Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Deteksi Bibit Kanker Payudara

Nik/H-1
11/11/2015 00:00
Deteksi Bibit Kanker Payudara
(THINKSTOCK)
KUNCI keberhasilan pengobatan kanker ialah terapi dini. Dengan terapi dini, selain bisa menghindari risiko kematian, payudara juga bisa dipertahankan tetap utuh. "Ada teknik operasi yang bisa mempertahankan keutuhan payudara, tapi itu berlaku untuk kanker stadium awal," ujar dokter spesialis bedah onkologi dari MRCCC Siloam Hospitals, Jakarta, Samuel J Haryono, pada temu media di rumah sakit tersebut, pekan lalu. Jadi, lanjutnya, yang terpenting ialah upaya menemukan kanker sejak dini, sebelum berkembang ke stadium lanjut. Untuk itu, pemeriksaan screening perlu dilakukan. Samuel menjelaskan ada beberapa jenis pemeriksaan untuk mengetahui bibit-bibit kanker payudara, antara lain USG payudara dan mamografi . Pemeriksaan itu sebaiknya dilakukan rutin oleh kaum perempuan berusia 40 tahun ke atas. "Sebagian besar kasus kanker payudara di Indonesia karena faktor hormonal. Munculnya rata-rata di usia 47-50 tahun," kata Samuel. Ia menggambarkan, dengan mamografi , tanda-tanda yang mengarah pada kanker payudara bisa dilihat. Bahkan sebelum timbul benjolan yang bisa teraba.

"Misalnya, klasifi kasi berkelompok dalam jaringan payudara yang merupakan tanda awal kanker bisa dilihat dengan mamografi . Saat itu, mungkin belum timbul benjolan." Selain itu, pemeriksaan genetik juga perlu dilakukan oleh perempuan yang memiliki faktor risiko secara genetik. Faktor risiko itu, antara lain memiliki ibu atau saudara kandung penderita kanker payudara, terlebih jika mereka terserang di usia 40 tahun ke bawah, atau memiliki saudara laki-laki yang menderita kanker payudara. "Secara statistik, kasus payudara pada laki-laki hanya 1, tapi angka kecil itu sangat bermakna karena menunjukkan faktor risiko yang bersifat genetik," terang Samuel.

Segera terapi
Pada kesempatan itu, Samuel juga mengingatkan agar kaum perempuan yang dicurigai menderita kanker payudara untuk tidak percaya pada mitos bahwa biopsi membuat sel-sel kanker menyebar. Mitos itu membuat masyarakat enggan menjalani biopsi, padahal pemeriksaan itu penting untuk menegakkan diagnosis kanker. "Biopsi dilakukan dengan mengambil jaringan yang dicurigai kanker untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium. Mitosnya, tindakan itu seperti 'membangunkan macan tidur', padahal biopsi itu aman," tegas Samuel. Lebih lanjut Samuel juga mengimbau agar mereka yang sudah didiagnosis menderita kanker payudara untuk segera menjalani terapi medis. Memang seseorang yang didiagnosis menderita kanker pasti mengalami kejatuhan mental. Namun, hendaknya hal itu tidak berlarut-larut.

"Sering kali, mereka harus melalui fase-fase cemas, depresi, denial (menolak kenyataan) sebelum mereka memasuki fase acceptance (penerimaan). Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat diperlukan agar mereka tidak disesatkan oleh informasi yang salah," kata Samuel mengingatkan. Informasi yang salah itu, misalnya, yang menggiring penderita untuk lebih memilih pengobatan alternatif daripada terapi medis. "Harus digarisbawahi, dalam terapi kanker tidak ada pengobatan alternatif. Kalau yang sifatnya pendukung boleh saja dilakukan, tapi terapi kanker ya harus dengan operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal, imunoterapi, tergantung dari kondisi kankernya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya