Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM komunikasi sehari-hari maupun penulisan formal, kita sering menggunakan kata artinya untuk menjelaskan maksud, definisi, atau konsekuensi dari suatu hal. Secara etimologi, kata ini berasal dari kata dasar "arti" yang mendapatkan akhiran "-nya".
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti didefinisikan sebagai maksud yang terkandung dalam perkataan atau kalimat. Oleh karena itu, memahami sebuah kata bukan sekadar mengetahui terjemahannya, melainkan menangkap esensi pesan yang ingin disampaikan oleh penutur atau penulis.
Penggunaan kata ini menjadi jembatan krusial dalam literasi. Ketika seseorang bertanya "apa artinya?", mereka sedang mencari kejelasan semantik. Dalam linguistik, studi mengenai makna disebut sebagai semantik. Cabang ilmu ini mempelajari hubungan antara penanda (kata/simbol) dengan petanda (konsep/objek). Tanpa pemahaman yang tepat mengenai makna, miskonsepsi dan kegagalan komunikasi akan sangat mudah terjadi, terutama di era informasi digital yang serba cepat ini.
Untuk memahami konsep "artinya" secara menyeluruh, kita perlu membedah jenis-jenis makna yang ada dalam Bahasa Indonesia. Sebuah kata bisa memiliki makna yang berbeda tergantung pada klasifikasinya.
Makna denotatif sering disebut sebagai makna sebenarnya atau makna lugas. Ini adalah definisi objektif yang tercantum dalam kamus tanpa ada embel-embel perasaan atau nilai rasa tertentu. Ketika kita bicara soal data dan fakta jurnalistik, penggunaan makna denotatif adalah kewajiban.
Sebaliknya, makna konotatif adalah makna kiasan atau makna tambahan yang timbul karena adanya nilai rasa, baik positif maupun negatif. Makna ini bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh budaya serta pengalaman sosial. Dalam karya sastra atau opini, makna konotatif sering digunakan untuk memperindah bahasa atau mempertajam kritik.
Makna leksikal adalah makna kata secara lepas, sesuai dengan kamus (leksikon). Sedangkan makna gramatikal adalah makna yang muncul akibat proses tata bahasa, seperti pengimbuhan (afiksasi), pengulangan (reduplikasi), atau pemajemukan.
Sebagai ilustrasi, kata "kuda" memiliki makna leksikal binatang menyusui berkuku satu. Namun, ketika mengalami proses gramatikal menjadi "berkuda", artinya berubah menjadi melakukan kegiatan menunggang kuda.
Satu hal yang sering dilupakan banyak orang adalah bahwa makna tidak berdiri sendiri di ruang hampa. Kata artinya sangat bergantung pada konteks kalimat dan situasi (pragmatik). Sebuah kata yang sama bisa memiliki arti yang bertolak belakang jika diucapkan dalam situasi yang berbeda.
Perhatikan contoh kata "bisa". Dalam kalimat "Ular itu memiliki bisa yang mematikan", kata tersebut merujuk pada zat racun. Namun, dalam kalimat "Dia bisa menyelesaikan pekerjaan itu", kata tersebut bermakna mampu atau sanggup. Inilah yang disebut sebagai homonim. Oleh karena itu, kemampuan literasi seseorang tidak hanya diukur dari seberapa banyak kosakata yang ia hafal, tetapi seberapa jeli ia melihat konteks penggunaan kata tersebut.
Di era digital saat ini, mesin pencari sering kali dibanjiri dengan kueri yang diakhiri dengan kata "artinya". Fenomena ini menunjukkan tingginya rasa ingin tahu masyarakat terhadap istilah-istilah baru.
Memahami kata artinya adalah kunci untuk membuka gerbang pengetahuan. Bahasa adalah alat yang dinamis; ia tumbuh dan berkembang seiring peradaban manusia. Dengan memahami perbedaan antara makna denotatif, konotatif, serta peran krusial konteks, kita dapat berkomunikasi dengan lebih efektif, presisi, dan menghindari kesalahpahaman. Sebagai pembaca yang cerdas, biasakanlah untuk tidak menelan informasi mentah-mentah, melainkan selalu menelaah apa makna tersirat dan tersurat di balik sebuah teks. (Z-4)
Pelajari 95 kata denotasi dan konotasi lengkap dengan contoh kalimat. Pahami makna asli & emosional untuk komunikasi efektif!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved