Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH kabar yang menyebut adanya ancaman dari seorang jenderal Israel terhadap Indonesia terkait konflik Iran mendadak viral. Padahal, kabar tersebut merupakan berita bohong atau hoaks yang didaur ulang dan disebarkan diberbagai media.
Akademisi sekaligus analis hubungan internasional, Ulta Levenia, dalam akun Instagram-nya yang dikutip Kamis (5/3) malam, menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan hoaks yang sengaja dibuat. Hal itu diduga bertujuan untuk membuat kegaduhan dan mendiskreditkan pemerintah.
Ulta Levenia mengajak masyarakat agar meningkatkan literasi digital dan sikap kritis agar tidak mudah terjebak dalam arus propaganda dan disinformasi yang dapat memicu keresahan publik.
“Memang disinformasi dan propaganda saat ini sudah sangat berbahaya. Bahkan ada seorang profesor yang katanya sudah belajar di luar negeri, masih saja terjebak oleh ‘jebakan Batman’ disinformasi dan hoaks,” ujar Ulta.
Menurutnya, beberapa hari terakhir muncul narasi di media sosial yang menyebut seorang jenderal Israel bernama Jacob Ariel Ashabi mengancam Indonesia agar tidak ikut campur dalam konflik Iran. Jika tidak, Indonesia disebut-sebut akan diserang Israel.
Namun, setelah ditelusuri, tokoh yang disebut dalam narasi tersebut tidak pernah ada.
“Ini hoaks. Jenderal yang disebut sebagai Jacob Ariel Ashabi itu ternyata tidak ada di dunia ini. Nama yang sebenarnya adalah Aviv Kochavi, yang memang pernah menjabat di Israel Defense Forces,” jelasnya.
Ulta menilai foto seorang tokoh militer Israel digunakan secara manipulatif, lalu dipasangkan dengan narasi ancaman yang dramatis untuk menciptakan ketakutan dan keresahan di tengah masyarakat.
“Nah, fotonya ini diambil lalu dibuatlah judul sedemikian rupa dengan propaganda yang sangat mencekam agar masyarakat menjadi takut. Tujuannya membuat suasana menjadi tegang dan lebih jauh lagi untuk memengaruhi masyarakat Indonesia agar menekan pemerintah,” katanya.
Ia menilai tujuan penyebaran hoaks tersebut bukan sekadar mencari sensasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi opini publik agar menekan pemerintah Indonesia dalam menyikapi konflik internasional.
“Nah, banyak yang termakan hoaks ini. Bahkan mereka ikut mengamplifikasi pernyataan-pernyataan propaganda itu. Bahkan akademisi yang disebut tadi malah ikut membesar-besarkan,” ujarnya.
Ulta juga menyayangkan adanya sejumlah kalangan terdidik yang ikut menyebarkan narasi tersebut tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Menurutnya, kemungkinan adanya operasi intelijen dalam dinamika geopolitik global memang selalu ada. Namun, penyebaran hoaks seperti ini jelas merupakan tindakan yang disengaja oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Kalau misalnya agen Mossad atau agen intelijen memang ada di Indonesia, itu mungkin saja karena namanya juga operasi intelijen. Tapi kalau hoaks seperti ini, itu jelas kesengajaan karena sengaja dibuat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab agar kita panik,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, terlebih di era media sosial yang membuat informasi dapat viral dengan sangat cepat.
“Jadi, hentikan penyebaran hoaks ini segera,” pungkasnya.(H-2)
SEORANG komandan penghubung sipil senior Pasukan Pertahanan Israel berisiko ditahan di Italia karena gugatan hukum oleh Hind Rajab Foundation (HRF) yang berpusat di Belgia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved