Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
UMAT Muslim di Indonesia tentu sudah tidak asing dengan kalimat shadaqallahul adzim. Kalimat thayyibah ini lazim diucapkan sebagai penutup setelah seseorang selesai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Pengucapan kalimat ini merupakan bentuk pengakuan seorang hamba akan kebenaran mutlak dari firman Allah SWT yang baru saja dibacanya. Namun, masih banyak yang belum memahami secara mendalam mengenai penulisan yang benar, makna harfiah, hingga hukum membacanya menurut pandangan para ulama.
Secara bahasa, kalimat ini mengandung makna pengagungan terhadap Allah SWT atas segala firman-Nya. Berikut adalah penulisan Arab yang benar beserta harakatnya:
صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ
Latin: Shadaqallahul 'adzim
Artinya: "Maha Benar Allah yang Maha Agung."
Kalimat ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang tercantum di dalam Al-Qur'an adalah kebenaran sejati (Al-Haq) yang datangnya dari Zat yang Maha Agung, tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
Perbincangan mengenai hukum mengucapkan kalimat ini setelah membaca Al-Qur'an sering kali muncul di kalangan masyarakat. Apakah ini termasuk bid'ah atau justru dianjurkan? Mayoritas ulama berpendapat bahwa mengucapkan shadaqallahul adzim adalah perbuatan yang baik (mustahabb) dan termasuk bagian dari adab terhadap Al-Qur'an.
Hal ini merujuk pada perintah Allah SWT di dalam Al-Qur'an itu sendiri. Salah satu landasannya terdapat dalam Surat Ali 'Imran ayat 95:
قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Artinya: Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali 'Imran: 95)
Berdasarkan ayat tersebut, para ulama tafsir menjelaskan bahwa perintah "Qul shadaqallah" (Katakanlah: Benarlah Allah) dapat dimaknai sebagai anjuran untuk membenarkan firman-Nya, baik secara lisan maupun keyakinan dalam hati. Oleh karena itu, mengucapkannya setelah tilawah dianggap sebagai bentuk implementasi dari ayat tersebut.
Para ulama Al-Azhar Mesir dan mayoritas ulama Nusantara sepakat bahwa membaca shadaqallahul adzim usai tilawah bukanlah bid'ah yang tercela. Justru, ini adalah bentuk dzikir dan pengagungan yang memiliki landasan syar'i. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya juga menyebutkan bahwa salah satu etika menghormati Al-Qur'an adalah membenarkan isinya setelah membacanya dengan mengucapkan kalimat tersebut.
Mengucapkan kalimat ini bukan sekadar ritual penutup, melainkan memiliki dampak spiritual bagi pembacanya. Berikut adalah beberapa hikmahnya:
Selain menutup dengan shadaqallahul adzim, seorang Muslim hendaknya memperhatikan adab-adab lain agar interaksi dengan kitab suci mendapatkan keberkahan maksimal. Beberapa adab tersebut antara lain:
Dengan memahami makna dan hukum shadaqallahul adzim, kita diharapkan dapat semakin khusyuk dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an. Kalimat ini menjadi pengunci yang indah, yang menegaskan bahwa segala petunjuk hidup telah Allah sampaikan dengan kebenaran yang sempurna.
(P-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved