Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
ASSOCIATION of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan organisasi geopolitik dan ekonomi yang menghimpun negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Memahami karakteristik wilayah ini tidak bisa dilepaskan dari pemahaman mengenai letak astronomis ASEAN. Posisi ini menjadi kunci utama yang membentuk pola iklim, keanekaragaman hayati, hingga potensi ekonomi negara-negara anggotanya. Secara umum, kawasan ini membentang luas di sekitar garis khatulistiwa dan diapit oleh dua benua serta dua samudra, menjadikannya salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia.
Pengetahuan mengenai koordinat dan letak astronomis ini sangat penting, tidak hanya bagi pelajar yang mendalami ilmu geografi, tetapi juga bagi pelaku bisnis dan pemerintahan untuk memetakan potensi sumber daya alam dan pertanian. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai posisi astronomis ASEAN beserta dampak langsungnya terhadap kehidupan di kawasan Asia Tenggara.
Letak astronomis adalah posisi suatu wilayah yang ditentukan berdasarkan garis lintang (latitude) dan garis bujur (longitude). Berdasarkan titik koordinat paling utara di Myanmar dan titik paling selatan di Indonesia, serta titik paling barat di Myanmar dan paling timur di Papua (Indonesia), maka letak astronomis ASEAN secara keseluruhan adalah:
28°LU (Lintang Utara) – 11°LS (Lintang Selatan) dan 93°BT (Bujur Timur) – 141°BT (Bujur Timur).
Dari koordinat tersebut, kita dapat menarik beberapa fakta geografis penting:
Dominasi wilayah ASEAN berada di belahan bumi utara, namun sebagian wilayah Indonesia (sebagai negara terbesar di kawasan ini) membentang hingga ke belahan bumi selatan.
Posisi astronomis yang mengapit garis khatulistiwa (ekuator) memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kondisi klimatologi di Asia Tenggara. Berikut adalah pengaruh utamanya:
Mayoritas negara ASEAN beriklim tropis karena dilalui oleh garis khatulistiwa. Wilayah ini mendapatkan penyinaran matahari sepanjang tahun dengan intensitas yang tinggi. Hal ini berbeda dengan Myanmar bagian utara yang memiliki iklim subtropis karena letaknya yang sudah berada di atas 23,5° LU.
Akibat pemanasan matahari yang intensif, tingkat penguapan di kawasan laut ASEAN sangat tinggi. Hal ini menyebabkan kelembapan udara yang tinggi dan curah hujan yang lebat sepanjang tahun. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi sektor agraris, terutama perkebunan padi, karet, dan kelapa sawit yang menjadi komoditas utama ekspor.
Sebagian besar negara ASEAN hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pergantian musim ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan angin muson (muson barat dan muson timur) yang bertiup bergantian setiap enam bulan sekali, membawa dampak pada pola tanam pertanian.
Rentang garis bujur dari 93°BT hingga 141°BT menyebabkan adanya perbedaan waktu yang cukup signifikan di antara negara-negara ASEAN. Secara umum, pembagian waktu di kawasan ini berkisar antara GMT+6:30 hingga GMT+9. Sebagai contoh:
Untuk memberikan gambaran yang lebih spesifik, berikut adalah rincian letak astronomis masing-masing negara anggota ASEAN. Data ini penting untuk memahami karakteristik spesifik setiap negara:
Selain letak astronomis, pemahaman mengenai batas geografis juga krusial untuk melihat posisi strategis ASEAN dalam geopolitik global:
Letak astronomis ASEAN yang strategis memberikan keuntungan ganda bagi negara-negara anggotanya. Di satu sisi, iklim tropis menjamin ketersediaan sumber daya alam hayati yang melimpah, mendukung ketahanan pangan, dan pariwisata alam. Di sisi lain, posisi silang di antara dua samudra menjadikan kawasan ini sebagai jalur pelayaran internasional yang vital. Memahami koordinat 28°LU - 11°LS dan 93°BT - 141°BT bukan sekadar menghafal angka, melainkan memahami potensi besar yang dimiliki oleh kawasan Asia Tenggara di mata dunia. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved