Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kritis Gunakan AI untuk Diagnosa Penyakit

M Iqbal Al Machmudi
10/12/2025 18:41
Kritis Gunakan AI untuk Diagnosa Penyakit
(freepik.com)

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) kini sudah masuk ke berbagai lini kehidupan manusia. Mulai dari membantu mengatur jadwal, menjawab pertanyaan ringan, memecahkan persoalan rumit, hingga memberikan gambaran awal diagnosis kesehatan, AI menjadi alat yang cepat, mudah diakses, dan tanpa biaya. 

Dalam beberapa kasus, masyarakat ternyata memilih berkonsultasi dengan AI sebelum mendatangi dokter. Pertimbangannya sederhana, AI dinilai lebih efisien. Namun, fenomena ini juga menghadirkan kekhawatiran karena masyarakat akhirnya menunda pemeriksaan medis dan mengandalkan rekomendasi obat dari sistem digital tersebut. 

Padahal, diagnosa kesehatan bukanlah sesuatu yang bisa sepenuhnya diserahkan pada algoritma.

PERCAYA DOKTER
Sikap tersebut juga dilakukan oleh Nia Kurniasih, 37, yang memilih untuk kritis dan tetap memeriksakan pada dokter untuk mengetahui penyakit lebih dalam. Nia yang merupakan seorang ibu rumah tangga mengakui tetap berpegang prinsip bahwa pemeriksaan profesional sebagai langkah paling utama. 

"Kadang pakai AI atau gampangnya google dulu, memastikan lebih detail atau pemeriksaa humanis baru ke dokter, jadi ingin tahu dulu gejalanya apa,” kata Nia kepada Media Indonesia, kemarin.

Menurut Nia, AI memang membantu memberikan panduan awal ketika gejala masih ringan dengan begitu bisa melakukan langkah pecengahan dini. Ia bahkan tidak menampik bahwa terkadang dirinya langsung ke apotek setelah membaca informasi dari internet. 

BUKAN KEPUTUSAN AKHIR
Baginya, kemampuan AI memang memberi gambaran cepat sehingga bsia memberikan obat kepada anak ketika sakit. Meski respon AI sangat cepat, tetapi bukan alasan untuk menggantikan konsultasi medis yang sebenarnya. 

Sebagai seorang ibu dari 2 anak, Nia juga kerap menggunakan AI untuk mengetahui kemungkinan penyebab penyakit anaknya. "Jadi kita gunakan AI untuk cari kemungkinan, atau diagnosa awal saja," ungkapnya. 

Namun, ia memastikan bahwa hasil pencarian itu tidak pernah menjadi keputusan akhir. 
Nia mengakui bahwa penggunaan AI untuk kesehatan baginya hanya bersifat informatif. Pengalaman kehilangan sang ayah memperkuat pandangannya. 

Sang ayah yang berusia 76 tahun mengalami keluhan lambung yang cukup mengganggu. Awalnya, keluarga mencoba memahami gejala melalui AI untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya. 

Nia memandang masyarakat sebaiknya tidak menelan mentah-mentah seluruh informasi yang disajikan AI. Teknologi, betapapun canggihnya, tetap tidak memiliki kemampuan meraba nadi, mendengar debaran jantung, mengetahui melihat perubahan fisik, atau menilai tanda-tanda klinis yang hanya dapat diamati secara langsung. “Jadi kita tetap kritis gunakan AI,” ucapnya mantap. 

KESEHATAN MODERN
Ternyata AI juga bisa membantu menerjemahkan bahasa isyarat ke teks yang dinamakan Real-Time Sign Language Interpreter yang dikembangkan siswa SMAN 2 Kota Tangsel, Rajendra Verrill Hafizha.

"Saya melihat masyarakat tuli menghadapi tantangan besar dalam berkomunikasi, baik dengan sesama maupun dengan masyarakat umum.

Kesenjangan itu nyata, dan saya ingin berkontribusi untuk mengatasinya dengan teknologi," kata Rajendra.
Dalam prosesnya, proyek tersebut menuntut pengumpulan data dalam jumlah besar untuk membangun model kecerdasan buatan yang akurat. Ia  harus menghimpun ribuan gambar dari berbagai gestur tangan sebelum melatih model AI yang mampu bekerja secara real-time.

Ia menilai AI memiliki peran penting dalam sektor kesehatan modern. AI bisa menjadi sistem personalisasi virtual yang mengingatkan dan membimbing kita membangun kebiasaan hidup sehat. Dengan data seperti tinggi badan, berat, usia, dan pola hidup, AI bisa menganalisis kebutuhan nutrisi, aktivitas, bahkan risiko kesehatan. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya