Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Ilmuwan MIT Menguak Misteri Kesadaran Manusia dengan USG Otak

Thalatie K Yani
05/2/2026 11:31
Ilmuwan MIT Menguak Misteri Kesadaran Manusia dengan USG Otak
Ilustrasi(freepik)

HINGGA saat ini, para ilmuwan masih belum benar-benar memahami bagaimana aktivitas fisik di otak berubah menjadi pikiran, perasaan, dan kesadaran subjektif. Namun, sebuah alat revolusioner yang sedang dikembangkan oleh para peneliti di MIT berpotensi memecahkan teka-teki terbesar dalam sejarah sains tersebut.

Teknologi ini dikenal sebagai transcranial focused ultrasound (ultrasound terfokus transkranial). Melalui metode non-invasif (tanpa operasi), teknologi ini mampu menstimulasi wilayah otak bagian dalam yang sebelumnya mustahil dijangkau tanpa prosedur bedah saraf.

Melampaui Sekadar Observasi

Dalam makalah "peta jalan" (roadmap) terbaru yang diterbitkan di jurnal Neuroscience and Biobehavioral Reviews, tim peneliti menjelaskan metode ini memungkinkan ilmuwan untuk menguji hubungan sebab-akibat dalam riset kesadaran, bukan sekadar melihat korelasi.

Selama ini, alat seperti MRI atau EEG hanya bisa mengamati aktivitas otak saat seseorang berpikir atau merasakan sesuatu. Namun, ultrasound terfokus bekerja secara aktif dengan mengirimkan gelombang akustik menembus tengkorak dan memusatkannya pada target presisi yang terkadang hanya selebar beberapa milimeter.

Daniel Freeman, peneliti MIT dan salah satu penulis makalah tersebut, menekankan pentingnya akses ke bagian otak terdalam secara aman.

"Ultrasound terfokus transkranial akan memungkinkan Anda menstimulasi berbagai bagian otak pada subjek yang sehat dengan cara yang tidak bisa dilakukan sebelumnya," kata Freeman. "Ini dapat menyelidiki di mana sirkuit saraf yang menghasilkan rasa sakit, penglihatan, atau bahkan sesuatu yang kompleks seperti pemikiran manusia berada."

Menguji Teori Kesadaran

Riset ini bertujuan untuk menguji dua teori besar tentang kesadaran. Pertama, pendekatan kognitivis yang meyakini kesadaran berasal dari proses mental tingkat tinggi di korteks frontal. Kedua, pendekatan non-kognitivis yang menduga kesadaran muncul dari aktivitas lokal di bagian belakang korteks atau struktur subkortikal yang lebih dalam.

Matthias Michel, filosof MIT yang mempelajari kesadaran, menyatakan bahwa teknologi ini adalah solusi untuk membedakan mana proses saraf yang memang esensial bagi kesadaran dan mana yang hanya efek sekunder.

"Ada sangat sedikit cara yang andal untuk memanipulasi aktivitas otak yang aman tetapi juga efektif," ujar Michel.

Dari Penglihatan hingga Rasa Sakit

Eksperimen yang direncanakan oleh tim MIT akan dimulai dengan stimulasi pada korteks visual sebelum berlanjut ke area yang lebih tinggi di korteks frontal. Selain penglihatan, rasa sakit menjadi fokus utama. Ilmuwan ingin mengetahui apakah rasa sakit benar-benar dihasilkan di korteks atau justru di struktur otak yang lebih dalam.

Meskipun masih merupakan teknologi baru, para peneliti melihat potensi besar. "Ini adalah alat baru, jadi kita belum benar-benar tahu sejauh mana ia akan berhasil," tambah Michel. "Tapi saya merasa risikonya rendah dan imbalannya tinggi. Mengapa kita tidak menempuh jalan ini?"

Penelitian ini didukung oleh Departemen Angkatan Udara AS dan diharapkan menjadi batu loncatan bagi terapi medis di masa depan sekaligus jawaban atas pertanyaan mendasar: apa yang membuat kita menjadi makhluk yang sadar? (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik