Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI banyak pria, gangguan ereksi atau disfungsi ereksi (DE) seringkali dianggap sebagai beban mental dan ancaman bagi keharmonisan hubungan. Namun, bagi Dr. Jamin Brahmbhatt, seorang ahli urologi dan bedah robotik di Orlando Health, kondisi ini adalah sinyal peringatan dari tubuh yang jauh lebih serius: kesehatan jantung.
"Dokter, pasangan saya akan meninggalkan saya," ujar para pasien dengan nada khawatir saat berkonsultasi. Dr. Jamin biasanya menenangkan mereka, "Tenang, saya sudah mendengar ini ribuan kali. Mari kita mulai dengan beberapa pertanyaan."
Ketika DE terjadi pada pria muda yang tampak sehat, Dr. Jamin tidak hanya memeriksa area genital, tetapi langsung beralih memikirkan pembuluh darah dan jantung. Pasalnya, gangguan ereksi sering kali muncul satu hingga tiga tahun sebelum gejala penyakit jantung klasik, seperti nyeri dada (angina), menampakkan diri.
Asosiasi Jantung Amerika (AHA) dan Asosiasi Urologi Amerika menegaskan DE harus dianggap sebagai penanda risiko penyakit kardiovaskular. Alasannya sederhana, masalah jantung biasanya tidak dimulai di jantung, melainkan di pembuluh darah kecil di seluruh tubuh. Arteri yang kehilangan fleksibilitas, peradangan, dan penumpukan plak akibat kolesterol sering kali menunjukkan dampaknya pertama kali pada mekanisme ereksi yang sangat bergantung pada aliran darah.
Ereksi adalah proses kompleks yang melibatkan harmoni antara otak, saraf, pembuluh darah, dan otot. Ketika otak menerima stimulasi, sinyal dikirim ke saraf panggul yang kemudian memerintahkan arteri di penis untuk terbuka lebar. Darah yang mengalir deras mengisi bilik spons di dalam penis, menyebabkannya mengembang dan mengeras.
Jika pembuluh darah mulai kaku atau menyempit, proses pengisian darah ini terganggu. Itulah sebabnya DE sering menjadi tanda awal penyakit vaskular (gangguan pembuluh darah) sebelum organ lain terdampak.
Saat ini, akses pengobatan DE secara daring (online) semakin mudah. Meski membantu menurunkan rasa malu, Dr. Jamin mengingatkan obat-obatan tersebut hanyalah "solusi cepat" yang menutupi gejala, bukan menyembuhkan akar masalahnya.
"Pengobatan seharusnya menjadi pintu masuk menuju pencegahan, bukan pengganti pencegahan itu sendiri," tegasnya. Ia menyarankan pria untuk memeriksa tekanan darah, kolesterol, dan gula darah secara rutin jika mengalami perubahan kualitas ereksi.
Satu catatan keselamatan penting: obat DE dapat berinteraksi secara berbahaya dengan obat jantung tertentu, terutama nitrat (seperti nitrogliserin). Karena itu, keterbukaan dengan dokter sangatlah krusial.
Jika ereksi Anda berubah, jangan langsung panik, namun jangan pula diabaikan. Terkadang penyebabnya adalah stres, kurang tidur, atau masalah kesehatan mental. Namun, jika masalahnya berasal dari pembuluh darah, pembicaraan harus berlanjut di luar kamar tidur.
Tujuan mendapatkan perawatan bukan hanya untuk performa seksual yang lebih baik, melainkan untuk hidup yang lebih lama dan sehat. Pilihan kecil yang kita buat hari ini terkait pola makan dan gaya hidup akan menentukan kesehatan jantung kita di masa depan. (CNN/Z-2)
Penyakit jantung tak selalu ditandai nyeri dada hebat. Kenali 7 gejala tersembunyi seperti mual, mudah lelah, hingga batuk berkepanjangan agar bisa deteksi dini dan cegah risiko fatal.
Pegal leher, berat di tengkuk, dan nyeri dada bisa jadi tanda penumpukan LDL. Pemeriksaan kolesterol rutin penting bagi usia 40 tahun ke atas.
WHO mencatat penyakit jantung koroner atau ischaemic heart disease menempati urutan teratas penyebab kematian.
Sensasi deg-degan saat beristirahat, terutama jika disertai nyeri dada, bisa menjadi gejala penyakit jantung, khususnya aritmia.
Peneliti ungkap zat kimia PFAS atau "forever chemicals" mempercepat penuaan biologis pria usia 50-65 tahun.
Penelitian terbaru mengungkap kehilangan kromosom Y pada pria lanjut usia berkaitan dengan risiko penyakit jantung, kanker, hingga Alzheimer.
Peneliti UCLA temukan kaitan antara rasio lemak Omega-3 dan Omega-6 dengan kecepatan pembelahan sel kanker prostat.
Riset terbaru Johns Hopkins mengungkap peran testosterone dan estradiol terhadap risiko penyakit jantung pada pasien diabetes tipe 2.
Studi terbaru mengungkap hubungan mengejutkan antara buta warna dan risiko kematian kanker kandung kemih akibat keterlambatan deteksi gejala urine berdarah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved