Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
Muntahan ikan paus, atau yang dalam dunia perdagangan internasional dikenal sebagai ambergris, merupakan salah satu komoditas laut yang paling misterius sekaligus bernilai tinggi. Sering dijuluki sebagai "emas terapung" atau floating gold, benda ini bukanlah limbah biasa, melainkan bahan baku langka yang diburu oleh industri parfum kelas dunia. Penemuan bongkahan ambergris di pesisir pantai sering kali menjadi berita utama karena nilainya yang bisa mencapai miliaran rupiah per kilogram, mengubah nasib penemunya dalam semalam.
Secara ilmiah, ambergris adalah zat padat, lilin, dan mudah terbakar yang diproduksi di dalam sistem pencernaan paus sperma (Physeter macrocephalus). Meskipun istilah awam menyebutnya sebagai muntahan ikan paus, proses pembentukannya sebenarnya cukup kompleks dan berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri hewan mamalia laut tersebut.
Paus sperma memakan cumi-cumi dan sotong dalam jumlah besar. Bagian paruh cumi-cumi yang keras dan tajam sulit dicerna dan dapat melukai usus paus. Sebagai respons, tubuh paus memproduksi zat lemak khusus untuk melapisi benda tajam tersebut agar dapat melewati sistem pencernaan tanpa menyebabkan cedera serius. Gumpalan inilah yang kemudian dikeluarkan oleh paus.
Ada perdebatan ilmiah mengenai bagaimana ambergris keluar dari tubuh paus. Beberapa ahli berpendapat benda ini dimuntahkan (regurgitasi) karena ukurannya yang besar, namun pendapat lain menyatakan bahwa ambergris keluar bersama kotoran (feses). Terlepas dari cara keluarnya, saat pertama kali diekskresikan, ambergris memiliki bau busuk yang menyengat dan berwarna hitam pekat.
Nilai ekonomis dari muntahan ikan paus tidak muncul seketika saat baru keluar dari perut paus. Ambergris membutuhkan proses penuaan alami di lautan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Paparan sinar matahari, air asin, dan udara mengubah karakteristik benda ini secara drastis:
Mahalnya harga ambergris didorong oleh permintaan tinggi dari industri parfum mewah dan ketersediaannya yang sangat langka. Berikut adalah alasan utama mengapa komoditas ini bernilai fantastis:
Karena harganya yang mahal, banyak orang sering keliru mengira limbah minyak, lemak hewan, atau batu apung sebagai ambergris. Untuk membedakannya, terdapat beberapa karakteristik fisik dan metode pengujian sederhana yang dapat dilakukan:
Ini adalah metode paling umum untuk identifikasi awal. Panaskan jarum hingga merah membara, lalu tempelkan ke permukaan benda yang diduga ambergris. Jika asli, benda tersebut akan:
Ambergris memiliki tekstur seperti lilin yang keras namun agak rapuh. Berat jenisnya lebih ringan daripada air, sehingga benda ini pasti mengapung di permukaan air laut, tidak tenggelam.
Ambergris asli dapat larut dalam alkohol panas dan minyak tertentu, namun tidak larut dalam air.
Sebelum menjadi primadona industri parfum modern, muntahan ikan paus telah digunakan dalam berbagai peradaban. Bangsa Arab kuno menggunakannya sebagai obat jantung dan otak. Di Tiongkok, ambergris dikenal sebagai "aroma ludah naga" yang digunakan untuk rempah-rempah dan obat. Bahkan, pada abad pertengahan di Eropa, orang-orang membawanya dalam bola-bola kecil (pomander) untuk menangkal wabah penyakit karena aromanya yang kuat.
Perdagangan ambergris berada di wilayah hukum yang abu-abu di berbagai negara. Paus sperma dilindungi oleh perjanjian internasional CITES (Convention on International Trade in Endangered Species). Di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Australia, perdagangan produk yang berasal dari paus (termasuk ambergris) dilarang keras untuk melindungi populasi paus dari perburuan.
Namun, di banyak negara lain, termasuk di Uni Eropa dan beberapa negara Asia, perdagangan ambergris yang ditemukan secara alami (terdampar) dianggap legal karena dikategorikan sebagai produk limbah hewan yang didapat tanpa menyakiti atau membunuh paus tersebut. Di Indonesia sendiri, paus sperma termasuk hewan yang dilindungi, sehingga segala bentuk pemanfaatan bagian tubuhnya perlu disikapi dengan hati-hati dan merujuk pada regulasi konservasi yang berlaku.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved