Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Ngalor Artinya Apa? Simak Penjelasan Lengkap Arah Mata Angin Bahasa Jawa

Wisnu Arto Subari
04/1/2026 22:00
Ngalor Artinya Apa? Simak Penjelasan Lengkap Arah Mata Angin Bahasa Jawa
Ilustrasi.(Freepik)

Memahami Makna Ngalor dalam Bahasa Jawa

Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa, penggunaan istilah arah mata angin sangatlah dominan dibandingkan penggunaan petunjuk arah relatif seperti 'kiri' atau 'kanan'. Salah satu istilah yang paling sering terdengar adalah ngalor artinya bergerak atau menuju ke arah utara. Kata ini bukan sekadar penunjuk lokasi geografis, melainkan bagian integral dari cara pandang masyarakat Jawa terhadap ruang dan orientasi.

Penggunaan kata 'ngalor' berakar dari kata dasar 'Lor' yang berarti Utara. Dalam tata bahasa Jawa, penambahan awalan sengau (nasal) seperti 'ng-' sering kali mengubah kata benda (arah) menjadi kata kerja yang menunjukkan pergerakan.

Oleh karena itu, jika 'Lor' adalah Utara, maka 'Ngalor' secara spesifik bermakna 'pergi ke Utara' atau 'menuju ke Utara'. Pemahaman ini sangat krusial bagi pendatang yang berkunjung ke wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, atau Jawa Timur agar tidak tersesat saat menanyakan jalan.

Sistem Arah Mata Angin dalam Bahasa Jawa (Kiblat Papat)

Untuk memahami sepenuhnya konteks kata ngalor, kita harus melihat sistem navigasi masyarakat Jawa secara utuh. Budaya Jawa mengenal konsep Kiblat Papat Lima Pancer, namun dalam konteks navigasi sehari-hari, ada empat istilah utama yang wajib diketahui. Berikut adalah rincian lengkapnya:

  • Lor (Ngalor): Merujuk pada arah Utara. Jika seseorang berkata 'omahku ngalor sithik', itu berarti 'rumahku ke utara sedikit'.
  • Kidul (Ngidul): Merujuk pada arah Selatan. Ini adalah lawan kata dari Lor. Pantai Selatan Jawa sering disebut sebagai 'Segara Kidul'.
  • Wetan (Ngetan): Merujuk pada arah Timur, tempat matahari terbit.
  • Kulon (Ngulon): Merujuk pada arah Barat, tempat matahari terbenam.

Sistem ini bersifat absolut atau mutlak. Berbeda dengan 'kiri' dan 'kanan' yang berubah tergantung ke mana tubuh kita menghadap, arah ngalor akan selalu menunjuk ke utara magnetik bumi, tidak peduli ke mana Anda menghadap. Inilah yang membuat sistem navigasi orang Jawa dinilai sangat akurat namun sering membingungkan bagi orang luar yang tidak memiliki 'kompas internal'.

Makna Ungkapan 'Ngalor Ngidul'

Selain makna harfiah geografis, istilah ngalor juga sering digabungkan dengan antonimnya, ngidul, membentuk frasa idiomatis 'Ngalor Ngidul'. Dalam konteks sosial dan percakapan, frasa ini memiliki makna metaforis yang kuat.

1. Bicara Tanpa Arah

Ungkapan 'omongane ngalor ngidul' sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berbicara panjang lebar namun tidak memiliki inti, tidak fokus, atau berbelit-belit. Secara harfiah, ini menggambarkan seseorang yang berjalan ke utara lalu ke selatan tanpa tujuan yang jelas. Dalam bahasa Indonesia, ini setara dengan istilah 'berbicara ke sana ke mari' tanpa poin yang jelas.

2. Pergerakan yang Tidak Menentu

Dalam konteks aktivitas, 'mlaku-mlaku ngalor ngidul' bisa diartikan sebagai berjalan-jalan santai tanpa tujuan spesifik, atau mondar-mandir karena kebingungan atau kegelisahan. Penggunaan idiom ini menunjukkan betapa kayanya bahasa Jawa dalam menggunakan konsep ruang untuk menggambarkan perilaku manusia.

Mengapa Orang Jawa Jarang Menggunakan Kiri dan Kanan?

Fenomena penggunaan kata ngalor, ngidul, ngetan, dan ngulon dibandingkan kiri dan kanan menarik perhatian banyak ahli linguistik dan antropolog. Ada beberapa alasan mendasar mengapa orientasi kardinal (arah mata angin) lebih disukai:

  1. Keakuratan Geografis: Seperti disebutkan sebelumnya, arah mata angin bersifat tetap. Dalam budaya agraris, mengetahui posisi matahari (Timur/Barat) dan gunung (biasanya Utara/Selatan di banyak kota di Jawa) sangat penting untuk pertanian dan penentuan waktu.
  2. Filosofi Kosmologi: Masyarakat Jawa sangat memperhatikan keselarasan dengan alam. Arah mata angin memiliki simbolisme warna, hari pasaran, dan dewa penjaga dalam kepercayaan Kejawen. Lor sering diasosiasikan dengan warna hitam dan elemen air atau tanah tertentu tergantung kitab primbon yang dirujuk.
  3. Mental Map (Peta Mental): Orang Jawa dilatih sejak kecil untuk selalu sadar posisi (spatial awareness). Ketika berada di dalam ruangan pun, mereka secara tidak sadar memetakan mana sisi utara dan selatan. Sehingga, instruksi 'geser kursinya ngalor dikit' (geser kursinya ke utara sedikit) dianggap lebih efektif daripada 'geser ke kiri', yang bisa salah tafsir jika orang tersebut berbalik badan.

Tips Memahami Arah Saat Berada di Jawa

Jika Anda sedang berkunjung ke Yogyakarta atau Solo dan mendengar instruksi yang menggunakan kata ngalor artinya Anda harus melihat posisi matahari atau landmark geografis. Berikut tips sederhananya:

  • Jika Anda berada di Yogyakarta, Gunung Merapi adalah patokan arah Utara (Lor). Jadi, jika seseorang menyuruh Anda 'ngalor', berjalanlah mendekati arah Gunung Merapi.
  • Sebaliknya, arah Laut Selatan (Parangtritis) adalah Selatan (Kidul).
  • Matahari terbit selalu di Timur (Wetan) dan terbenam di Barat (Kulon).

Memahami istilah ini tidak hanya membantu Anda dalam navigasi fisik, tetapi juga merupakan bentuk apresiasi terhadap kearifan lokal. Bahasa menunjukkan bagaimana sebuah kelompok masyarakat memandang dunianya, dan bagi masyarakat Jawa, dunia adalah ruang yang terstruktur rapi oleh empat penjuru angin utama.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa ngalor artinya adalah bergerak menuju arah utara. Istilah ini merupakan bagian dari sistem navigasi absolut masyarakat Jawa yang mencakup Lor (Utara), Kidul (Selatan), Wetan (Timur), dan Kulon (Barat). Selain fungsi navigasi, kata ini juga membentuk idiom 'ngalor ngidul' yang bermakna pembicaraan yang tidak terarah. Dengan memahami terminologi ini, Anda akan lebih mudah beradaptasi dan berkomunikasi dengan masyarakat Jawa, serta lebih menghargai kedalaman budaya yang tersimpan dalam setiap penunjuk arahnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya