Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
OSTEOSARKOMA atau kanker tulang ganas merupakan penyakit yang paling sering ditemukan pada anak dan remaja. Meski termasuk kanker langka, penyakit ini memiliki dampak besar karena menyerang tulang panjang yang sedang aktif tumbuh, seperti paha dan tulang kering. Secara global, kemajuan pengobatan membuat angka harapan hidup lima tahun dapat mencapai 60%–70%.
Sebuah penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya memberikan gambaran terbaru tentang perjalanan penyakit osteosarkoma di Indonesia selama enam tahun terakhir, dari 2018 hingga 2023. Penelitian ini melibatkan 175 pasien, menjadikannya salah satu studi terbesar di tingkat nasional.
Hasil penelitian ini cukup mengejutkan. Median overall survival (OS) dan event-free survival (EFS) untuk seluruh pasien tercatat hanya 4 bulan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan laporan internasional maupun beberapa pusat kanker nasional lainnya. Peneliti menjelaskan bahwa rendahnya angka ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya tingginya tingkat pasien yang hilang kontak (lost to follow-up), mencapai hampir 83%.
Dua pilihan operasi utama untuk osteosarkoma ialah Limb Salvage Surgery (LSS) dengan mengangkat tumor sambil mempertahankan tungkai dan amputasi atau mengangkat seluruh segmen tulang yang terkena.
Dalam penelitian ini, pasien yang menjalani LSS memiliki median EFS 7 bulan, sedikit lebih lama dibanding amputasi (4 bulan). Namun, perbedaan ini tidak signifikan secara statistik, terutama karena data pasien yang tidak lengkap.
Hal menarik lainnya, tingkat kekambuhan justru lebih tinggi pada pasien LSS. Namun, ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti stadium penyakit yang lebih berat atau terapi yang tidak tuntas.
Secara teori dan berdasarkan penelitian global, kemoterapi—baik sebelum operasi (neoadjuvan) maupun sesudahnya (adjuvan)—sangat menentukan keberhasilan terapi osteosarkoma. Pada studi ini, pasien yang mendapat neoadjuvan memiliki median EFS lebih baik (6 bulan) dibandingkan yang tidak (4 bulan), walaupun perbedaan ini juga tidak signifikan.
Masalah utama kembali pada ketidaklengkapan terapi, banyak pasien yang tidak menyelesaikan seluruh rangkaian kemoterapi, sebagian karena kendala finansial, jarak, atau efek samping.
Penelitian ini menegaskan bahwa tantangan terbesar pengelolaan osteosarkoma di Indonesia bukan hanya pada teknik operasi atau ketersediaan obat, melainkan keterlambatan diagnosis, keterbatasan akses ke pusat layanan kanker, ketidaklengkapan terapi, tingginya angka putus kontak, dan minimnya data jangka panjang.
Meski angka ketahanan hidup dalam studi ini masih rendah, hasil ini memberikan pijakan penting untuk memperbaiki sistem pelayanan kanker tulang di Indonesia. Upaya seperti memperluas akses kemoterapi, memperkuat sistem pemantauan pasien, serta edukasi deteksi dini akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan angka harapan hidup.
Dengan perbaikan berkelanjutan, diharapkan masa depan penanganan osteosarkoma di Indonesia akan semakin baik, terutama bagi pasien muda yang sangat membutuhkan kesempatan hidup optimal. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved