KONTRIBUSI Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla terhadap proses perdamaian di Provinsi Aceh telah diakui secara akademis. Dengan kontribusinya itu, Jusuf Kalla dianugerahi gelar doctor honoris causa bidang perdamaian dan kemanusiaan dari Universitas Syiah Kuala, Aceh, kemarin.
Pemberian gelar itu menjadikan JK, sapaan akrab Jusuf Kalla, bersanding dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang telah lebih dulu dianugerahi gelar tersebut pada 2013.
"JK salah satu tokoh sentral kedamaian di Tanah Iskandar Muda," ucap Rektor Unsyiah, Samsul Rizal, di Kampus Unsyiah, Banda Aceh, kemarin.
Samsul mengatakan dua alasan Wapres mendapat gelar itu. Pertama, JK yang menjabat wapres hadir saat pembicaraan damai yang berulang kali menemui jalan buntu akibat sikap keras pemimpin pihak yang berunding. Namun, akhirnya proses perdamaian membuahkan hasil berkat kegigihan JK.
Kedua, penanganan tanggap darurat bencana dan rekonstruksi pascabencana tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 yang dilakukan pemerintahan SBY-JK telah mengembalikan Provinsi Aceh dari keterpurukan.
"Alasan-alasan itulah yang membuatnya dianugerahi oleh Universitas Syah Kuala dalam bidang perdamaian dan kemanusiaan," jelas Samsul.
Ia menambahkan pemberian gelar doktor kehormatan itu telah sesuai dengan Permendikbud No 21 Tahun 2013 tentang Pemberian Gelar Doktor Kehormatan.
Menurut Samsul, pemberian gelar kehormatan bagi JK sebetulnya telah direncanakan tahun lalu. Jadwalnya telah di-susun pada 2014. Akan tetapi, Unsyiah mempertimbangkan efek politis lantaran konteks waktu yang bertepatan dengan pelaksanaan pemilihan presiden.
Dalam orasi ilmiahnya di acara penganugerahan gelar doktor itu, Wapres mengatakan pentingnya pemahaman atas akar utama dari konflik itu demi mendapat solusi tepat sebuah sengketa. Selain itu, dua pihak mesti mengedepankan keinginan hidup damai dan menumbuhkan rasa saling percaya.
"Membangun kepercayaan harus disusun berdasarkan pendekatan kemanusiaan, bukan formalitas politik, apalagi kekuasaan. Kunci kekuatan komunikasi langsung ini ialah kesediaan mendengar dan memahami sehingga selalu ada jalan keluar yang sebelumnya tidak terlihat," jelas JK.