Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PERINGATAN Hari Disabilitas Internasional (HDI) diisi dengan kompetisi sengit sekaligus ajakan masif untuk melawan intimidasi. Ajang "Sahabat Istimewa in Action 2025" yang mempertemukan ratusan anak dan remaja difabel dari seluruh Indonesia.
Hal ini didorong oleh satu kebutuhan mendesak yaitu melawan kasus bullying yang masih menjadi masalah tertinggi bagi komunitas difabel dan keluarganya.
Founder Belantara Budaya Indonesia (BBI), Diah Kusumawardani Wijayanti, menekankan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah dampak psikologi sosial yang dialami anak dan orang tua.
"Bully sih paling tinggi ya. Kalau anak difabel di-bully, sebenarnya orang tua yang paling disakitin," ujar Diah di Gandaria City (23/11).
"Masalah utama bullying di sekolah umum atau sekolah inklusi yang belum teredukasi, adalah kurangnya penerimaan terhadap anak-anak istimewa," sambungnya.
BBI menyadari bahwa mendorong anak tampil adalah jurus paling ampuh untuk menciptakan penerimaan sosial yang alami.
Kasus bullying ini erat kaitannya dengan tantangan terbesar yang dihadapi BBI, yaitu meyakinkan orang tua difabel.
"Kebayang enggak sih kalau orang tuanya sudah narik anaknya, malu tentang anaknya, ditaruh di rumah aja, gimana mereka mau berkembang?" tanya Diah.
Menurutnya, peran orang tua adalah tiang utama bagi anak difabel. Awalnya, banyak pihak yang sinis terhadap inisiatif kompetisi bakat ini, meragukan kemampuan anak-anak difabel untuk tampil. Namun, suksesnya penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya kini menjadi ruang sharing bagi hampir 9.000 siswa di 22 sekolah difabel dan inklusif di bawah naungan BBI.
Keberhasilan anak didik BBI, seperti yang sempat tampil di Osaka Expo, Jepang, tahun lalu, menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan diri yang ditanamkan BBI telah membawa anak-anak istimewa ini melangkah ke tingkat internasional.
"Kami ingin anak-anak spesial ini bisa bercahaya, mereka bisa percaya diri, dan punya sesuatu yang bisa mereka banggakan di panggung ini," tegas Diah.
Ajang "Sahabat Istimewa in Action" yang kini memasuki tahun ketiga ini berhasil menjaring peserta dari berbagai kategori disabilitas mulai dari Tuli, Tuna Netra, Down Syndrome, hingga disabilitas ganda. Hari ini, para finalis "bertarung" memperebutkan gelar juara dan mendapatkan panggung untuk berekspresi.
Selain kompetisi utama, BBI juga menggabungkan anak difabel dan non-difabel dalam kegiatan panitia maupun performance lain. Hal ini dilakukan untuk menciptakan penerimaan sosial yang alami, sehingga mereka bisa berbaur dan bekerja sama.
Diah juga menyoroti aspek kemandirian ekonomi berkelanjutan sebagai salah satu tujuan utama program BBI. Anak-anak difabel yang dilatih menari atau berkarya kini tidak hanya mendapatkan pelatihan gratis, tetapi juga sudah dapat merasakan dampak ekonomi.
"Mereka sudah berdampak ekonomi. Mereka tampil bercahaya, mereka dibayar. Berdampak ekonomi itu penting banget," pungkasnya.
Program ini memastikan bahwa keterampilan yang diasah tidak hanya menjadi hobi, tetapi juga bekal profesi, di mana para peserta kini mulai mengajar di SLB atau dibayar untuk tampil.
Sebagai penutup, Diah berharap dukungan nyata dari Pemerintah tidak melulu berbentuk dana, tetapi lebih pada kesempatan tampil dan berkarya.
"Anak-anak ini yang sudah berkarya ini, bisa dikasih panggung kesempatan buat mereka di mana-mana tampil. Diajak jadi panitia suatu acara, seperti itu sih," tutup Diah.
“Ajang ini diharapkan dapat memberikan panggung bagi sobat disabilitas untuk unjuk bakat dan karya, yang dapat berdampak pada peningkatan kepercayaan diri mereka.”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved