Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Topik mengenai rata-rata IQ orang Indonesia kembali menjadi sorotan publik dan bahan diskusi yang hangat di berbagai platform media sosial maupun akademis. Kecerdasan Intelektual atau Intelligence Quotient (IQ) sering kali dijadikan salah satu tolok ukur kemampuan kognitif suatu bangsa dalam memecahkan masalah, logika, dan pemahaman verbal. Berdasarkan data yang dirilis oleh World Population Review pada tahun 2022, rata-rata skor IQ penduduk Indonesia tercatat berada di angka 78,49.
Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi ke-130 dari 199 negara yang disurvei di seluruh dunia. Meskipun angka ini hanyalah sebuah indikator statistik dan bukan penentu mutlak potensi seseorang, data tersebut memberikan gambaran umum mengenai tantangan sumber daya manusia yang dihadapi bangsa ini. Penting untuk memahami bahwa skor IQ suatu populasi bukanlah takdir genetik semata, melainkan hasil akumulasi dari berbagai faktor lingkungan, kesehatan, dan pendidikan yang kompleks.
Untuk melihat konteks yang lebih relevan, kita perlu membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Variasi skor IQ di kawasan ini cukup mencolok, yang mencerminkan kesenjangan dalam sistem pendidikan dan akses nutrisi di masing-masing negara.
Berikut adalah gambaran umum peringkat IQ di beberapa negara ASEAN berdasarkan data agregat internasional:
Ketimpangan ini menjadi sinyal bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengevaluasi kembali infrastruktur dasar yang mendukung perkembangan otak anak sejak usia dini.
Rendahnya skor rata-rata IQ orang Indonesia tidak terjadi secara kebetulan. Para ahli sepakat bahwa kecerdasan kognitif dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Dalam konteks Indonesia, faktor lingkungan memegang peranan yang sangat dominan.
Salah satu penyebab utama yang sering dikutip oleh para ahli kesehatan adalah prevalensi stunting (tengkes) yang masih cukup tinggi. Kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan anak tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dibandingkan anak yang tumbuh sehat. Nutrisi seperti zat besi, yodium, dan protein sangat krusial bagi pembentukan sinaps otak.
Sistem pendidikan juga berkorelasi lurus dengan hasil tes IQ. Tes IQ modern sering kali mengukur kemampuan logika matematika dan pemahaman verbal yang sangat dipengaruhi oleh kualitas sekolah. Hasil tes PISA (Programme for International Student Assessment) yang mengukur kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia yang masih berada di papan bawah, sejalan dengan data skor IQ tersebut. Kurangnya budaya membaca dan metode pengajaran yang belum merata di seluruh pelosok negeri menjadi tantangan tersendiri.
Teori lain yang dikemukakan oleh peneliti seperti Christopher Eppig menunjukkan adanya hubungan antara beban penyakit infeksi di suatu negara dengan rata-rata IQ penduduknya. Energi tubuh yang seharusnya digunakan untuk perkembangan otak, pada anak-anak di negara tropis dengan sanitasi buruk, sering kali teralihkan untuk melawan infeksi parasit atau penyakit menular.
Meskipun data mengenai rata-rata IQ orang Indonesia tampak memprihatinkan, penting untuk dicatat bahwa IQ bukanlah satu-satunya indikator kecerdasan atau kesuksesan. Tes IQ memiliki kritik tersendiri karena dianggap bias budaya (cultural bias) dan lebih menguntungkan masyarakat yang terbiasa dengan pola pendidikan Barat.
Selain IQ, terdapat kecerdasan lain yang tak kalah penting, seperti:
Pemerintah Indonesia menyadari tantangan ini dan telah menargetkan penurunan angka stunting secara agresif sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Peningkatan anggaran pendidikan dan perbaikan kurikulum melalui Kurikulum Merdeka juga diharapkan dapat mendongkrak kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Meningkatkan skor IQ nasional bukan sekadar mengejar angka, melainkan memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan haknya atas nutrisi yang baik, lingkungan yang sehat, dan pendidikan yang berkualitas. Dengan perbaikan sistemik pada sektor kesehatan dan pendidikan, potensi kognitif generasi penerus bangsa dapat dimaksimalkan, sehingga mampu bersaing di kancah global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved