Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMAMPUAN gurita mengubah warna dan bentuk tubuhnya kerap dianggap sebagai trik kamuflase semata untuk menghindari predator. Namun, riset biologi kelautan menunjukkan perubahan visual pada gurita memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks, melibatkan komunikasi, strategi berburu, hingga respons fisiologis terhadap lingkungan. Hewan bertentakel ini dikenal sebagai salah satu invertebrata paling cerdas di lautan.
Alasan pertama adalah kamuflase adaptif terhadap lingkungan. Gurita memiliki sel khusus bernama chromatophore, iridophore, dan leucophore yang memungkinkan mereka menyesuaikan warna, kecerahan, dan pola kulit dalam hitungan milidetik. Penelitian dari Marine Biological Laboratory menunjukkan gurita dapat meniru tekstur batu, pasir, hingga karang untuk menghindari pemangsa seperti hiu dan belut laut.
Kedua, perubahan warna digunakan sebagai alat komunikasi. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Biology mencatat gurita dapat menampilkan pola warna tertentu saat merasa terancam, agresif, atau saat berinteraksi dengan gurita lain. Pola garis gelap atau kontras tinggi sering muncul sebagai sinyal peringatan atau dominasi.
Alasan ketiga berkaitan dengan strategi berburu. Gurita diketahui mampu mengubah warna menjadi lebih terang atau gelap untuk mengecoh mangsa. Beberapa spesies bahkan meniru hewan laut lain yang beracun atau berbahaya, seperti ular laut atau ikan singa. Strategi mimikri ini membantu gurita mendekati mangsa tanpa memicu respons melarikan diri.
Keempat, perubahan bentuk tubuh membantu gurita menyesuaikan diri dengan ruang sempit. Gurita tidak memiliki tulang, sehingga dapat meratakan, memanjangkan, atau menggembungkan tubuhnya. Menurut riset dari Smithsonian National Museum of Natural History, kemampuan ini memungkinkan gurita masuk ke celah kecil untuk bersembunyi atau mencari makanan, sekaligus menghindari predator.
Alasan kelima adalah respons terhadap stres dan kondisi fisiologis. Warna kulit gurita dapat berubah ketika mengalami stres, luka, atau perubahan suhu air. Peneliti dari University of Chicago menemukan bahwa perubahan warna ini berkaitan dengan sistem saraf pusat gurita, yang mengontrol sel pigmen secara langsung tanpa melalui otak sepenuhnya.
Kemampuan luar biasa ini menjadikan gurita bukan hanya ahli bertahan hidup, tetapi juga contoh evolusi kompleks pada hewan laut. Perubahan warna dan bentuk tubuhnya mencerminkan kecerdasan, fleksibilitas, dan adaptasi tinggi terhadap lingkungan yang terus berubah. (Marine Biological Laboratory/Journal of Experimental Biology/Smithsonian National Museum of Natural History/University of Chicago Marine Research/Z-2)
Bagaimana nasib Bumi jika manusia punah? Profesor Tim Coulson dari Universitas Oxford menjelaskan kemungkinan munculnya spesies baru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved