Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Pernikahan bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai. Dalam Islam, tujuan pernikahan adalah ibadah mulia yang membawa keberkahan dunia dan akhirat. Allah SWT dan Rasul-Nya telah menjelaskan dengan indah mengapa pernikahan menjadi salah satu sunnah yang paling dianjurkan. Mari kita telusuri 7 tujuan utama pernikahan dalam Islam, lengkap dengan dalil dari Al-Quran dan hadits shahih.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran yang mulia:
Arab: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Latin: Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājan litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddatan wa raḥmah. Inna fī żālika laāyātin liqawmin yatafakkarūn.
Terjemah: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan bagimu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Tujuan pernikahan pertama adalah menciptakan ketenangan hati. Rumah tangga menjadi tempat pulang yang nyaman setelah lelah berjuang di dunia. Bukan sekadar tempat tinggal, tapi oase jiwa di tengah badai kehidupan.
Mawaddah adalah cinta yang tulus, bukan hanya nafsu sesaat. Cinta ini tumbuh dari saling menghargai, menghormati, dan mendukung dalam kebaikan.
Allah SWT berfirman:
Arab: هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا
Latin: Huwa alladzī khalaqakum min nafsin wāḥidatin wa ja‘ala minhā zawjahā liyaskuna ilaihā.
Terjemah: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raf: 189)
Cinta dalam tujuan pernikahan Islam bukan cinta buta, tapi cinta yang membawa kepada ketaatan pada Allah.
Rahmat adalah kasih sayang yang dalam, bahkan saat salah satu pihak melakukan kesalahan. Ini adalah bentuk pengampunan dan penerimaan yang tulus.
Rasulullah SAW bersabda:
Arab: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Latin: Khairukum khairukum li ahlihī wa anā khairukum li ahlī.
Terjemah: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Rasulullah SAW bersabda dengan tegas:
Arab: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Latin: Yā ma‘shara asy-syabāb, man istathā‘a minkum al-bā’ata falyatazawwaj fa innahu aghadhdhu lilbashari wa ahshanu lilfarj, wa man lam yastathi‘ fa ‘alaihi bish-shaum fa innahu lahū wijā’.
Terjemah: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menekan syahwatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Tujuan pernikahan ini sangat jelas: melindungi diri dari perbuatan zina dan dosa besar lainnya.
Rasulullah SAW menganjurkan menikahi wanita yang subur dan penyayang:
Arab: تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Latin: Tazawwajū al-wadūda al-walūda fa innī mukāthirun bikumu al-umama yauma al-qiyāmah.
Terjemah: “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian kepada umat-umat lain pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud & An-Nasa’i)
Anak bukan hanya penerus nama, tapi juga penerus dakwah dan amal shalih orang tuanya.
Pernikahan menyatukan dua keluarga, bahkan dua komunitas. Ini adalah cara Allah memperluas rahmat-Nya melalui ikatan darah dan persaudaraan.
Allah SWT berfirman:
Arab: وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
Latin: Wa huwa alladzī khalaqa mina almā’i basyaran faja‘alahū nasaban wa shihran wa kāna rabbuka qadīran.
Terjemah: “Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan mushaharah (keluarga dari pernikahan). Dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (QS. Al-Furqan: 54)
Tujuan pernikahan ini mengajarkan kita untuk saling menghormati mertua, ipar, dan keluarga besar pasangan.
Setiap kebaikan dalam rumah tangga adalah ibadah. Bahkan hubungan suami-istri yang halal dicatat sebagai sedekah.
Rasulullah SAW bersabda:
Arab: وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
Latin: Wa fī bud‘i aḥadikum shadaqah.
Terjemah: “Dan pada kemaluan salah seorang di antara kalian ada sedekahnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya lalu mendapat pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia menyalurkannya pada yang haram, bukankah ia berdosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim)
Agar tujuan pernikahan ini terwujud, persiapan matang sangat diperlukan:
Tujuan pernikahan dalam Islam adalah jalan menuju kebahagiaan hakiki: ketenangan jiwa, cinta yang tulus, rahmat yang melimpah, kehormatan terjaga, keturunan shalih, ukhuwah yang kuat, dan ridha Allah SWT. Mulailah pernikahan dengan niat suci, jalani dengan penuh kesabaran, dan akhiri dengan husnul khotimah.
Semoga Allah jadikan rumah tangga kita semua termasuk golongan yang mendapatkan sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved