PAHLAWAN pada zaman dahulu rela berkorban mempertaruhkan nyawa mereka demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Pada masa kini, mereka-mereka yang ikut menghasilkan karya-karya positif bagi bangsa pun bisa disebut pahlawan.
Jasa para pahlawan muda inilah, menurut Baskara T Wardaya, salah satu pendiri Pusat Sejarah dan Etika Politik Sanata Dharma University Yogyakarta, perlu diapresiasi baik oleh pemerintah ataupun lembaga-lembaga swasta dan nirlaba.
"Menjelang atau setelah Hari Pahlawan misalnya, pemerintah bisa menganugerahkan penghargaan khusus bagi para pahlawan muda tersebut sehingga keteladanan mereka bisa diketahui secara luas dan menjadi inspirasi bagi yang lain," jelas Baskara ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin (Senin, 9/11/2015).
Penganugerahan gelar pahlawan nasional secara berkala oleh pemerintah, lanjut Baskara, perlu tetap dilakukan. Namun demikian, perlu ada pengkajian ulang terhadap pemberian gelar pahlawan nasional tersebut sehingga rutinitas tersebut tidak 'kehilangan makna'.
"Biar bagaimanapun para pemuda kita tetap membutuhkan teladan yang bisa dipakai sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, perlu diperhatikan jangan sampai rutinitas ini nantinya hanya sebatas seremonial saja. Jangan sampai bobot makna dari gelar pahlawan berkurang karena terlalu banyak dan mudahnya pemberian gelar semacam ini," ujar dia.
Lebih jauh, menurut Baskara, nama-nama yang diajukan menjadi pahlawan kerap tidak terasa 'gaungnya' hingga ke seluruh negeri. Banyak nama yang diajukan karena jasanya pada komunitas-komunitas atau daerah tertentu saja.
"Butuh puluhan tahun untuk mengangkat Bung Karno dan Bung Hatta sebagai pahlawan nasional. Padahal, mereka pahlawan proklamator, sedangkan nama-nama yang bahkan belum kita kenal di buku pelajaran sejarah, bisa digolongkan dengan mudah dianugerahi gelar pahlawan nasional. Ini kan ironis," tandasnya.
Pada bagian lain, Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa mengatakan pihaknya akan terus membangun sifat keteladanan tanpa pamrih para pahlawan kepada para pemuda dan profesionalis muda. Untuk itulah, lanjut Mensos, pihaknya sejak tahun lalu meluncurkan program rasa kepedulian Satu Orang Satu. Program itu nantinya akan kembali digaungkan pada acara Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional 2015.
"Format SOS yang saya harapkan terbangun pada profesionalisme adalah bagaimana mereka akan terus mengingat bahwa ada saudara-saudara mereka yang butuh uluran tangan. Untuk itulah mereka diharapkan turut mendedikasikan apa yang dimiliki untuk berbagi kepada seluruh bangsa ini," pinta Mensos di Surabaya, kemarin.
Sementara itu, terkait dengan pelaksanaan Hari Pahlawan ke-70 yang dipusatkan di Surabaya, hari ini, ia mengimbau agar masyarakat Indonesia melakukan hening cipta, berdoa, dan berdiam diri selama 60 detik pada pukul 08.15.
"Mari memaknai perjuangan para pahlawan. Menghargainya dengan mengheningkan cipta, mematikan mesin kendaraan, berhenti sejenak untuk 60 detik, merenungi jasa mereka untuk bangsa Indonesia, dan mendoakannya," imbau Khofifah.(Try/Deo/S-25)