Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Mengenal 11 Tembang Macapat: Sejarah, Aturan, dan Filosofi

Thalatie K Yani
02/1/2026 12:03
Mengenal 11 Tembang Macapat: Sejarah, Aturan, dan Filosofi
Ilustrasi(gemini AI)

Dalam khazanah kebudayaan Jawa, sastra lisan dan tulisan memiliki tempat yang sangat istimewa. Salah satu warisan leluhur yang sarat akan nilai filosofis dan pendidikan moral adalah tembang macapat. Karya sastra ini bukan sekadar rangkaian kata indah yang dinyanyikan, melainkan sebuah panduan hidup yang menggambarkan perjalanan manusia dari alam ruh hingga kembali kepada Sang Pencipta. Tembang macapat merupakan puisi tradisional Jawa yang terikat oleh aturan-aturan baku atau paugeran tertentu.

Sejarah dan Asal-Usul Tembang Macapat

Secara etimologi, terdapat berbagai tafsir mengenai kata "macapat". Pendapat yang paling umum di masyarakat adalah maca papat-papat (membaca empat-empat), yang merujuk pada cara melantunkan atau memutus suku katanya setiap empat ketukan. Namun, ada pula yang menafsirkan macapat sebagai maca asat atau membaca hingga tuntas dan mendalam.

Sejarah kemunculan tembang macapat sering dikaitkan dengan masa peralihan dari kerajaan Hindu-Buddha ke masa Islam di Jawa, khususnya pada era Walisongo. Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan Sunan Giri disebut-sebut sebagai tokoh yang menggunakan tembang macapat sebagai media dakwah yang efektif. Melalui tembang, ajaran-ajaran luhur disisipkan dalam kesenian agar mudah diterima oleh masyarakat Jawa pada masa itu tanpa menimbulkan gejolak penolakan.

Aturan Baku (Paugeran) Tembang Macapat

Sebagai karya sastra yang terikat, pembuatan tembang macapat tidak boleh dilakukan sembarangan. Terdapat tiga aturan utama atau paugeran yang harus dipatuhi agar sebuah puisi bisa disebut sebagai macapat. Ketiga aturan tersebut adalah:

  • Guru Gatra: Jumlah baris (larik) dalam satu bait (pupuh) tembang. Setiap jenis tembang memiliki jumlah baris yang berbeda.
  • Guru Wilangan: Jumlah suku kata (wanda) dalam setiap barisnya.
  • Guru Lagu: Jatuhnya suara vokal (huruf hidup a, i, u, e, o) di akhir setiap baris.

Filosofi 11 Jenis Tembang Macapat: Perjalanan Hidup Manusia

Salah satu aspek paling menarik dari macapat adalah urutannya yang menggambarkan siklus kehidupan manusia, mulai dari janin hingga kematian. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai 11 jenis tembang macapat beserta makna filosofisnya:

1. Maskumambang

Maskumambang melambangkan fase awal kehidupan manusia, yaitu ketika masih berupa janin di dalam kandungan ibu. Kata ini berasal dari "mas" (sesuatu yang berharga) dan "kumambang" (mengapung). Filosofinya menggambarkan janin yang hidup mengapung di dalam rahim, sebuah fase di mana kehidupan belum terlihat nyata namun sudah ada.

2. Mijil

Mijil berarti keluar atau lahir. Tembang ini menggambarkan proses kelahiran manusia ke dunia. Ini adalah awal mula perjalanan hidup yang sesungguhnya, di mana seorang bayi mulai mengenal dunia fana. Watak tembang ini biasanya bersifat terbuka dan memberikan nasihat.

3. Sinom

Sinom berkaitan dengan kata "enom" atau muda. Fase ini menggambarkan masa remaja atau masa muda yang penuh dengan semangat, rasa ingin tahu, dan pencarian jati diri. Tunas-tunas kehidupan mulai tumbuh dan berkembang. Karakteristik tembang ini biasanya renyah dan lincah.

4. Kinanthi

Berasal dari kata "kanthi" yang berarti tuntun atau gandeng. Filosofinya adalah masa di mana manusia membutuhkan tuntunan, bimbingan, dan arahan untuk menuju jalan yang benar. Ini adalah fase pembentukan karakter dan menuntut ilmu agar tidak salah arah dalam mengarungi kehidupan.

5. Asmaradana

Sesuai namanya, Asmaradana berkaitan dengan asmara atau cinta. Ini menggambarkan fase kehidupan manusia ketika mulai mengenal lawan jenis dan didera api asmara. Tembang ini melukiskan perasaan cinta kasih yang merupakan fitrah manusia untuk melanjutkan keturunan.

6. Gambuh

Gambuh berarti cocok, jodoh, atau menyatu. Fase ini merepresentasikan komitmen untuk membangun rumah tangga atau pernikahan. Dua insan yang saling mencintai kemudian menyatukan visi dan misi hidup dalam ikatan suci. Watak tembang ini biasanya berisi tentang keramahtamahan dan persahabatan.

7. Dhandhanggula

Berasal dari kata "dhandhang" (harapan/angan-angan) dan "gula" (manis). Ini menggambarkan puncak kejayaan hidup manusia. Fase di mana seseorang telah mapan, hidup bahagia bersama keluarga, dan menikmati manisnya hasil perjuangan. Seseorang di fase ini biasanya telah mencapai kesejahteraan materi dan batin.

8. Durma

Durma identik dengan kata "darma" atau memberi. Ketika seseorang telah berkecukupan (seperti pada fase Dhandhanggula), maka timbullah kewajiban untuk berbagi atau bersedekah kepada sesama. Namun, Durma juga bisa dimaknai sebagai mundurnya fisik manusia dan mulai munculnya berbagai konflik atau hawa nafsu yang harus dikendalikan.

9. Pangkur

Pangkur berasal dari kata "mungkur" yang berarti mengundurkan diri. Filosofinya menggambarkan fase di mana manusia mulai menyingkirkan hawa nafsu duniawi dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Masa tua di mana seseorang mulai meninggalkan urusan keduniawian dan fokus pada bekal akhirat.

10. Megatruh

Megatruh berasal dari kata "megat" (memutus/pisah) dan "ruh" (nyawa). Ini adalah fase kematian, di mana ruh berpisah dengan raga. Tembang ini memiliki watak yang sedih dan prihatin, mengingatkan manusia bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

11. Pocung

Pocung adalah fase terakhir dari perjalanan fisik manusia di dunia. Setelah nyawa berpisah, jasad manusia dibungkus kain kafan (dipocong) dan dikuburkan. Tembang Pocung seringkali berisi teka-teki atau nasihat jenaka namun sarat makna, mengingatkan bahwa pada akhirnya manusia akan kembali ke tanah.

Pentingnya Melestarikan Tembang Macapat

Di era digital saat ini, keberadaan tembang macapat menghadapi tantangan yang cukup besar. Generasi muda cenderung lebih akrab dengan budaya populer mancanegara. Padahal, di dalam macapat tersimpan nilai-nilai luhur budi pekerti, tata krama, dan spiritualitas yang sangat relevan untuk membentuk karakter bangsa.

Melestarikan macapat bukan hanya sekadar menjaga tradisi menyanyi, melainkan menjaga filosofi hidup orang Jawa yang mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya. Mempelajari dan memahami makna di balik setiap bait macapat adalah langkah konkret dalam merawat identitas budaya Nusantara.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya