Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Surat Maryam Ayat 30-35: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir Mukjizat Nabi Isa

Thalatie K Yani
04/12/2025 10:42
Surat Maryam Ayat 30-35: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir Mukjizat Nabi Isa
Ilustrasi(freepik)

Kisah Pembelaan Nabi Isa AS dalam Surat Maryam

Salah satu momen paling dramatis dan penuh hikmah dalam sejarah kenabian terekam jelas dalam surat maryam ayat 30-35. Ayat-ayat ini mengisahkan peristiwa luar biasa ketika Nabi Isa AS, yang saat itu masih bayi dalam buaian, berbicara dengan lantang atas izin Allah SWT. Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat, melainkan sebuah pembelaan suci terhadap ibundanya, Siti Maryam, yang kala itu sedang dicerca dan dituduh melakukan perbuatan keji oleh kaumnya.

Dalam narasi Al-Qur'an, Surat Maryam memberikan perspektif yang jernih mengenai posisi Nabi Isa AS dalam teologi Islam. Beliau mendeklarasikan dirinya sebagai hamba Allah, bukan anak Tuhan, serta menjelaskan misi kenabian yang diembannya. Berikut adalah bacaan lengkap, terjemahan, serta tafsir mendalam mengenai ayat-ayat tersebut.

Bacaan Surat Maryam Ayat 30-33: Pengakuan Hamba Allah

Pada ayat 30 hingga 33, Allah SWT merekam perkataan pertama Nabi Isa AS. Ayat ini menjadi jawaban telak bagi kaum Bani Israil yang meragukan kesucian Maryam.

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32) وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (33)

Latin:
30. Qāla innī ‘abdullāh(i), ātāniyal-kitāba wa ja‘alanī nabiyyā(n).
31. Wa ja‘alanī mubārakan ainamā kuntu wa auṣānī biṣ-ṣalāti waz-zakāti mā dumtu ḥayyā(n).
32. Wa barram biwālidatī wa lam yaj‘alnī jabbāran syaqiyyā(n).
33. Was-salāmu ‘alayya yauma wulittu wa yauma amūtu wa yauma ub‘aṡu ḥayyā(n).

Artinya:
30. Dia (Isa) berkata, "Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
31. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
32. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."

Tafsir dan Kandungan Ayat 30-33

Berdasarkan tafsir dari Kementerian Agama RI dan Ibnu Katsir, terdapat beberapa poin fundamental dalam ayat ini:

  • Deklarasi Tauhid: Kalimat pertama yang keluar dari lisan Nabi Isa adalah "Inni Abdullah" (Sesungguhnya aku hamba Allah). Ini adalah penegasan bahwa Isa adalah makhluk ciptaan, bukan pencipta atau anak Tuhan.
  • Kenabian dan Kitab: Meskipun masih bayi, Allah telah menetapkan takdirnya sebagai penerima wahyu (Injil) dan seorang Nabi.
  • Perintah Syariat: Nabi Isa AS diperintahkan untuk mendirikan salat dan menunaikan zakat. Ini menunjukkan bahwa syariat salat dan zakat telah ada pada nabi-nabi terdahulu sebagai pilar agama.
  • Birrul Walidain: Nabi Isa menegaskan posisinya untuk berbakti kepada ibunya, Maryam. Ini sekaligus membantah tuduhan kaumnya bahwa ia adalah anak hasil perzinahan. Anak yang saleh dan nabi yang suci tidak mungkin lahir dari rahim yang kotor.

Bacaan Surat Maryam Ayat 34-35: Penegasan Kebenaran

Setelah mengutip perkataan Nabi Isa, Allah SWT kemudian memberikan penegasan (firman langsung) mengenai hakikat Isa ibnu Maryam untuk meluruskan perselisihan yang terjadi di kalangan Ahli Kitab.

ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34) مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٍ ۖ سُبْحَانَهُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ (35)

Latin:
34. Żālika ‘Īsabnu Maryam(a), qaulal-ḥaqqil-lażī fīhi yamtarūn(a).
35. Mā kāna lillāhi ay yattakhiża miw waladin subḥānah(ū), iżā qaḍā amran fa innamā yaqūlu lahū kun fa yakūn(u).

Artinya:
34. Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya.
35. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.

Analisis Teologis Ayat 34-35

Pada bagian ini, Al-Qur'an memberikan garis demarkasi yang tegas mengenai akidah Islam terkait Nabi Isa AS:

  1. Bantahan Keraguan: Frasa "qaulal-haqq" (perkataan yang benar) menegaskan bahwa kisah yang disampaikan Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak, membantah berbagai versi sejarah yang simpang siur atau diubah oleh manusia.
  2. Mahasuci Allah dari Memiliki Anak: Ayat 35 adalah bantahan teologis terhadap konsep trinitas atau anggapan bahwa Allah memiliki keturunan biologis maupun spiritual dalam bentuk manusia. Allah adalah As-Shamad (tempat bergantung) yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.
  3. Kekuasaan Kun Fayakun: Penciptaan Nabi Isa tanpa ayah adalah mudah bagi Allah, sama mudahnya dengan penciptaan Nabi Adam tanpa ayah dan ibu. Cukup dengan firman "Kun" (Jadilah), maka terciptalah ia.

Hikmah yang Dapat Diambil

Mempelajari surat Maryam ayat 30-35 memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam masa kini. Pertama, pentingnya menjaga prasangka baik dan tidak mudah menuduh orang lain tanpa bukti, sebagaimana Maryam yang suci dituduh berzina. Kedua, ayat ini mengajarkan kita untuk selalu menempatkan tauhid sebagai landasan utama; meyakini kekuasaan Allah yang tidak terbatas logika manusia.

Ketiga, perintah untuk berbakti kepada orang tua, khususnya ibu, adalah syariat lintas zaman yang wajib dijalankan oleh setiap mukmin agar terhindar dari sifat sombong dan celaka. Bagi Anda yang ingin mendalami lebih lanjut surah ini, Anda dapat membaca teks lengkapnya di laman Surat Maryam pada layanan Al-Qur'an Online Media Indonesia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya