Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Menjadi Pahlawan Masa Kini

Christian Dior
10/11/2015 00:00
Menjadi Pahlawan Masa Kini
(ANTARA/SEPTIANDA PERDANA)
PARA pahlawan tidak lagi hanya mereka yang gugur di medan tempur dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Dewasa ini, makna seorang pahlawan tidak lagi hanya terbatas pada itu. Seorang pahlawan ialah mereka yang berkorban jiwa dan raga demi mengisi kemerdekaan dengan karya-karya positif yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Musuh yang harus diperangi pun berganti rupa, tidak lagi penjajahan oleh bangsa lain. Menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, musuh bangsa Indonesia ialah segenap permasalahan bangsa yang harus dicari solusinya bersama. Beberapa di antaranya kemiskinan, kebodohan, dan narkotika.

"Formatnya beda saat ini. Musuh kita bukan lagi penjajahan, melainkan kebodohan, narkoba, kemiskinan, dan keterbelakangan. Yang intoleran kita ajak supaya moderat. Ketika mereka radikal kita bantu supaya menjadi nasionalis," ujar Khofifah saat ditemui di ruang kerjanya di Gedung Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta, belum lama ini.

Menurut Khofifah, ada dua musuh utama bangsa yang paling penting untuk diperangi saat ini, yakni kemiskinan dan narkotika. Pasalnya, jika tidak ditanggapi serius, dua permasalahan bangsa itu akan merusak gerak maju pembangunan dan moral generasi muda penerus bangsa.

"Orang miskin itu dekat dengan sakit dan kebodohan. Kalau dia sakit, otomatis dia tidak produktif dan jauh dari kesejahteraan. Sementara itu, narkotika merusak moral dan pikiran generasi muda. Kalau sudah rusak saraf-saraf otaknya, sulit untuk disembuhkan kembali. Karena itu, ayo perangi narkoba! Ayo perangi kemiskinan! Itu musuh kita yang baru."
 
Demi memaknai Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November, Khofifah mengingatkan pentingnya internalisasi nilai-nilai dan semangat kepahlawanan ke dalam diri generasi muda. Nilai-nilai kepahlawanan yang dimaksud antara lain sikap patriotik, berani, rela berkorban, jujur, dan pantang menyerah.

"Nilai-nilai itulah yang harus menginspirasi jiwa dan raga kita. Proses menginternalisasikan seluruh nilai-nilai kepahlawanan itu penting sekali dilakukan dan tidak boleh terhenti. Nilai-nilai itu harus jadi inspirasi dan referensi kehidupan berbangsa," ujar Mensos.

Khofifah mengatakan, seorang pahlawan tidak perlu dimaknai secara sempit sebagai seorang yang gugur di medan tempur. Para pahlawan saat ini ialah mereka yang bersedia mengorbankan waktu dan tenaga demi menolong orang-orang di sekitar tanpa pamrih.

"Misalnya, di NTT ada orang yang setiap hari menanam pohon supaya ada sumber air di daerahnya. Lalu ada dokter yang enggan dibayar sepeser pun. Kemudian guru-guru di daerah terpencil. Kita tinggal lihat ke sekeliling kita. Ada banyak nilai-nilai keteladanan yang bisa kita pelajari dari pahlawan-pahlawan seperti itu," ujarnya.

Lebih jauh, Khofifah mengapresiasi lembaga-lembaga dan institusi yang terus memberikan penghargaan bagi pahlawan-pahlawan semacam itu. Dengan menghargai jasa mereka, ia menilai, lembaga-lembaga dan institusi telah menyebarkan virus kebaikan yang kemudian bisa ditiru banyak orang.

Ikut berkontribusi

Senada, salah satu pendiri Pusat Sejarah dan Etika Politik Sanata Dharma University Yogyakarta, Baskara T Wardaya, mengatakan, definisi pahlawan tidak lagi hanya terbatas pada mereka yang berjuang pada masa revolusi fisik. Pasalnya, saat ini banyak pahlawan-pahlawan muda yang berjuang di berbagai bidang dan berkontribusi besar demi kemajuan bangsa.

"Ada komunitas-komunitas yang terus bergerak dan menghasilkan karya-karya positif bagi bangsa. Misalnya, mereka yang ikut program Indonesia Mengajar dan menjadi guru bagi anak-anak di daerah-daerah terpencil dan menjadi relawan. Secara luas, mereka juga bisa disebut sebagai pahlawan," ujar dia.

Lantas, bagaimana kaum muda menilai sosok pahlawan? Menurut Nur Ulfaini, 25, mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo Surabaya, pada zaman kini, siapa pun bisa menjadi pahlawan. "Ketika mereka melakukan kebaikan untuk sesama, mereka itulah pahlawan."

Hal senada dikatakan Dwita Ebo, 24. Seseorang bisa disebut pahlawan, kata Dwita, mahasiswi Ilmu Komunikasi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa Aws), ketika orang tersebut dapat menjadi inspirasi bagi orang-orang sekitarnya.

Hal itu diamini Via Irmar, 20, rekannya satu perguruan tinggi. Menurut mahasiswa semester V ilmu komunikasi itu, pahlawan merupakan sosok yang memperjuangkan sesuatu demi kepentingan bersama.
"Pahlawan dahulu ialah yang berjuang demi meraih kemerdekaan. Pahlawan sekarang ialah seseorang yang berjuang membantu dan menyelesaikan suatu permasalahan demi kepentingan bersama. Misalnya, masalah kemiskinan dan pendidikan," pungkasnya.(Try/S-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya