Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, badai petir di sore hari yang terik sering kali muncul secara tiba-tiba tanpa lokasi yang pasti. Namun, ketidakpastian tersebut diprediksi akan segera berakhir. Sebuah studi terbaru mengungkapkan pola halus pada kelembapan tanah dan angin permukaan dapat menunjukkan di mana awan badai kemungkinan besar akan terbentuk.
Penelitian yang dipimpin UK Centre for Ecology & Hydrology (UKCEH) ini berfokus pada fase awal perkembangan badai. Di mana awan petir tumbuh pesat hanya dalam hitungan menit, sehingga menyisakan sedikit waktu bagi warga untuk bereaksi.
Pada sore hari yang panas, badai berkembang sangat cepat. Dibutuhkan kurang dari 30 menit bagi gumpalan awan pertama untuk berubah menjadi badai besar yang membawa hujan deras dan petir. Kecepatan inilah yang membuat peringatan dini sering kali terasa samar hingga detik-detik terakhir.
Namun, studi ini membantah bahwa pemicu badai bersifat acak. Para peneliti menemukan bahwa interaksi antara pola kelembapan tanah dan angin di lapisan atmosfer bawah berperan sebagai "kemudi" yang menyulut lokasi terjadinya badai.
Christopher Taylor, penulis utama dari UKCEH, menjelaskan atmosfer tidak hanya merespons panas dan kelembapan, tetapi juga perbedaan skala kecil di permukaan tanah.
"Badai terkadang muncul tiba-tiba, seolah-olah dari udara kosong. Penelitian kami menunjukkan bahwa di mana badai tersebut dipicu ternyata lebih dapat diprediksi daripada yang diperkirakan sebelumnya," ujar Taylor.
Tim peneliti menganalisis data satelit yang mencakup 2,2 juta badai dalam rentang waktu 21 tahun (2004-2024) di wilayah sub-Sahara Afrika. Skala penelitian yang masif ini memungkinkan sinyal-sinyal halus menjadi lebih mudah dikenali.
Temuan teknis yang krusial adalah saat pola kelembapan tanah sejajar dengan arah angin (wind shear), kemungkinan terjadinya badai yang meledak secara intens meningkat hingga 68%. Tanah yang kering memanas lebih cepat, sementara tanah yang basah tetap sejuk; kontras suhu inilah yang memicu udara naik dan membentuk awan.
Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa antara tahun 2010 hingga 2019, badai petir telah menyebabkan sekitar 30.000 kematian dan kerugian ekonomi sebesar US$500 miliar di seluruh dunia.
Cheikh Abdoulahat Diop dari badan meteorologi nasional Senegal menyatakan temuan ini sangat bermanfaat bagi wilayah padat penduduk dengan cakupan radar cuaca yang terbatas.
"Studi terbaru ini dapat memandu perbaikan sistem peringatan dini untuk banjir bandang, bahaya petir, dan angin kencang," kata Diop.
Langkah selanjutnya bagi para ahli adalah mengintegrasikan temuan ini ke dalam model prakiraan berbasis AI. Tujuannya adalah memberikan "prakiraan sekarang" (nowcasting) yang lebih akurat, yang mampu mempersempit lokasi spesifik kemunculan badai hingga enam jam sebelumnya. (Earth/Z-2)
Citra satelit menunjukkan Bumi lebih hijau sejak 1980-an, namun studi terbaru mengungkap paradoks penghijauan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved