Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Menyelipkan Unsur Wayang

Abdillah Marzuqi
07/11/2015 00:00
Menyelipkan Unsur Wayang
(MI/RAMDANI)
SEBAGAI salah seorang sutradara teater terkenal, Nano Riantiarno sudah tak diragukan lagi kemampuannya. Bersama Teater Koma yang dipimpinnya, dia sudah menggelar ratusan pertunjukan dengan berbagai tema. Uniknya, hampir semua pentas yang dia gelar bersama teaternya dipenuhi penonton. Baru-baru ini, Nano bersama Teater Koma mementaskan lakon berjudul Inspektur Jenderal. Pentas itu dihelat 6-15 November 2015 di Gedung Kesenian Jakarta.

Pada hari pertama pementasan, penonton membeludak dan betah duduk di kursi mereka selama kurang lebih empat jam pertunjukan. Meski tema pertujukan kali ini merupakan hal yang biasa dan sering diangkat dalam pentas-pentas teater, yakni menyangkut korupsi, Nano dan Teater Koma mampu mengemasnya dengan apik sehingga tak membuat penonton bosan. Hebatnya lagi, kendati itu naskah saduran dari naskah klasik Rusia karya Nikolai Gogol berjudul Revizor, Nano mampu meraciknya dengan konsep wayang sehingga lebih membumi.

Kata Nano, melalui konsep wayang, ceritanya bisa memadukan unsur masa lalu hingga mendatang. "Kalau kita pakai konsep wayang, diharapkan semua hal bisa masuk dari yang ada dulu, kini, dan ke depan tetap bisa masuk," ujarnya saat di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (5/11). Pertunjukan itu menggabungkan kisah masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam banyak hal, seperti isu yang masih menjadi sorotan, yakni korupsi.

"Cerita ini kan tentang korupsi. Korupsi itu sebetulnya sebuah kenyataan yang orang perlu kita sadari kalau terjadi apa tidak. Korupsi kan sudah ada dari dulu, bahkan sebelum pelacuran, sudah ada korupsi," tuturnya. Nano juga mengaku puas dengan pertunjukannya kali ini. "Saya menonton pertunjukan tadi dari awal sampai akhir. Menurut saya, mereka bagus dan spontanitas mereka cukup bagus," ucapnya.

Inspektur Jenderal menceritakan seorang inspektur jenderal yang dikirim dari Ibu Kota Astinapura untuk menyelidiki kota kecil yang dipimpin Ananta Bura. Ananta Bura ialah wali kota di sebuah kota kecil yang terdapat banyak pejabat korupsi, mulai atasan hingga bawahan. Namun, tidak ada yang tahu apa yang diselidiki inspektur jenderal di kota kecil tersebut.

Peran riset
Tentang resepnya dalam setiap pementasan, pria kelahiran Cirebon, 6 Juni 1949, itu mengatakan pentingnya melakukan riset dan studi pustaka terhadap naskah yang akan dipilih. Kata dia, pentingnya melakukan riset bertujuan membantu memaksimalkan pendalaman karakter serta pengetahuan lain yang berkenaan dengan naskah yang akan ditampilkan.

"Banyak yang harus diriset dalam masa persiapan. Semuanya kita riset mulai penokohan, isu sosial pada masa itu, kecocokan dengan keadaan sekarang, hingga dengan keadaan pemerintah kita juga. Semuanya kita riset," jelasnya. Selain lewat internet, riset juga dilakukan dengan membaca sejumlah buku.

Sebab, kata Nano, buku memberikan pengetahuan lebih dalam. Proses riset yang dilakukan Teater Koma rata-rata menghabiskan waktu antara setengah bulan hingga sebulan sebelum menghafal naskah. "Biasanya sebelum memilih naskah apa yang akan ditampilkan, kita punya empat pilihan naskah. Kemudian, kita riset kecil-kecilan dulu, sebelum kita melakukan voting untuk memilih naskah pertunjukan. Setelah itu, kita melakukan riset mendalam," tuturnya.          



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya