Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Bagi sebagian masyarakat Indonesia yang kental dengan tradisi dan budaya Islam, melakukan niat puasa hari lahir atau yang sering dikenal dengan puasa weton merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat usia yang diberikan. Dalam khazanah budaya Jawa maupun praktik keagamaan sehari-hari, momentum ulang tahun atau hari kelahiran sering kali dijadikan titik balik untuk introspeksi diri (muhasabah) dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui ibadah puasa sunah.
Meskipun istilah "puasa ulang tahun" secara spesifik tidak ditemukan dalam kitab-kitab fikih klasik sebagai satu jenis puasa khusus (seperti puasa Arafah atau Asyura), namun esensinya dapat dikategorikan sebagai puasa sunah mutlak atau puasa syukur. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai tata cara, bacaan niat, serta pandangan hukum Islam terkait pelaksanaan puasa di hari kelahiran.
Karena puasa ini diniatkan sebagai bentuk syukur atau ibadah sunah mutlak (bebas dilakukan kapan saja selain hari haram), maka niat yang dilafalkan adalah niat puasa sunah karena Allah Ta'ala. Berikut adalah bacaan niat yang dapat diamalkan pada malam hari atau sebelum waktu subuh tiba:
نَوَيْتُ صَوْمَ سُنَّةٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma sunnatin lillâhi ta'âlâ.
Artinya: "Aku niat puasa sunah karena Allah Ta'ala."
Jika seseorang ingin meniatkannya secara spesifik sebagai puasa syukur atas bertambahnya usia, ulama memperbolehkan melafalkan niat dengan hati yang tulus untuk bersyukur. Niat puasa sunah mutlak ini memiliki kelonggaran, di mana jika lupa berniat pada malam hari, boleh berniat di pagi hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Banyak pertanyaan muncul mengenai validitas hukum puasa ini. Para ulama berpendapat bahwa berpuasa di hari kelahiran adalah hal yang diperbolehkan (mubah) dan bisa bernilai sunah jika diniatkan untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam konteks bersyukur.
Dasar dari anjuran ini merujuk pada sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa pada hari Senin, beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ، أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Artinya: "Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus (menjadi Rasul), atau hari diturunkannya wahyu kepadaku." (HR. Muslim)
Dari hadis tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa mensyukuri hari kelahiran dengan beribadah puasa adalah tindakan yang memiliki landasan syariat. Nabi Muhammad SAW memuliakan hari kelahirannya dengan berpuasa setiap pekannya (hari Senin). Oleh karena itu, umat Islam diperbolehkan melakukan puasa pada hari kelahirannya sebagai bentuk ittiba' (mengikuti) Nabi dalam hal bersyukur.
Pelaksanaan puasa hari lahir sama persis dengan puasa sunah pada umumnya. Berikut adalah langkah-langkahnya:
Melakukan puasa di hari kelahiran bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan memiliki dimensi spiritual yang dalam. Berikut adalah beberapa keutamaannya:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"
Selain berpuasa, lengkapi momen hari lahir dengan memanjatkan doa agar sisa usia diberkahi oleh Allah SWT. Berikut adalah doa yang lazim dibaca untuk memohon panjang umur dalam ketaatan:
اَللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمُوْرَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْاخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ
Latin: Allâhumma thowwil umûronâ, wa shahhih ajsâdanâ, wa nawwir qulûbanâ, wa tsabbit îmânanâ, wa ahsin a'mâlanâ, wa wassi' arzâqonâ, wa ilal khoiri qorribnâ wa 'anisy-syarri ab'idnâ, waqdhî hawâ-ijanâ fiddîni waddunyâ wal âkhirati innaka 'alâ kulli syai-in qodîr.
Artinya: "Ya Allah, panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baguskanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Dengan menjalankan niat puasa hari lahir yang tulus dan diiringi doa, diharapkan pertambahan usia bukan hanya sekadar angka, melainkan bertambahnya kedewasaan spiritual dan keberkahan dalam hidup.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved