Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa, penggunaan istilah arah mata angin sangatlah dominan dibandingkan penggunaan petunjuk arah relatif seperti 'kiri' atau 'kanan'. Salah satu istilah yang paling sering terdengar adalah ngalor artinya bergerak atau menuju ke arah utara. Kata ini bukan sekadar penunjuk lokasi geografis, melainkan bagian integral dari cara pandang masyarakat Jawa terhadap ruang dan orientasi.
Penggunaan kata 'ngalor' berakar dari kata dasar 'Lor' yang berarti Utara. Dalam tata bahasa Jawa, penambahan awalan sengau (nasal) seperti 'ng-' sering kali mengubah kata benda (arah) menjadi kata kerja yang menunjukkan pergerakan.
Oleh karena itu, jika 'Lor' adalah Utara, maka 'Ngalor' secara spesifik bermakna 'pergi ke Utara' atau 'menuju ke Utara'. Pemahaman ini sangat krusial bagi pendatang yang berkunjung ke wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, atau Jawa Timur agar tidak tersesat saat menanyakan jalan.
Untuk memahami sepenuhnya konteks kata ngalor, kita harus melihat sistem navigasi masyarakat Jawa secara utuh. Budaya Jawa mengenal konsep Kiblat Papat Lima Pancer, namun dalam konteks navigasi sehari-hari, ada empat istilah utama yang wajib diketahui. Berikut adalah rincian lengkapnya:
Sistem ini bersifat absolut atau mutlak. Berbeda dengan 'kiri' dan 'kanan' yang berubah tergantung ke mana tubuh kita menghadap, arah ngalor akan selalu menunjuk ke utara magnetik bumi, tidak peduli ke mana Anda menghadap. Inilah yang membuat sistem navigasi orang Jawa dinilai sangat akurat namun sering membingungkan bagi orang luar yang tidak memiliki 'kompas internal'.
Selain makna harfiah geografis, istilah ngalor juga sering digabungkan dengan antonimnya, ngidul, membentuk frasa idiomatis 'Ngalor Ngidul'. Dalam konteks sosial dan percakapan, frasa ini memiliki makna metaforis yang kuat.
Ungkapan 'omongane ngalor ngidul' sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berbicara panjang lebar namun tidak memiliki inti, tidak fokus, atau berbelit-belit. Secara harfiah, ini menggambarkan seseorang yang berjalan ke utara lalu ke selatan tanpa tujuan yang jelas. Dalam bahasa Indonesia, ini setara dengan istilah 'berbicara ke sana ke mari' tanpa poin yang jelas.
Dalam konteks aktivitas, 'mlaku-mlaku ngalor ngidul' bisa diartikan sebagai berjalan-jalan santai tanpa tujuan spesifik, atau mondar-mandir karena kebingungan atau kegelisahan. Penggunaan idiom ini menunjukkan betapa kayanya bahasa Jawa dalam menggunakan konsep ruang untuk menggambarkan perilaku manusia.
Fenomena penggunaan kata ngalor, ngidul, ngetan, dan ngulon dibandingkan kiri dan kanan menarik perhatian banyak ahli linguistik dan antropolog. Ada beberapa alasan mendasar mengapa orientasi kardinal (arah mata angin) lebih disukai:
Jika Anda sedang berkunjung ke Yogyakarta atau Solo dan mendengar instruksi yang menggunakan kata ngalor artinya Anda harus melihat posisi matahari atau landmark geografis. Berikut tips sederhananya:
Memahami istilah ini tidak hanya membantu Anda dalam navigasi fisik, tetapi juga merupakan bentuk apresiasi terhadap kearifan lokal. Bahasa menunjukkan bagaimana sebuah kelompok masyarakat memandang dunianya, dan bagi masyarakat Jawa, dunia adalah ruang yang terstruktur rapi oleh empat penjuru angin utama.
Dapat disimpulkan bahwa ngalor artinya adalah bergerak menuju arah utara. Istilah ini merupakan bagian dari sistem navigasi absolut masyarakat Jawa yang mencakup Lor (Utara), Kidul (Selatan), Wetan (Timur), dan Kulon (Barat). Selain fungsi navigasi, kata ini juga membentuk idiom 'ngalor ngidul' yang bermakna pembicaraan yang tidak terarah. Dengan memahami terminologi ini, Anda akan lebih mudah beradaptasi dan berkomunikasi dengan masyarakat Jawa, serta lebih menghargai kedalaman budaya yang tersimpan dalam setiap penunjuk arahnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved