Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Jangan Abaikan, Kesulitan Melihat Kontras Bisa Jadi Sinyal Demensia

 Gana Buana
02/1/2026 20:15
Jangan Abaikan, Kesulitan Melihat Kontras Bisa Jadi Sinyal Demensia
Kesehatan mata pengaruh pada pemicu demensia.(Freepik)

SERINGKALI kita menganggap mata hanya sebagai jendela hati, namun sains modern membuktikan bahwa mata adalah jendela langsung ke otak. Temuan terbaru para ahli neurologi dan oftalmologi mengungkap fakta mengejutkan, satu tanda spesifik pada penglihatan Anda bisa menjadi sinyal peringatan dini penyakit demensi. 

Bahkan hingga 12 tahun sebelum gejala penurunan memori yang parah muncul.Selama ini, diagnosis demensia atau Alzheimer seringkali terlambat karena dokter menunggu hingga pasien mengalami gangguan ingatan yang signifikan.

Padahal, perubahan biologis di otak sudah terjadi  jauh sebelumnya. Artikel ini akan mengupas tuntas tanda visual tersebut, penjelasan ilmiah di baliknya, dan langkah preventif yang bisa Anda ambil mulai hari ini.

Satu Tanda Itu Adalah: Hilangnya Sensitivitas Visual

Penelitian inovatif yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports oleh para peneliti dari Loughborough University, Inggris, menyoroti satu indikator krusial, penurunan sensitivitas visual.

Dalam studi yang melibatkan lebih dari 8.000 partisipan sehat, peneliti menemukan bahwa mereka yang memiliki skor rendah dalam tes sensitivitas visual berisiko jauh lebih tinggi terkena demensia di masa depan. Tes ini bukan sekadar tes membaca huruf di papan (snellen chart), melainkan tes kemampuan otak untuk memproses objek visual yang kompleks.

Bagaimana Tesnya Bekerja?

Para partisipan diminta untuk melihat layar komputer yang menampilkan titik-titik bergerak. Tugas mereka adalah menekan tombol segera setelah melihat bentuk segitiga samar yang terbentuk dari pola titik-titik tersebut. Hasilnya mengejutkan:

  • Orang yang kemudian didiagnosis demensia ternyata jauh lebih lambat dalam melihat pembentukan segitiga tersebut.
  • Keterlambatan pemrosesan visual ini terdeteksi rata-rata 12 tahun sebelum diagnosis resmi demensia ditegakkan.

Mengapa Mata Terhubung dengan Risiko Demensia?

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa hubungan antara kemampuan melihat segitiga dengan penyakit otak? Jawabannya terletak pada anatomi tubuh manusia. Retina (lapisan saraf di belakang mata) adalah satu-satunya bagian dari sistem saraf pusat (otak) yang bisa dilihat langsung tanpa pembedahan.

Berikut adalah mekanisme ilmiah mengapa mata menjadi "siren" awal demensia:

  1. Plak Amyloid di Retina: Protein beracun bernama beta-amyloid, yang menjadi penyebab utama Alzheimer, ternyata dapat menumpuk di retina. Penumpukan ini bisa mematikan sel-sel retina yang peka cahaya, mengurangi sensitivitas visual Anda.
  2. Korteks Visual vs Hippocampus: Selama ini kita fokus pada hippocampus (pusat memori). Namun, studi menunjukkan bahwa plak amyloid mungkin mempengaruhi area otak yang memproses penglihatan (korteks visual) lebih dulu daripada area memori.
  3. Kesehatan Pembuluh Darah: Demensia vaskular berhubungan dengan aliran darah. Teknologi pemindaian mata seperti Optical Coherence Tomography Angiography (OCTA) dapat melihat pembuluh darah mikroskopis di mata. Jika pembuluh darah retina rusak atau menipis, kemungkinan besar kondisi serupa terjadi di pembuluh darah otak.

Gejala Visual Lain yang Perlu Diwaspadai

Selain tes sensitivitas visual di atas, para ahli juga mencatat beberapa perubahan fungsi penglihatan lain yang kerap dialami penderita demensia fase awal:

  • Masalah Sensitivitas Kontras: Kesulitan membedakan objek dari latar belakangnya, misalnya sulit melihat makanan putih di atas piring putih.
  • Gangguan Persepsi Warna: Kesulitan membedakan warna-warna tertentu, terutama dalam spektrum biru-hijau.
  • Gerakan Mata Terganggu: Kesulitan mengabaikan stimulus pengalih (distraksi). Mata penderita demensia awal seringkali sulit fokus pada satu titik karena terus menerus tertarik pada gerakan di sekitarnya.

Langkah Pencegahan dan Apa yang Harus Dilakukan

Mengetahui risiko sejak dini adalah kunci pencegahan. Meskipun belum ada obat penyembuh total untuk demensia, intervensi dini dapat memperlambat laju penyakit secara signifikan.

1. Pemeriksaan Mata Rutin (OCT Scan)

Jangan hanya periksa minus/plus mata. Mintalah pemeriksaan retina mendalam atau OCT scan jika tersedia di klinik mata Anda, terutama jika Anda berusia di atas 50 tahun atau memiliki riwayat keluarga demensia.

2. Gaya Hidup Neuro-Protektif

Kesehatan mata dan otak didukung oleh nutrisi yang sama. Konsumsi makanan kaya Omega-3 (ikan salmon, sarden), lutein (bayam, kale), dan antioksidan untuk melindungi saraf retina dan otak.

3. Latih Otak dan Mata

Karena penglihatan adalah proses kognitif, melatih otak dapat membantu. Aktivitas seperti membaca cepat, bermain puzzle visual, atau olahraga yang membutuhkan koordinasi mata-tangan (seperti tenis meja) dapat menjaga ketajaman pemrosesan visual otak.

People Also Ask (FAQ)

Apakah mata kabur tanda demensia?

Tidak selalu. Mata kabur bisa disebabkan oleh katarak atau kelainan refraksi biasa. Tanda demensia lebih spesifik pada bagaimana otak memproses apa yang dilihat, seperti sensitivitas kontras atau kecepatan mengenali objek.

Umur berapa sebaiknya mulai waspada?

Studi menunjukkan tanda visual bisa muncul 12 tahun sebelum diagnosis. Jika rata-rata diagnosis demensia adalah usia 65-70 tahun, maka kewaspadaan terhadap perubahan fungsi visual sebaiknya dimulai sejak usia 50-an.

Apakah tes mata di optik biasa bisa mendeteksi demensia?

Tes mata standar untuk kacamata biasanya tidak mendeteksi ini. Diperlukan pemeriksaan khusus seperti OCT scan atau tes sensitivitas visual kognitif yang dilakukan oleh spesialis mata atau neurologi.

Makanan apa yang bagus untuk mencegah demensia dan menjaga mata?

Makanan yang mengandung flavonoid (cokelat hitam, beri), Omega-3, dan Vitamin E sangat disarankan. Diet Mediterania telah terbukti secara klinis menurunkan risiko demensia. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya