Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
Belakangan ini, media sosial seperti TikTok dan Twitter (X) sering kali memunculkan istilah-istilah baru atau mengangkat kata daerah menjadi tren nasional. Salah satu yang paling menyita perhatian dan menimbulkan tanda tanya besar adalah kata "pantek". Banyak warganet, terutama yang bukan berasal dari Sumatra Barat, merasa bingung dan mencari tahu sebenarnya pantek bahasa apa serta apa makna di baliknya. Meskipun sering terdengar diucapkan dalam konten video pendek atau kolom komentar sebagai candaan, kata ini sejatinya memiliki bobot makna yang sangat spesifik dan, dalam konteks tertentu, dianggap sangat tabu.
Penting bagi pengguna media sosial untuk memahami etimologi dan konteks budaya dari setiap kata yang diadopsi agar tidak terjadi kesalahpahaman atau ketersinggungan. Artikel ini akan mengupas tuntas asal usul, arti harfiah, hingga pergeseran makna kata pantek dalam penggunaan sehari-hari.
Secara linguistik, kata "pantek" berasal dari Bahasa Minangkabau, bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis Minang di Sumatra Barat dan sekitarnya. Bagi masyarakat Minang, kata ini bukanlah istilah asing. Namun, tingkat kesopanan kata ini berada di level yang sangat rendah jika diucapkan sembarangan di ruang publik.
Dalam struktur sosial masyarakat Minang yang menjunjung tinggi kato nan ampek (empat ragam bertutur), penggunaan kata pantek sering kali dihindari dalam percakapan formal atau kepada orang yang lebih tua karena konotasinya yang kasar. Namun, untuk memahami mengapa kata ini menjadi kontroversial, kita perlu melihat dua sisi maknanya: makna teknis dan makna peyoratif.
Sering kali terjadi kesalahpahaman bahwa pantek hanya memiliki satu arti. Padahal, dalam kamus bahasa Minang, kata ini bisa merujuk pada benda atau tindakan tertentu, tergantung konteks kalimatnya.
Secara harfiah dan dalam konteks pertukangan atau teknis, pantek bisa berarti memasak (memukul paku/pasak) atau benda itu sendiri, yakni pasak atau paku semat. Dalam kalimat seperti "pantek-an paku tu", artinya adalah "pasakkan/pukulkan paku itu" agar menancap. Dalam konteks ini, kata tersebut netral dan tidak mengandung unsur kekasaran karena merujuk pada aktivitas fisik atau objek.
Inilah arti yang membuat kata ini menjadi sangat sensitif. Dalam percakapan sehari-hari yang bernada emosional atau sebagai umpatan, pantek merujuk pada alat kelamin wanita. Pergeseran makna dari benda teknis menjadi rujukan anatomis yang vulgar inilah yang menjadikan kata pantek sebagai salah satu umpatan paling kasar di Sumatra Barat.
Sama halnya dengan kata-kata kasar dalam bahasa Inggris (seperti F-word) atau bahasa daerah lain di Indonesia (seperti Jancok di Jawa Timur), pantek digunakan untuk mengekspresikan kemarahan, kekesalan yang memuncak, atau rasa sakit yang tiba-tiba. Namun, berbeda dengan Jancok yang kini mengalami pergeseran makna menjadi sapaan keakraban di kalangan muda Jawa Timur, kata pantek di Minang umumnya masih memegang predikat sebagai kata yang sangat kasar dan tidak pantas diucapkan sebagai sapaan persahabatan di depan umum.
Viralnya kata pantek di media sosial sering kali lepas dari konteks aslinya. Banyak konten kreator atau warganet yang menggunakan kata ini hanya karena terdengar unik atau lucu secara fonetik, tanpa menyadari bahwa mereka sedang meneriakkan kata yang merujuk pada genitalia. Hal ini menimbulkan fenomena gegar budaya (culture shock) bagi masyarakat Minang yang mendengarnya.
Menariknya, Indonesia yang kaya akan bahasa daerah memiliki banyak kata yang terdengar mirip namun memiliki arti berbeda, atau kata berbeda dengan fungsi serupa. Selain di Minang, kata "pantek" juga dikenal di beberapa daerah lain dengan variasi makna:
Perbedaan nuansa dan makna ini menunjukkan betapa pentingnya memahami pantek bahasa apa sebelum menggunakannya dalam komunikasi lintas budaya.
Mengetahui arti sebenarnya dari kata pantek memberikan pelajaran penting tentang literasi digital dan etika berbahasa. Meskipun kebebasan berekspresi di media sosial sangat luas, penggunaan kata-kata yang memiliki konotasi negatif dalam budaya tertentu sebaiknya dihindari, terutama jika kita tidak memahami konteksnya secara utuh.
Bagi Anda yang bukan penutur asli bahasa Minang, sangat disarankan untuk tidak menggunakan kata ini sebagai bahan candaan (joke) kepada orang yang lebih tua atau orang yang baru dikenal yang berasal dari Sumatra Barat. Menghormati bahasa daerah lain adalah bagian dari menjaga keharmonisan dalam keberagaman Indonesia.
Sebagai kesimpulan, jawaban dari pantek bahasa apa adalah bahasa Minangkabau yang memiliki makna ganda: teknis (pasak/paku) dan vulgar (alat kelamin wanita). Bijaklah dalam memilah kosakata yang sedang tren agar tidak terjebak dalam penggunaan bahasa yang tidak senonoh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved