Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering pada semester kedua 2026 seiring fenomena El Nino lemah.
Direktorat Perubahan Iklim BMKG Fatchiyah mengatakan saat ini kondisi iklim global masih berada pada fase netral, baik untuk fenomena ENSO maupun Indian Ocean Dipole (IOD). Namun, kondisi tersebut diperkirakan akan berubah mulai pertengahan tahun.
“ENSO diprediksi masih berada pada kondisi netral hingga pertengahan 2026, kemudian akan bertransisi menuju El Nino lemah pada semester kedua,” ujar Fatchiyah, Senin (30/3).
Berdasarkan data hingga awal Maret 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat minus 0,07, sementara indeks IOD berada di angka minus 0,12. “Secara bulanan, baik ENSO maupun IOD masih berada pada fase netral,” katanya.
BMKG memproyeksikan potensi kemunculan El Nino mulai Mei hingga Juli 2026. Fenomena ini dikenal dapat mengurangi curah hujan di Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan.
Sejalan dengan itu, curah hujan diprediksi mulai menurun secara bertahap. Pada April hingga Mei, sebagian wilayah masih berada pada kondisi normal, meski wilayah Jawa serta Bali dan Nusa Tenggara cenderung lebih kering.
“Mulai Juni hingga September, curah hujan umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, dan musim kemarau akan mulai mendominasi,” kata Fatchiyah.
BMKG juga mencatat, pada awal Maret 2026, sejumlah wilayah telah mengalami curah hujan rendah, antara lain sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, serta Sulawesi bagian tengah hingga selatan.
“Kondisi ini akan meluas seiring masuknya musim kemarau secara bertahap mulai dari wilayah selatan Indonesia,” ujarnya.
Fatchiyah menegaskan, musim kemarau yang lebih kering berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, gangguan pertanian, hingga kebakaran hutan dan lahan.
“Informasi ini menjadi dasar bagi langkah mitigasi. Sektor pangan dapat menyesuaikan pola tanam, sementara sektor lain perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak musim kemarau,” katanya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk memanfaatkan informasi iklim sebagai sistem peringatan dini guna meminimalkan dampak yang ditimbulkan. (E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved