Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
NARABAHASA menggelar Gelar Wicara bertajuk “Cipta Karya dari Bahasa” untuk memperingati hari ulang tahun ke-6 sejak didirikan pada 7 Februari 2020. Acara ini bertujuan menggali bagaimana kekayaan intelektual dalam karya kebahasaan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin, serta menjaga nilai karya tersebut di tengah perkembangan Akal Imitasi (AI).
Acara ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif; Berto Tukan, Penulis di Komunitas Gudskul; dan Nenden Lilis Aisyah Akademisi dan Penulis.
Diskusi diawali dengan keresahan yang dilontarkan Direktur Narabahasa, Ivan Lanin, mengenai tren generasi sekarang yang tampak lebih menyukai konten visual daripada membaca buku.
Menanggapi hal tersebut, Irene Umar melihat fenomena ini dari sudut pandang yang lebih luas.
"Menurut aku iya and tidak. Kalau misalnya tidak ada orang yang baca buku lagi, maka toko buku yang lagi viral di Blok M itu tidak akan penuh terus. Dan penuhnya itu penuh dengan orang-orang yang baca buku," ungkap Irene.
Ia menegaskan bahwa perubahan media, baik itu menjadi audio maupun visual, bahasa tetap menjadi fondasi utamanya.
"Tapi yang paling penting adalah kontennya itu tetap berdasarkan bahasa. Kita mau menggunakan apapun juga, bahasa isyarat juga sebuah bahasa kan. Jadi bahasa adalah fondasi daripada sarana-sarana yang ada."
Lebih lanjut, Irene menekankan bahwa masalah minat baca sering kali bukan terletak pada kemauan pembaca, melainkan pada relevansi materi yang disajikan. Ia menceritakan pengalamannya saat mengunjungi penjara anak di Jakarta yang berisi buku-buku berat yang tidak sesuai dengan minat mereka. "(Mereka bilang) Ini anak-anak kita gak bener-bener baca. Jangan salahin anaknya, liat bukunya. Gak relevan kok. Kita ganti (komik) jadi rame. Jadi harus dimulai dengan sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang relevan," tuturnya.
Nenden Lilis Aisyah memberikan pandangan dari sisi akademisi mengenai AI. Menurutnya, kehadiran AI tidak bisa ditolak dan harus dipandang sebagai alat yang memudahkan manusia.
"Keberadaan AI itu tidak bisa ditolak dan justru bisa menjadi alat bantu yang memudahkan kemanusiaan," ujar Nenden.
Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan AI yang berlebihan melemahkan kemampuan berpikir atau kognisi manusia. "Kita tetap harus menjaga sisi kemanusiaan dimana secara kognisi juga kita tidak boleh dibiarkan terus melemah karena kegunaan AI terus menerus. Misalnya segala macem menyuruh AI. Oleh karena itu, AI tetap dijadikan sebagai alat bantu."
Berto Tukan juga membagikan pengalamannya di komunitas seni mengenai pentingnya bahasa tulisan di semua jenis karya, termasuk seni visual dan musik.
"Bagaimanapun juga dalam pengalaman kalau kita dari teman-teman di komunitas dari beragam latar itu, mau dan tak mau bahasa tulisan itu selalu digunakan dalam macam-macam karya. Contoh paling sederhana, sevisual-visualnya sebuah pameran seni visual, dia butuh katalog. Hanya suara dari konteks musik atau sound art, dia juga tetap butuh penjelasan-penjelasan tertulis," jelas Berto.
Ia juga menjelaskan bahwa penulis sering menjadi jembatan bagi seniman lain untuk mengungkapkan ide yang sulit dijelaskan. "Aku percaya sih bahasa tulisan itu, hampir di semua cabang karya itu butuh bahasa tulisan. Kadang-kadang (mereka yang di bidang tulis-menulis) berperan untuk menjadi jembatan antara kosa-kata musik, ketemunya dengan kosa-kata sendiri."
Menutup diskusi, Ivan Lanin pun turut memberikan pandangan bahwa kemampuan menuangkan ide ke dalam tulisan adalah sebuah tantangan besar tetapi penting.
"Kemampuan untuk bisa menuangkan sesuatu dengan khas dan efektif itu sangat kita perlukan," tutup Ivan. (Z-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved