggak bisa bertemu Bung Karno, saya ingin bertemu Mas Guruh atau Mas Guntur," ucap Mbah Doel tentang keinginannya yang sampai sekarang belum terpenuhi. "Tapi saya bingung, kalau ketemu Mas Guruh atau Mas Guntur mau apa, pokoknya yang penting ketemu," imbuhnya. Agustus lalu, Mbah Doel mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) atas dedikasinya terhadap pencak silat. Namun, dia mengaku itu bukan tujuan utamanya.

Baginya, melestarikan budaya pencak silat dan memperkenalkannya di kancah internasional ialah tugas semua anak bangsa. Di tengah obrolan, tiba-tiba ada orang yang menanyakan harga sandal teklek kepada Mbah Doel. Lalu, dengan santun dia minta izin untuk melayani pembelinya terlebih dahulu. "Ya beginilah setiap hari. Duduk membuat boneka dan topeng sambil jaga warung," kata dia tersenyum. Tak lama, Mbah Doel mengajak Media Indonesia ke belakang tempatnya duduk dan menunjukkan beberapa jurus. "Itu budaya kita, perlu dilestarikan dan dikembangkan," ujarnya singkat. Sebuah harapan lelaki yang sangat mencintai pencak silat itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya