Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam mempelajari Bahasa Indonesia, khususnya pada cabang ilmu semantik, pemahaman mengenai perbedaan makna konotatif dan denotatif merupakan hal yang sangat fundamental. Kedua jenis makna ini sering kali membingungkan bagi sebagian orang, padahal penggunaannya sangat krusial dalam menentukan konteks komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pemilihan kata yang tepat berdasarkan jenis maknanya akan menentukan apakah sebuah pesan disampaikan secara objektif atau menyiratkan perasaan tertentu.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu makna denotatif dan konotatif, perbedaan mendasar di antara keduanya, serta memberikan deretan contoh komprehensif agar Anda dapat memahaminya secara mendalam.
Makna denotatif sering disebut sebagai makna yang sebenarnya, makna lugas, atau makna harfiah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), denotasi didefinisikan sebagai makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif.
Secara sederhana, makna denotatif adalah arti kata yang sesuai dengan apa yang kita temukan di dalam kamus tanpa ada tafsiran tambahan, emosi, atau nilai rasa tertentu. Makna ini bersifat universal bagi penutur bahasa tersebut dan sering digunakan dalam teks-teks ilmiah, berita jurnalistik faktual, dan laporan teknis yang mengutamakan objektivitas.
Berbeda dengan denotatif, makna konotatif adalah makna kiasan atau makna tambahan yang menyertai makna dasar. Makna ini muncul karena adanya nilai rasa, emosi, atau asosiasi tertentu yang diberikan oleh pengguna bahasa terhadap suatu kata. Oleh karena itu, makna konotatif sering disebut sebagai makna subjektif.
Makna konotatif dan denotatif memiliki batasan yang jelas di mana konotasi sangat bergantung pada konteks kalimat, budaya, dan pengalaman sosial masyarakat. Sebuah kata bisa memiliki makna denotatif yang sama, namun memiliki makna konotatif yang berbeda tergantung pada siapa yang mengucapkannya dan dalam situasi apa kata tersebut digunakan.
Dalam penggunaannya, makna konotatif terbagi menjadi dua golongan besar berdasarkan nilai rasanya, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif.
Konotasi positif adalah makna kiasan yang mengandung nilai rasa yang baik, sopan, menyenangkan, atau lebih tinggi derajatnya. Contohnya, penggunaan kata "wafat" untuk menyebut seseorang yang meninggal dunia dianggap lebih sopan dan menghormati dibandingkan kata "mati".
Konotasi negatif adalah makna kiasan yang mengandung nilai rasa yang buruk, kasar, tidak menyenangkan, atau merendahkan. Contohnya, kata "gerombolan" memiliki rasa yang lebih negatif dan sering diasosiasikan dengan kriminalitas dibandingkan kata "kelompok" atau "rombongan".
Untuk memudahkan Anda membedakan kedua jenis makna ini, perhatikan poin-poin perbandingan berikut:
Berikut adalah tabelisasi dalam bentuk deskriptif untuk melihat bagaimana satu kata yang sama dapat memiliki makna konotatif dan denotatif yang berbeda saat dimasukkan ke dalam kalimat.
Memahami perbedaan antara makna konotatif dan denotatif sangat penting bagi penulis, jurnalis, maupun pembicara publik. Kesalahan dalam memilih kata dapat menyebabkan ambiguitas atau bahkan ketersinggungan. Dalam penulisan berita, wartawan dituntut menggunakan bahasa denotatif agar informasi yang disampaikan akurat dan tidak memihak. Sebaliknya, dalam penulisan opini atau sastra, kekayaan makna konotatif justru menjadi kekuatan untuk menyentuh perasaan pembaca.
Dengan memahami nuansa makna ini, kita dapat berkomunikasi dengan lebih efektif, tepat sasaran, dan meminimalisir kesalahpahaman dalam interaksi sosial sehari-hari.
Pelajari 95 kata denotasi dan konotasi lengkap dengan contoh kalimat. Pahami makna asli & emosional untuk komunikasi efektif!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved