Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Bukan Sekadar Hibernasi, Rahasia Mamalia 'Pengatur Suhu' dalam Bertahan Hidup

Thalatie K Yani
03/3/2026 09:00
Bukan Sekadar Hibernasi, Rahasia Mamalia 'Pengatur Suhu' dalam Bertahan Hidup
Ilustrasi Mamalia berhibernasi(Danielle Levesque)

PADA 1774, seorang dokter asal Inggris bernama Charles Blagden melakukan eksperimen ekstrem. Ia berdiam di dalam ruangan kecil bersuhu mencapai 93 derajat Celsius. Keajaibannya, suhu tubuh Blagden tetap stabil di angka 37 derajat Celsius. Kemampuan menjaga suhu tubuh konstan ini disebut homeotermi, ciri khas yang selama ini dianggap melekat pada semua mamalia dan burung.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan dunia mamalia jauh lebih "aneh" dari dugaan sebelumnya. Banyak spesies ternyata mempraktikkan heterotermi, sebuah kemampuan fleksibel untuk mengubah suhu tubuh mereka selama beberapa menit, jam, hingga berminggu-minggu demi bertahan hidup dari berbagai ancaman.

Melampaui Batas Hibernasi

Selama ini, bentuk heterotermi yang paling dikenal adalah hibernasi, di mana hewan tidur panjang saat musim dingin dengan metabolisme yang sangat lambat. Namun, ilmuwan kini melihat adanya spektrum yang lebih luas bernama torpor dangkal.

“Karena kita adalah homeoterm, kita berasumsi semua mamalia bekerja seperti kita,” ujar Danielle Levesque, pakar ekofisiologi mamalia dari University of Maine. Namun, dengan teknologi pelacak yang lebih canggih, para peneliti mulai menemukan banyak anomali di alam liar.

Strategi Menghadapi Cuaca Buruk

Kelelawar telinga panjang Australia, misalnya, menyesuaikan penggunaan torpor berdasarkan cuaca harian. Mari Aas Fjelldal, ahli biologi kelelawar, menemukan hewan ini masuk ke kondisi torpor tidak hanya saat dingin, tetapi juga saat angin kencang dan hujan. Kondisi ini masuk akal, mengingat terbang melawan badai membutuhkan energi besar bagi makhluk yang beratnya lebih ringan dari sebungkus kecil permen cokelat.

Bahkan, kelelawar berambut abu-abu yang sedang hamil dapat menggunakan torpor untuk memicu "jeda" pada kehamilan mereka saat badai musim semi melanda.

“Ini berarti mereka dapat, sampai taraf tertentu, memutuskan kapan akan melahirkan,” kata Fjelldal. Hal ini sangat menguntungkan agar proses menyusui yang menguras energi terjadi saat ketersediaan makanan sedang melimpah.

Menghindari Predator dan Hemat Air

Torpor juga digunakan sebagai perlengkapan keamanan. Hewan seperti edible dormouse (tikus asrama) kedapatan tidur sepanjang musim panas di lubang bawah tanah. Awalnya peneliti bingung, namun data menunjukkan bahwa awal musim panas adalah waktu paling aktif bagi burung hantu. Dengan tidur dalam kondisi torpor, tikus ini menghindari risiko menjadi santapan pemangsa.

Selain keamanan, fleksibilitas suhu juga membantu hewan menghemat air. Di Madagaskar, kelelawar hidung daun membiarkan suhu tubuhnya naik hingga 42,9 derajat Celsius saat cuaca panas menyengat. Strategi ini mencegah dehidrasi akibat pendinginan evaporatif (seperti berkeringat pada manusia) yang bisa dengan cepat menghabiskan cairan tubuh hewan kecil.

Fritz Geiser, ahli fisiologi dari University of New England di Australia, menyimpulkan bahwa mekanisme ini jauh lebih rumit dan menarik daripada suhu tubuh stabil. “Kemampuan ini membantu mereka menunggu bencana berlalu,” jelasnya.

Meskipun heterotermi memberikan perlindungan luar biasa terhadap variabilitas lingkungan, para ilmuwan memperingatkan bahwa kemampuan ini tetap memiliki batasan, terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang terjadi sangat cepat. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya