Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

3 Alumnus Indonesia Berprestasi Raih Australia Awards 2025

Cornelius Juan Prawira
21/11/2025 07:33
3 Alumnus Indonesia Berprestasi Raih Australia Awards 2025
The Hon Tim Watts MP - Special Envoy for Ibdonesia Australia William Sabandar - Alumni of the Year 2025. Annete Anhar - Penghargaan Inovasi dan Kewirausahaan. Alimatul Qibtiyah - Penghargaan Mempromosikan Pemberdayaan Perempuan dan Inklusi Sosial. Gita Kam(Kedutaan Australia)

KEDUTAAN Besar Australia untuk Indonesia menganugerahkan tiga alumnus penerima program beasiswa "Australia Awards". Ketiganya mengenyam pendidikan di luar negeri, namun kembali ke Indonesia dan turut bersumbangsih melalui teknologi transportasi, pariwisata, dan pemberdayaan sosial. 

Ketiga alumnus itu William Sabandar dengan penghargaan Alumni of the Year 2025, Annete Anhar dengan Penghargaan Inovasi dan Kewirausahaan, dan Alimatul Qibtiyah dengan Penghargaan Mempromosikan Pemberdayaan Perempuan dan Inklusi Sosial.

Kuasa Usaha Australia untuk Indonesia, Gita Kamath mengatakan penghargaan ini untuk menghormati kepemimpinan alumni dan kontribusi positif mereka. "Kami sangat bangga dengan semua pencapaian mereka. Mereka semua membuat kontribusi yang sangat positif  untuk kemanusiaan Indonesia," ungkap Kamath yang mengenakan kebaya hitam dengan selendang coklat bercorak khas jawa dalam gala dinner yang dimeriahkan 400 alumni dan tamu kehormatan, Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Pendidikan yang kolaboratif dan berdampak 

Annette Anhar yang menempuh pendidikan di Monash University mengatakan, pendidikan di negeri kangguru itu mengajarkannya untuk memiliki rasa penasaran dan berpikir secara terstruktur dan analistis. 

"Australia mengubah segalanya tentang bagaimana saya mengembangkan bisinis," kata Annette yang juga adalah Direktur Tugu Hotel Grup. Ia belajar tentang diplomasi dan kolaborasi. "Misi saya adalah membawa kembali warisan Indonesia untuk hidup dalam bisnis," pungkasnya  dalam akhir pidato. 

Alifatul Qibtiyah menyatakan penghargaan itu bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, namun untuk ribuan orang yg mengalami ketidakadillan dan margainalisasi. Selama studi, perempuan lulusan Western Sydney University itu belajar bekerja sama dalam komunitas dan membangun hubungan diplomatik yang berkomitemen pada keadilan.

"Sukses adalah berdampak bagi sesama. Gunakan pendidikan untuk menyuarakan (kemanusiaan) dari ribuan orang dengan tidak meninggalkan siapapun," jelas Alifatul yang pernah menjabat sebagai Komisi Nasional Perempuan pada 2020-2024. Untuk mewujudkan itu, ia menegaskan perlunya membukan diri pada sistem yang inklusif, bukan berbasis ego. (Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik