Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Waspada Child Grooming: Kenali Tahapan Manipulasi dan Target Pelaku Menurut IDAI

Basuki Eka Purnama
05/4/2026 15:15
Waspada Child Grooming: Kenali Tahapan Manipulasi dan Target Pelaku Menurut IDAI
Ilustrasi(Freepik)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan peringatan keras kepada orangtua mengenai ancaman child grooming yang kian marak, baik di dunia nyata maupun ruang digital. Upaya manipulasi psikologis ini bertujuan untuk melakukan eksploitasi seksual terhadap anak-anak dan remaja melalui pendekatan yang sangat sistematis.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, menjelaskan bahwa pelaku sering kali menggunakan identitas palsu atau menyamar sebagai orang lain di platform digital seperti media sosial, gim daring, hingga aplikasi perpesanan.

"Pelaku menggunakan identitas palsu seringnya, atau menyamar dengan foto dan identitas orang lain," ujar Ariani dalam sebuah seminar daring di Jakarta, dikutip Minggu (5/4).

Siapa yang Menjadi Incaran?

Ariani mengungkapkan bahwa pelaku cenderung memilih korban yang dianggap rentan secara emosional. Namun, ia menegaskan bahwa anak yang terlihat "baik-baik saja" pun tidak luput dari risiko, terutama remaja yang sedang berada dalam fase mencari aktualisasi diri.

Kategori Target Karakteristik Korban
Kelompok Berisiko Tinggi Anak yang merasa kesepian, kurang percaya diri, atau berasal dari keluarga kurang harmonis.
Kelompok Umum/Remaja Remaja yang haus akan pujian, ingin dihargai, dan merasa diistimewakan (fase aktualisasi diri).

Tahapan Aksi Pelaku Child Grooming

Kejahatan ini tidak terjadi secara instan. Menurut Ariani, terdapat tahapan terencana yang dilakukan pelaku untuk menjerat korbannya:

  1. Memilih Sasaran: Pelaku mengamati dan menentukan anak yang dinilai mudah dipengaruhi.
  2. Membangun Kepercayaan: Pelaku tidak hanya mendekati anak, tetapi juga berusaha mengambil hati orang tua agar diberikan izin untuk berinteraksi lebih jauh.
  3. Mengenalkan Rahasia: Anak mulai diajak memiliki "rahasia bersama" yang tidak boleh diketahui orang tua. Ini adalah langkah awal untuk membuat anak melanggar aturan keluarga.
  4. Memenuhi Kebutuhan (Fulfilling a Need): Pelaku membanjiri korban dengan perhatian, kasih sayang, hingga hadiah berdasarkan informasi yang telah mereka kumpulkan sebelumnya.
  5. Isolasi: Pelaku menanamkan doktrin bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang memahami korban, sehingga korban merasa bergantung sepenuhnya pada pelaku.
Catatan Penting: Di dunia nyata, pelaku child grooming biasanya berasal dari lingkungan terdekat anak. Sementara di dunia digital, mereka bisa memulai pendekatan secara daring sebelum akhirnya mengajak korban bertemu secara langsung.

Kesadaran orangtua terhadap perubahan perilaku anak dan pengawasan terhadap aktivitas digital menjadi kunci utama dalam mencegah terjadinya eksploitasi seksual melalui modus child grooming ini. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik