Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Perbedaan Makna Konotatif dan Denotatif: Pengertian, Ciri, dan Contoh Lengkap

Thalatie K Yani
13/1/2026 13:29
Perbedaan Makna Konotatif dan Denotatif: Pengertian, Ciri, dan Contoh Lengkap
Ilustrasi(gemini AI)

Dalam mempelajari Bahasa Indonesia, khususnya pada cabang ilmu semantik, pemahaman mengenai perbedaan makna konotatif dan denotatif merupakan hal yang sangat fundamental. Kedua jenis makna ini sering kali membingungkan bagi sebagian orang, padahal penggunaannya sangat krusial dalam menentukan konteks komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pemilihan kata yang tepat berdasarkan jenis maknanya akan menentukan apakah sebuah pesan disampaikan secara objektif atau menyiratkan perasaan tertentu.

Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu makna denotatif dan konotatif, perbedaan mendasar di antara keduanya, serta memberikan deretan contoh komprehensif agar Anda dapat memahaminya secara mendalam.

Pengertian Makna Denotatif

Makna denotatif sering disebut sebagai makna yang sebenarnya, makna lugas, atau makna harfiah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), denotasi didefinisikan sebagai makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif.

Secara sederhana, makna denotatif adalah arti kata yang sesuai dengan apa yang kita temukan di dalam kamus tanpa ada tafsiran tambahan, emosi, atau nilai rasa tertentu. Makna ini bersifat universal bagi penutur bahasa tersebut dan sering digunakan dalam teks-teks ilmiah, berita jurnalistik faktual, dan laporan teknis yang mengutamakan objektivitas.

Ciri-Ciri Makna Denotatif:

  • Bersifat Objektif: Makna tidak dipengaruhi oleh perasaan atau pandangan pribadi penutur.
  • Makna Dasar: Merupakan arti asli atau literal dari sebuah kata.
  • Sesuai Hasil Observasi: Makna ini merujuk pada apa yang dapat ditangkap oleh pancaindra secara langsung.
  • Tidak Bermakna Ganda: Cenderung spesifik dan menunjuk pada satu pengertian yang pasti.

Pengertian Makna Konotatif

Berbeda dengan denotatif, makna konotatif adalah makna kiasan atau makna tambahan yang menyertai makna dasar. Makna ini muncul karena adanya nilai rasa, emosi, atau asosiasi tertentu yang diberikan oleh pengguna bahasa terhadap suatu kata. Oleh karena itu, makna konotatif sering disebut sebagai makna subjektif.

Makna konotatif dan denotatif memiliki batasan yang jelas di mana konotasi sangat bergantung pada konteks kalimat, budaya, dan pengalaman sosial masyarakat. Sebuah kata bisa memiliki makna denotatif yang sama, namun memiliki makna konotatif yang berbeda tergantung pada siapa yang mengucapkannya dan dalam situasi apa kata tersebut digunakan.

Ciri-Ciri Makna Konotatif:

  • Bersifat Subjektif: Mengandung nilai rasa (baik positif maupun negatif).
  • Makna Kiasan: Tidak merujuk pada arti harfiah kata tersebut.
  • Dipengaruhi Konteks: Makna dapat berubah sesuai dengan situasi sosial, budaya, dan waktu.
  • Imajintaif: Sering digunakan dalam karya sastra seperti puisi, cerpen, dan pantun untuk memperindah bahasa.

Jenis-Jenis Makna Konotatif

Dalam penggunaannya, makna konotatif terbagi menjadi dua golongan besar berdasarkan nilai rasanya, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif.

1. Konotasi Positif (Amelioratif)

Konotasi positif adalah makna kiasan yang mengandung nilai rasa yang baik, sopan, menyenangkan, atau lebih tinggi derajatnya. Contohnya, penggunaan kata "wafat" untuk menyebut seseorang yang meninggal dunia dianggap lebih sopan dan menghormati dibandingkan kata "mati".

