Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam memahami Asmaul Husna, salah satu nama Allah SWT yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah Al-Alim. Secara harfiah, Al Alim artinya Yang Maha Mengetahui. Pengetahuan Allah SWT bersifat mutlak, tanpa batas, dan mencakup segala sesuatu, baik yang tampak (syahadah) maupun yang gaib, yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi di masa depan. Memahami sifat ini bukan hanya sekadar wawasan teologis, melainkan fondasi untuk membangun keimanan yang kokoh dan perilaku yang mawas diri.
Kata Al-Alim (العليم) berasal dari akar kata bahasa Arab 'alima (عَلِمَ) yang berarti tahu, mengerti, atau memahami. Dalam konteks Asmaul Husna, Al-Alim menegaskan bahwa Allah SWT memiliki ilmu yang sempurna. Tidak ada satu pun atom di alam semesta ini yang luput dari pengetahuan-Nya.
Berbeda dengan pengetahuan manusia yang didapat melalui proses belajar dan terbatas oleh panca indra, ilmu Allah SWT bersifat azali (terdahulu tanpa permulaan) dan abadi (tanpa akhir). Allah mengetahui apa yang terbersit dalam hati manusia, suara langkah semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam, hingga pergerakan galaksi di alam semesta yang luas.
Sifat Al-Alim disebutkan berulang kali dalam Al-Qur'an, seringkali disandingkan dengan sifat Al-Hakim (Maha Bijaksana) atau As-Sami' (Maha Mendengar). Berikut adalah beberapa dalil naqli yang menjelaskan sifat Maha Mengetahui Allah SWT:
Ayat ini merekam pengakuan para malaikat tentang keterbatasan ilmu mereka dibandingkan dengan ilmu Allah SWT. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati.
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya: "Mereka menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.'" (QS. Al-Baqarah: 32).
Selengkapnya baca di sini: Surat Al-Baqarah.
Ayat ini secara spesifik menjelaskan detail pengetahuan Allah yang mencakup kunci-kunci kegaiban yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Dia.
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Artinya: "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Al-An'am: 59).
Selengkapnya baca di sini: Surat Al-An'am.
Dalam ayat ini, sifat Al-Alim menjadi penegas bahwa Allah mengetahui tingkat ketakwaan seseorang, bukan memandang suku atau bangsanya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13).
Selengkapnya baca di sini: Surat Al-Hujurat.
Meskipun manusia diberikan anugerah akal dan pengetahuan, terdapat jurang perbedaan yang sangat besar antara ilmu makhluk dengan Sang Khaliq. Memahami perbedaan ini penting agar manusia tidak terjerumus dalam kesombongan intelektual.
Setelah mengetahui bahwa Al Alim artinya Maha Mengetahui, seorang muslim hendaknya mengimplementasikan pemahaman tersebut dalam perilaku nyata. Berikut adalah cara meneladani Asmaul Husna Al-Alim:
Menyadari bahwa Allah mencintai ilmu, seorang muslim harus memiliki semangat belajar yang tinggi. Islam mewajibkan umatnya menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Ilmu yang dipelajari tidak hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat.
Keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui segala rahasia akan melahirkan sikap muraqabah (merasa diawasi). Seseorang tidak akan berani berbuat maksiat, berbohong, atau berbuat curang meskipun tidak ada manusia lain yang melihat, karena ia sadar Allah mengetahuinya.
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati ia. Meneladani Al-Alim berarti menyadari bahwa setinggi apapun gelar akademik atau luasnya wawasan kita, itu hanyalah setetes air di samudra ilmu Allah yang luas. Hal ini akan menjauhkan kita dari sifat sombong dan meremehkan orang lain.
Pengetahuan tidak akan bernilai jika tidak diamalkan. Implementasi dari sifat Al-Alim adalah menggunakan pengetahuan untuk kebaikan, membantu sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang pahalanya tidak terputus.
Dengan memahami makna Al-Alim secara mendalam, kita diharapkan dapat menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, namun tetap santun secara spiritual. Kesadaran akan pengawasan Allah Yang Maha Mengetahui adalah kunci utama dalam membentuk integritas diri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved