Kumpulan Contoh Kalimat Denotatif, Ciri, dan Bedanya dengan Konotatif
Reynaldi Andrian Pamungkas
13/1/2026 23:50
Berikut contoh kalimat denotatif(freepik)
DALAM mempelajari Bahasa Indonesia, memahami ragam makna kata adalah fondasi utama untuk komunikasi yang efektif, terutama dalam penulisan karya ilmiah atau jurnalistik. Salah satu konsep dasar yang wajib dikuasai adalah makna denotasi. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai pengertian, karakteristik, serta berbagai contoh kalimat denotatif yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari maupun teks akademik.
Pengertian Makna Denotatif
Secara sederhana, makna denotatif adalah makna yang sebenarnya. Ini adalah arti kata yang sesuai dengan apa yang tertulis dalam kamus (seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI) tanpa ada tafsiran, kiasan, atau penambahan rasa subjektif. Makna ini sering disebut juga sebagai makna lugas, makna harfiah, atau makna konseptual.
Dalam dunia jurnalistik dan penulisan ilmiah, penggunaan kalimat denotatif sangat diutamakan. Hal ini bertujuan untuk menghindari ambiguitas atau kesalahpahaman pembaca. Sebuah kalimat denotatif menyajikan fakta secara objektif, menunjuk langsung pada acuan atau benda yang dimaksud tanpa tendensi emosional tertentu.
Agar lebih mudah mengidentifikasi apakah sebuah kalimat mengandung makna denotatif atau tidak, Anda dapat memperhatikan karakteristik berikut ini:
Makna Apa Adanya: Kata yang digunakan merujuk pada definisi dasar. Misalnya, kata 'kursi' benar-benar merujuk pada benda untuk duduk, bukan jabatan atau kekuasaan.
Objektif dan Faktual: Kalimat bersifat informatif dan berdasarkan fakta yang dapat diamati oleh indra.
Tidak Bermakna Ganda: Tafsirannya tunggal dan universal. Siapa pun yang membacanya akan memiliki pemahaman yang sama.
Sering Digunakan dalam Teks Ilmiah: Laporan penelitian, berita hard news, dan buku pelajaran hampir seluruhnya menggunakan ragam bahasa ini.
Untuk memahami denotatif secara utuh, kita harus membandingkannya dengan lawannya, yaitu konotatif. Jika denotatif adalah makna sebenarnya, maka konotatif adalah makna kiasan atau makna tambahan yang mengandung nilai rasa.
Perhatikan perbandingan berikut untuk memperjelas:
Kalimat-kalimat ini menggambarkan kegiatan fisik yang nyata.
Adik sedang makan nasi goreng di ruang makan.
Ibu menyapu lantai yang kotor karena tumpahan tanah.
Ayah sedang memperbaiki kursi kayu yang patah kakinya.
Ani menggigit jari telunjuknya karena tertusuk jarum. (Bukan bermakna kecewa, tapi benar-benar menggigit jari).
Air mendidih pada suhu 100 derajat Celcius di tekanan atmosfer standar.
Mobil itu mogok karena kehabisan bensin di tengah jalan tol.
Petani itu menanam padi di sawah saat musim hujan tiba.
Rudi jatuh dari sepeda dan lututnya terluka.
4. Contoh Kalimat Denotatif dengan Kata Sifat
Kata sifat dalam makna denotatif menggambarkan kondisi fisik yang terukur.
Gedung pencakar langit itu sangat tinggi menjulang ke awan.
Kopi yang disajikan pelayan itu rasanya sangat pahit karena tanpa gula. (Pahit rasa lidah, bukan pahit kehidupan).
Ruangan ini terasa panas karena pendingin udaranya rusak.
Beban yang diangkat oleh atlet itu sangat berat.
Air laut rasanya asin karena kandungan garam yang tinggi.
Meja ini permukaannya kasar dan belum diamplas.
Pentingnya Menggunakan Kalimat Denotatif
Mengapa kita harus cermat menggunakan kalimat denotatif? Dalam penulisan berita di media massa seperti Media Indonesia, objektivitas adalah harga mati. Penggunaan kata yang bermakna ganda atau kiasan yang berlebihan dapat mengaburkan fakta. Begitu pula dalam dunia akademik, skripsi, tesis, dan disertasi mewajibkan penggunaan bahasa baku dengan makna denotatif untuk menjaga keilmiahan data.
Dengan memahami contoh kalimat denotatif di atas, diharapkan Anda dapat lebih cermat dalam memilah kata (diksi) sesuai dengan konteks tulisan atau pembicaraan. Kemampuan membedakan antara fakta lugas (denotasi) dan opini atau kiasan (konotasi) adalah ciri dari kemampuan literasi yang baik. (Z-4)