2. Konotasi Negatif (Peyoratif)

Konotasi negatif adalah makna kiasan yang mengandung nilai rasa yang buruk, kasar, tidak menyenangkan, atau merendahkan. Contohnya, kata "gerombolan" memiliki rasa yang lebih negatif dan sering diasosiasikan dengan kriminalitas dibandingkan kata "kelompok" atau "rombongan".

Perbedaan Utama Konotatif dan Denotatif

Untuk memudahkan Anda membedakan kedua jenis makna ini, perhatikan poin-poin perbandingan berikut:

  1. Dasar Makna: Denotatif merujuk pada definisi kamus (leksikal), sedangkan konotatif merujuk pada tautan rasa atau asosiasi kultural.
  2. Sifat: Denotatif bersifat umum dan objektif, sedangkan konotatif bersifat khusus dan subjektif.
  3. Penggunaan: Denotatif digunakan dalam komunikasi ilmiah dan formal. Konotatif digunakan dalam karya sastra, pidato persuasif, atau percakapan sehari-hari yang melibatkan emosi.

Contoh Lengkap Perbandingan Kalimat

Berikut adalah tabelisasi dalam bentuk deskriptif untuk melihat bagaimana satu kata yang sama dapat memiliki makna konotatif dan denotatif yang berbeda saat dimasukkan ke dalam kalimat.

1. Kata "Tangan Kanan"

  • Denotatif: "Tangan kanan adik sakit karena terkilir saat bermain bulu tangkis." (Merujuk pada anggota tubuh sebelah kanan).
  • Konotatif: "Pak Budi menjadi tangan kanan direktur di perusahaan tersebut." (Bermakna orang kepercayaan).

2. Kata "Bunga"

  • Denotatif: "Bunga mawar di taman sedang mekar dengan indahnya." (Merujuk pada bagian tumbuhan).
  • Konotatif: "Gadis itu menjadi bunga desa yang dikagumi banyak pemuda." (Bermakna gadis tercantik atau idola).
  • Konotatif (Lainnya): "Pinjaman ini memiliki bunga yang cukup tinggi." (Bermakna imbalan jasa penggunaan uang/riba).

3. Kata "Kursi"

  • Denotatif: "Ayah membeli kursi kayu jati untuk ruang tamu." (Merujuk pada tempat duduk).
  • Konotatif: "Para politisi sedang berebut kursi di parlemen." (Bermakna jabatan atau kekuasaan).

4. Kata "Amplop"

  • Denotatif: "Surat lamaran kerja harus dimasukkan ke dalam amplop cokelat." (Merujuk pada pembungkus surat).
  • Konotatif: "Agar urusan lancar, jangan lupa berikan amplop kepada petugas itu." (Bermakna uang suap atau pelicin).

5. Kata "Benang Merah"

  • Denotatif: "Ibu menjahit baju adik menggunakan benang merah." (Merujuk pada tali halus berwarna merah).
  • Konotatif: "Polisi akhirnya menemukan benang merah dari kasus pencurian tersebut." (Bermakna hubungan atau kaitan masalah).

6. Kata "Gulung Tikar"

  • Denotatif: "Setelah piknik selesai, kami segera gulung tikar dan membersihkan sampah." (Merujuk pada aktivitas melipat tikar).
  • Konotatif: "Banyak usaha kecil yang gulung tikar akibat pandemi." (Bermakna bangkrut).

Pentingnya Memahami Konteks

Memahami perbedaan antara makna konotatif dan denotatif sangat penting bagi penulis, jurnalis, maupun pembicara publik. Kesalahan dalam memilih kata dapat menyebabkan ambiguitas atau bahkan ketersinggungan. Dalam penulisan berita, wartawan dituntut menggunakan bahasa denotatif agar informasi yang disampaikan akurat dan tidak memihak. Sebaliknya, dalam penulisan opini atau sastra, kekayaan makna konotatif justru menjadi kekuatan untuk menyentuh perasaan pembaca.

Dengan memahami nuansa makna ini, kita dapat berkomunikasi dengan lebih efektif, tepat sasaran, dan meminimalisir kesalahpahaman dalam interaksi sosial sehari-hari.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya