Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Xenotransplantasi atau transplantasi organ antarspesies kian mendekati penerapan klinis setelah para ilmuwan berhasil mengurai mekanisme penolakan organ babi oleh sistem imun manusia. Terobosan ini memberi harapan baru bagi jutaan pasien yang bergantung pada donor organ.
Salah satu hambatan terbesar adalah penolakan hiperakut, yang terjadi hanya dalam hitungan menit hingga jam setelah organ babi masuk ke tubuh manusia. Reaksi cepat ini dipicu oleh molekul asing di permukaan sel babi yang langsung dibaca sebagai ancaman oleh sistem imun.
Untuk memahami proses tersebut secara menyeluruh, dikutip dari laman NYU Langone Health, uji coba dilakukan pada seorang resipien yang mati otak (brain-dead) dengan jantung yang masih berdetak dan dibantu ventilator. Tubuh pria itu didonasikan untuk kepentingan ilmiah dan memungkinkan pemantauan intensif selama 61 hari, sesuatu yang tak mungkin dilakukan pada pasien hidup.
Sepanjang periode pemantauan, para ilmuwan mengumpulkan sampel jaringan, darah, serta cairan tubuh untuk membuat peta rinci interaksi antara sel imun manusia dan ginjal babi.
Temuan mereka mengungkap dua aktor utama yang memicu penolakan, yakni antibodi, protein yang menandai zat asing untuk diserang dan Sel T, sel yang bertugas memburu dan menghancurkan target tertentu.
Dengan memahami pola reaksi tersebut, para peneliti akhirnya berhasil membalikkan episode penolakan terhadap organ babi. Intervensi dilakukan menggunakan kombinasi obat yang telah disetujui Food and Drug Administration (FDA) AS, dengan tujuan menekan aktivitas antibodi serta sel T.
"Hasil kami lebih mempersiapkan kami untuk mengantisipasi dan mengatasi reaksi imun yang berbahaya selama transplantasi organ babi pada manusia yang hidup," ujar penulis utama studi, Dr. Robert Montgomery.
"Ini menjadi dasar bagi uji klinis yang lebih sukses dalam waktu dekat," lanjutnya.
Setelah terapi diberikan, tidak ditemukan bukti kerusakan permanen atau penurunan fungsi, menunjukkan bahwa ginjal babi dapat bekerja efektif menggantikan fungsi ginjal manusia.
Organ yang digunakan dalam penelitian ini disediakan oleh Revivicor, anak perusahaan United Therapeutics. Ginjal tersebut telah mengalami rekayasa genetika untuk meminimalkan reaksi penolakan awal.
Upaya rekayasa genetika ini menandai langkah besar menuju transplantasi organ babi yang aman pada manusia, sekaligus membuka jalan bagi uji klinis di masa depan.
Upaya mengatasi krisis kekurangan donor organ mendapat harapan baru setelah tim ilmuwan dari Kanada dan Tiongkok berhasil mengembangkan Universal Kidney atau ginjal hasil rekayasa.
Peneliti berhasil mengubah ginjal bergolongan darah A menjadi tipe O menggunakan enzim, menciptakan potensi donor organ universal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved