Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM khazanah keilmuan Islam dan linguistik Arab, nahwu shorof memegang peranan yang sangat vital. Sering disebut sebagai "ilmu alat", kedua disiplin ilmu ini adalah kunci utama bagi siapa saja yang ingin memahami Bahasa Arab secara mendalam, serta merupakan syarat mutlak untuk menafsirkan dan memahami kandungan Al-Qur'an dan Hadis dengan benar.
Tanpa penguasaan yang mumpuni terhadap nahwu dan shorof, seseorang akan kesulitan menentukan makna yang tepat dari sebuah teks Arab, mengingat Bahasa Arab memiliki kompleksitas struktur dan derivasi kata yang unik dibandingkan bahasa lainnya.
Secara sederhana, para ulama sering mengibaratkan bahwa "Shorof adalah ibunya ilmu, dan Nahwu adalah bapaknya." Ungkapan ini menegaskan bahwa kedua ilmu ini tidak dapat dipisahkan. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu nahwu shorof, perbedaan mendasar keduanya, serta contoh penerapannya dalam kalimat.
Ilmu Nahwu adalah cabang ilmu bahasa Arab yang membahas tentang keadaan akhir dari suatu kata (kalimah) ketika masuk ke dalam susunan kalimat (jumlah). Fokus utama ilmu nahwu adalah menentukan perubahan harakat akhir kata, apakah ia harus dibaca rafa' (biasanya dhommah), nashob (fathah), jar (kasrah), atau jazm (sukun).
Perubahan harakat akhir ini sangat krusial karena menentukan posisi atau jabatan kata dalam kalimat, seperti apakah kata tersebut berfungsi sebagai subjek (fa'il), objek (maf'ul bih), atau keterangan. Kesalahan dalam menentukan harakat akhir dapat berakibat fatal pada perubahan makna kalimat.
Berbeda dengan nahwu yang mengurus ujung kata, Ilmu Shorof (morfologi) adalah ilmu yang membahas tentang perubahan bentuk kata dari satu bentuk ke bentuk lainnya untuk menghasilkan makna yang berbeda-beda. Dalam istilah pesantren, ini sering dikenal dengan tashrif.
Shorof mempelajari bagaimana sebuah kata dasar (akar kata) diubah menjadi kata kerja lampau (fi'il madhi), kata kerja sekarang/akan datang (fi'il mudhari'), kata perintah (fi'il amr), nama pelaku (isim fa'il), nama objek (isim maf'ul), dan lain sebagainya. Tanpa shorof, kita tidak akan bisa membedakan antara "memukul", "dipukul", "pemukul", dan "alat pukul".
Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah poin-poin perbedaan utama antara kedua disiplin ilmu ini:
Agar lebih jelas, mari kita lihat contoh penerapannya dalam sebuah kata dan kalimat. Kita ambil contoh akar kata "K-T-B" (Menulis).
Dari akar kata tersebut, dengan ilmu shorof kita bisa membentuk berbagai kata:
كَتَبَ - يَكْتُبُ - كَاتِبٌ - مَكْتُوْبٌ
Artinya:
Sekarang perhatikan bagaimana harakat akhir kata "Zaid" berubah tergantung posisinya dalam kalimat berikut:
جَاءَ زَيْدٌ
Jaa'a Zaidun (Zaid telah datang). Di sini Zaid berharakat dhommah karena menjadi Subjek (Fa'il).
رَأَيْتُ زَيْدًا
Ra'aitu Zaidan (Aku melihat Zaid). Di sini Zaid berharakat fathah karena menjadi Objek (Maf'ul Bih).
Penguasaan nahwu shorof adalah syarat mutlak untuk mentadabburi Al-Qur'an. Kesalahan kecil dalam membaca harakat dapat membelokkan aqidah atau hukum. Sebagai contoh, mari kita lihat salah satu ayat dalam Surat Al-Fatihah yang sering kita baca:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan."
Secara ilmu nahwu, mendahulukan objek (Iyyaka) sebelum kata kerja (Na'budu) memberikan makna hasr atau pembatasan (hanya). Jika susunannya dibalik menjadi standar Na'buduka (Kami menyembah-Mu), maka makna "hanya" akan hilang, dan bisa berimplikasi bahwa kita menyembah Allah tetapi mungkin juga menyembah yang lain. Inilah keindahan dan ketelitian bahasa Al-Qur'an yang hanya bisa disingkap dengan ilmu nahwu.
Begitu juga dalam Surat Al-Baqarah, banyak hukum-hukum syariat yang pengambilan dalilnya sangat bergantung pada struktur kalimat dan perubahan kata.
Bagi Anda yang ingin memulai belajar, berikut adalah beberapa tips agar tidak merasa kewalahan:
Mempelajari nahwu shorof memang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Namun, hasil yang didapatkan akan sangat sepadan, yakni terbukanya gerbang pemahaman terhadap literatur Islam yang sangat luas dan kedalaman makna Al-Qur'an. (Z-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved