ISU ancaman pemotongan tunjangan profesi guru di kalangan guru terus merebak selama penyelenggaraan Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015. Hingga hari ketiga kemarin, misalnya, para guru di sekitar Jakarta mengakui ancaman tersebut. Bahkan, disertai dengan ancaman rotasi dan mutasi guru.
Itu terungkap pada dialog pendidikan bertajuk Bincang-Bincang UKG yang digelar Badan Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud serta kepala sekolah dan guru se-Jakarta di Kantor Kemendikbud, Jakarta, kemarin (Rabu, 11/11/2015).
"Khusus guru di Jakarta, ada ancaman bahwa UKG bakal berpengaruh pada pemotongan tunjangan guru, ditambah adanya ancaman rotasi dan mutasi, makin genaplah pen-deritaan guru," ungkap Kepala SMPN 73 Jakarta Sukirman dalam dialog tersebut.
Menurut dia, kondisi seperti itu akan membuat stres guru meningkat, khususnya mereka yang belum kedapatan jadwal mengikuti UKG. "Namun, saya berharap para guru tetap bersabar menghadapi ancaman ini," tutupnya.
Kepala SMAN 6 Jakarta Abdullah Tiara mengutarakan teror sengaja dihembuskan oleh kalangan yang tidak jelas tujuannya. "Ini mesti kita waspadai," ujarnya.
Namun, dia mengingatkan para guru agar bisa mengambil sisi positif ancaman itu, yakni guru harus terus memacu untuk belajar dan serius mengikuti UKG agar meraih nilai yang baik.
"Jadi, biarkan saja mereka yang tidak jelas tujuannya mengancam guru. Kita para guru jangan kendur untuk belajar," ungkapnya.
Senada dengan itu, Kepala SMKN 30 Jakarta Estafita Siagian menyatakan, terlepas dari berbagai isu dalam penyelenggaraan UKG tahun ini, nilai UKG amat penting untuk mengukur kemampuan dan kompetensi guru.
"Jika ada yang deg-degan mengikuti UKG, wajar saja, tetapi itu harus kita ikuti untuk pemetaan guru kita," pungkas Estafita.
UKG offline Saat dimintai konfirmasi terkait persoalan itu, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Sumarna Surapranata membantahnya. Menurut dia, isu nyaring tentang hasil uji kompetensi guru nantinya bisa memengaruhi tunjangan profesi guru tidaklah benar.
"Berita itu sudah lama kami tepis, sebab UKG itu untuk memetakan dan memotret potensi guru kita," tuturnya.
Lebih lanjut, Sumarna menjelaskan, guru yang berprestasi dalam UKG akan diberikan insentif atau penghargaan untuk studi banding ke luar negeri.
"Contohnya Aris Munandar, guru di Cilacap, Jawa Tengah, yang berhasil meraih nilai 100 dalam UKG 2014, akan berangkat ke Belanda bulan ini."
Sebaliknya, bagi guru yang mendapatkan nilai rendah, pihaknya akan menyusun program treatment dengan pelatih-an khusus atau mandiri.
Adapun mengenai permintaan agar ada perlakuan khusus bagi guru-guru berusia sepuh pada UKG khususnya UKG online, kata Sumarna, mereka bisa disertakan dalam UKG offline atau diberi lembaran khusus dalam lembar jawaban khusus berupa kertas.
"Namun guru sepuh bersangkutan belum juga mengikuti UKG online dan offline, mereka tetap disertakan dalam UKG susulan pada 7-11 Desember 2015," ujarnya.(H-2)