Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
DI pedalaman Mozambik, terjalin sebuah kolaborasi langka antara manusia dan alam yang telah berlangsung selama berabad-abad. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal People and Nature mengungkapkan para pemburu madu dari suku Yao memiliki cara unik untuk berkomunikasi dengan burung Greater honeyguide (Indicator indicator). Menariknya, komunikasi ini melibatkan dialek-dialek khusus yang berbeda di setiap wilayah.
Interaksi ini merupakan salah satu dari sedikit contoh kerja sama aktif antara manusia dan satwa liar di dunia. Burung honeyguide, sesuai namanya, bertugas memandu manusia menuju sarang lebah madu. Sebagai imbalan, manusia akan membongkar sarang tersebut, sementara burung mendapatkan akses ke lilin lebah dan larva tanpa perlu takut disengat hingga mati oleh lebah.
Tim peneliti internasional yang dipimpin Jessica van der Wal, seorang ahli ekologi perilaku dari University of Cape Town, merekam panggilan dari 131 pemburu madu di 13 desa di Cagar Khusus Niassa, Mozambik Utara. Mereka menemukan suara berupa getaran (trill), geraman, teriakan, hingga siulan bervariasi tergantung pada jarak antar-desa.
Uniknya, variasi ini bukan disebabkan perbedaan habitat, melainkan budaya lokal. Para pemburu madu yang pindah ke desa baru ditemukan segera mengadopsi dialek lokal untuk memanggil burung di sana.
"Ini seperti perbedaan pengucapan. Ada satu bahasa yang mereka gunakan dengan burung-burung tersebut, tetapi terdapat dialek yang berbeda-beda," ujar Jessica van der Wal kepada Live Science.
Penelitian ini menyoroti betapa kuatnya pengaruh budaya manusia, bahkan dalam cara kita berkomunikasi dengan hewan liar yang tidak terlatih. Para ahli menduga bahwa burung-burung ini juga berperan dalam menjaga konsistensi dialek tersebut. Dengan hanya merespons panggilan lokal yang sudah mereka kenal, burung-burung secara tidak langsung "memaksa" manusia untuk tetap menggunakan dialek wilayah tersebut.
Philipp Heeb, peneliti senior dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS), menjelaskan tekanan seleksi dari burung-burung ini membantu stabilitas dialek manusia.
"Begitu burung honeyguide belajar untuk lebih merespons sinyal lokal, secara timbal balik preferensi ini akan memperkuat konsistensi lokal dalam sinyal manusia," jelas Heeb.
Hal yang paling menarik adalah burung honeyguide tidak mempelajari perilaku ini dari induknya. Burung ini adalah parasit sarang, yang berarti mereka meletakkan telur di sarang burung lain.
"Kami menduga bahwa burung honeyguide belajar dari burung honeyguide lainnya yang berinteraksi dengan manusia," tambah van der Wal.
Saat ini, penelitian lebih lanjut sedang dilakukan melalui Pan-African Honeyguide Research Network untuk mendokumentasikan bagaimana variasi budaya manusia dan perilaku burung ini saling memengaruhi di berbagai negara di Afrika. (Live Science/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved