Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

10 Puisi Berantai Islami Lucu 3 Orang Paling Menghibur dan Penuh Makna

Thalatie K Yani
16/11/2025 09:00
10 Puisi Berantai Islami Lucu 3 Orang Paling Menghibur dan Penuh Makna
Ilustrasi(freepik)

Puisi berantai Islami lucu 3 orang adalah cara seru untuk menyampaikan pesan agama dengan sentuhan humor. Cocok untuk acara keagamaan, pengajian, atau hiburan di sekolah, puisi ini menggabungkan nilai-nilai Islam dengan kelucuan yang bikin ngakak. Dalam artikel ini, kami sajikan 10 contoh puisi berantai Islami lucu 3 orang yang mudah dipahami, cocok untuk semua usia, dan bisa langsung kamu gunakan!

Apa Itu Puisi Berantai Islami Lucu 3 Orang?

Puisi berantai adalah puisi yang dibacakan oleh beberapa orang secara bergantian, dengan alur cerita yang saling terhubung. Dalam versi Islami lucu, puisi ini memadukan nilai-nilai agama seperti keimanan, kebaikan, dan humor yang sopan. Biasanya, tiga orang akan memainkan peran berbeda, misalnya ustaz, santri, dan pedagang, yang saling sindir dengan cara lucu tapi tetap penuh makna.

Kenapa Puisi Berantai Islami Lucu Disukai?

  • Menghibur dan bikin suasana cair.
  • Menyampaikan pesan agama dengan cara ringan.
  • Cocok untuk acara komunitas, seperti pengajian atau perayaan hari besar Islam.
  • Mudah dihafal dan dibawakan oleh anak-anak hingga dewasa.

10 Contoh Puisi Berantai Islami Lucu 3 Orang

Berikut adalah 10 contoh puisi berantai Islami lucu 3 orang yang bisa kamu coba. Setiap puisi memiliki tema dan peran yang berbeda, dijamin bikin penonton tersenyum!

1. Puisi Berantai: Ustaz, Santri, dan Tukang Bakso

Ustaz:
Aku ustaz, penyampai ilmu agama,
Mengajarkan tauhid, jangan lupa sholat jamaah,
Tapi santri ini, kok, malah melamun saja,
Mikir bakso apa sholat yang didahulukan?

Santri:
Wahai ustaz, jangan marah dulu,
Perutku lapar, otakku tak jalan satu,
Tukang bakso lewat, aromanya menggoda,
Boleh nggak sih, sholat sambil makan bakso?

Tukang Bakso:
Bakso kuah panas, kuahnya bening,
Makan satu, pasti ketagihan, kawan!
Tapi santri, dengar nasihat ustaz,
Sholat dulu, baru bakso, itu baru hebat!

2. Puisi Berantai: Hafiz, Penutup Aurat, dan Penutup Jalan

Hafiz:
Aku hafiz, penghafal Al-Qur’an,
Tiap ayat kuhafal dengan penuh semangat,
Tapi lihat nih, penutup aurat kok lupa,
Jilbabnya mana? Kok malah pakai topi?

Penutup Aurat:
Aku menutup aurat, sesuai syariat,
Jilbab lebar, hati pun ikut selamat,
Tapi penutup jalan, apa kabar imanmu?
Jalanan ditutup, macet deh pengajianku!

Penutup Jalan:
Jalan kututup, biar aman proyeknya,
Tapi tenang, ini demi kebaikan semua,
Hafiz, ajari aku baca Al-Qur’an,
Biar hidupku penuh berkah, tak cuma aspal!

3. Puisi Berantai: Dai, Penutup Dosa, dan Penutup Dompet

Dai:
Aku dai, suka berdakwah di mana saja,
Mengajak taubat, tinggalkan dosa selamanya,
Tapi penutup dosa, kok, malah buka dompet,
Sedekahnya mana? Jangan pelit, ya!

Penutup Dosa:
Dosa kucoba tutup dengan amal sholeh,
Sholat, puasa, dan baca Qur’an setiap hari,
Tapi penutup dompet, duitmu ke mana?
Sedekah itu investasi akhirat, lho!

Penutup Dompet:
Dompetku tipis, bukan karena pelit,
Tapi harga sembako naik, hidupku sulit,
Dai, doakan aku, biar rezeki lancar,
Nanti kusedekahkan semua, tak ada sisa!

4. Puisi Berantai: Muazin, Santri, dan Pedagang

Muazin:
Adzan berkumandang, panggilan sholat,
Ayo ke masjid, jangan cuma ngelamun,
Santri, kenapa kok masih di warung?
Denger adzan, buruan wudhu!

Santri:
Muazin, sabun wudhu habis, nih,
Aku ke warung, beli sabun sama camilan,
Pedagang, jangan jual mahal, ya,
Biar aku cepet wudhu, tak telat sholat!

Pedagang:
Warungku kecil, tapi rezeki halal,
Sabun, camilan, semua ada di etalase,
Muazin, santri, mari ke masjid dulu,
Daganganku nanti, sholat jangan ditunda!

5. Puisi Berantai: Imam, Makmum, dan Penutup Pintu

Imam:
Aku imam, memimpin sholat dengan khusyuk,
Makmum di belakang, ikut gerakan serentak,
Tapi penutup pintu, kok, malah bikin ribut,
Pintu dibanting, fokusku hilang!

Makmum:
Imam, maaf, aku khusyuk kok tadi,
Tapi penutup pintu bikin aku kaget,
Pintu masjid ditutup, bunyinya kenceng,
Doa setelah sholat, jadi lupa baca!

Penutup Pintu:
Maaf, kawan, pintu masjid agak rusak,
Aku tutup pelan, tapi tetap bunyi,
Imam, makmum, ajak aku sholat bareng,
Biar pintu rusak tak ganggu ibadah!

6. Puisi Berantai: Guru Ngaji, Murid, dan Tukang Ojek

Guru Ngaji:
Aku guru ngaji, ajarkan huruf hijaiyah,
Muridku banyak, tapi kok susah diatur,
Tukang ojek, tolong antar muridku,
Biar cepat sampai, tak telat ngaji!

Murid:
Guru, huruf hijaiyah susah dilupain,
Tapi perutku keroncongan, minta makan,
Tukang ojek, anter aku ke warung dulu,
Nanti ngaji, biar hafal Al-Fatihah!

Tukang Ojek:
Ojekku cepat, bawa ke mana saja,
Murid, ke warung atau ke tempat ngaji?
Guru, doakan rezekiku lancar,
Biar aku anter muridmu tiap hari!

7. Puisi Berantai: Santri, Ustadzah, dan Penjual Jilbab

Santri:
Aku santri, belajar di pesantren,
Ustadzah bilang, jilbab itu wajib,
Tapi penjual jilbab, harganya mahal,
Bisa diskon nggak, buat santri miskin?

Ustadzah:
Santri, jilbab itu penutup aurat,
Pilih yang syar’i, jangan yang ketat,
Penjual jilbab, bantu santriku ini,
Kasih diskon, biar auratnya terjaga!

Penjual Jilbab:
Jilbabku syar’i, modelnya cantik,
Santri, ustadzah, pilih yang kalian suka,
Diskon kuberikan, asal doakan laris,
Daganganku berkah, aurat pun terlindung!

8. Puisi Berantai: Pengkhotbah, Pendengar, dan Penutup Telinga

Pengkhotbah:
Aku pengkhotbah, suarakan kebaikan,
Ajak taubat, tinggalkan maksiat,
Tapi pendengar, kok, malah ngantuk,
Penutup telinga, dengar nggak ceramahku?

Pendengar:
Pengkhotbah, ceramahmu penuh hikmah,
Tapi mataku ngantuk, malam kurang tidur,
Penutup telinga, bantu aku fokus,
Biar ceramah ini masuk ke hati!

Penutup Telinga:
Bukan tutup telinga, cuma hindari bising,
Motor lewat, suaranya ganggu khotbah,
Pengkhotbah, pendengar, mari sama-sama,
Dengar ceramah, perbaiki iman kita!

9. Puisi Berantai: Qari, Jemaah, dan Penutup Al-Qur’an

Qari:
Aku qari, lantunkan ayat suci,
Al-Qur’an kuhafal, hatiku tenang,
Tapi jemaah, kok, malah main ponsel,
Penutup Al-Qur’an, ajari mereka adab!

Jemaah:
Qari, suaramu merdu, bikin hati damai,
Tapi ponselku bunyi, ada pesan masuk,
Penutup Al-Qur’an, bantu aku fokus,
Biar tilawah ini jadi berkah!

Penutup Al-Qur’an:
Al-Qur’an kututup dengan penuh hormat,
Qari, jemaah, mari sama-sama dengar,
Ayat suci ini penuh petunjuk,
Jangan main ponsel, fokus pada Tuhan!

10. Puisi Berantai: Muslim, Muslimah, dan Penutup Hati

Muslim:
Aku Muslim, menjaga iman di hati,
Sholat, puasa, tak pernah kutinggalkan,
Tapi muslimah, kenapa lupa hijab?
Penutup hati, ajari dia syariat!

Muslimah:
Muslim, aku pakai hijab, kok,
Tapi kadang lupa, maafkan aku,
Penutup hati, bantu aku kuatkan iman,
Biar hijabku sempurna, hati pun suci!

Penutup Hati:
Hati kututup dari godaan syaitan,
Muslim, muslimah, mari jaga iman,
Bersama-sama kita ke surga,
Dengan amal sholeh dan hati yang bersih!

Tips Membawakan Puisi Berantai Islami Lucu

Agar puisi berantai Islami lucu 3 orang kamu sukses, ikuti tips berikut:

  • Latihan Ekspresi: Gunakan intonasi lucu dan ekspresi wajah yang mendukung.
  • Koordinasi: Pastikan ketiga pembaca kompak dalam transisi.
  • Pilih Tema Relevan: Sesuaikan dengan acara, misalnya pengajian atau perayaan Maulid.
  • Jaga Adab: Humor harus sopan dan tidak menyinggung.

Manfaat Puisi Berantai Islami Lucu

Selain menghibur, puisi ini juga:

  • Mempererat ukhuwah Islamiyah.
  • Menyampaikan pesan moral dengan cara yang menarik.
  • Meningkatkan kreativitas dalam berdakwah.

Kesimpulan

Puisi berantai Islami lucu 3 orang adalah cara kreatif untuk menyampaikan nilai-nilai Islam dengan humor yang sopan. Dengan 10 contoh puisi di atas, kamu bisa langsung mempraktikkannya di acara keagamaan atau hiburan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya