Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Keajaiban Masjid Pecinan Tinggi: Warisan Toleransi Banten 400 Tahun

 Gana Buana
13/11/2025 17:54
Keajaiban Masjid Pecinan Tinggi: Warisan Toleransi Banten 400 Tahun
Hikayat Masjid Pecinan Tinggi.(Freepik)

MASJID Pecinan Tinggi adalah cerita lama yang penuh keajaiban. Bayangkan sebuah masjid tua di Banten yang sudah berdiri sejak 400 tahun lalu. Tempat ini bukan hanya bangunan biasa, tapi saksi bisu bagaimana Islam dan budaya Tionghoa bisa hidup berdampingan dengan damai. Jika Anda suka sejarah, cerita Masjid Pecinan Tinggi pasti membuat Anda penasaran. Yuk, kita telusuri hikayatnya bareng-bareng!

Sejarah Masjid Pecinan Tinggi yang Penuh Misteri

Masjid Pecinan Tinggi dibangun sekitar tahun 1552. Saat itu, Banten adalah pusat perdagangan ramai. Banyak pedagang dari Cina datang ke sini. Mereka tinggal di kawasan yang disebut Pecinan. Masjid ini dibuat khusus untuk mereka yang sudah masuk Islam. Pendirinya adalah Syarif Hidayatullah, atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Putranya, Sultan Maulana Hasanuddin, melanjutkan pembangunan. Jadi, Masjid Pecinan Tinggi adalah masjid pertama di Banten yang punya cerita seperti ini.

Nama "Pecinan Tinggi" muncul karena letaknya di pemukiman Cina yang tinggi. Dulu, masjid ini jadi pusat ibadah dan belajar agama. Orang-orang Tionghoa Muslim berkumpul di sini untuk salat dan berdagang. Ini bukti bahwa toleransi beragama sudah ada sejak zaman Kesultanan Banten. Sungguh luar biasa, ya!

Arsitektur Unik Masjid Pecinan Tinggi

Dulu, Masjid Pecinan Tinggi punya bentuk yang cantik. Bangunannya pakai bata merah dan batu karang yang kuat. Menara masjidnya tinggi dan kokoh, mirip menara masjid-masjid tua di Jawa. Atapnya mungkin bertingkat, campuran gaya Tionghoa dan Islam Nusantara. Pondasi masjid berbentuk persegi panjang, seperti denah masjid Kasunyatan.

Sayangnya, sekarang hanya sisa-sisa yang tinggal. Ada menara setengah hancur, mihrab (ruang imam), dan pondasi batu. Tapi, justru itulah yang membuatnya spesial. Setiap batu bercerita tentang masa lalu yang penuh harmoni.

Kondisi Saat Ini dan Alasan Rusaknya

Sekarang, Masjid Pecinan Tinggi sudah tidak utuh lagi. Hanya menara dan mihrab yang berdiri tegak. Kenapa begitu? Karena usianya yang sudah tua, plus bencana alam seperti gempa dan banjir. Dulu, masjid ini megah, tapi waktu membuatnya jadi reruntuhan. Pemerintah Banten menjaganya sebagai situs cagar budaya. Jadi, masih aman untuk dikunjungi.

Di sekitar masjid, ada makam Cina kuno. Ini tambahan misteri: apakah makam itu terkait dengan masjid? Belum ada jawaban pasti, tapi itu membuat tempat ini semakin menarik.

Cara Ke Masjid Pecinan Tinggi: Petunjuk Mudah

Masjid Pecinan Tinggi ada di Kampung Dermayon, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Dekat dengan Masjid Agung Banten, hanya 500 meter ke barat. Atau 400 meter ke selatan dari Benteng Speelwijk. Mudah dijangkau naik motor atau mobil. Parkirnya gratis, dan masuknya juga tidak bayar. Cocok untuk wisata sejarah keluarga.

Jika dari Jakarta, naik tol ke Serang, lalu ikuti papan arah Banten Lama. Datang pagi hari biar cuacanya sejuk. Bawa kamera untuk foto menara tua yang ikonik!

Mengapa Harus Kunjungi Masjid Pecinan Tinggi?

Kunjungi Masjid Pecinan Tinggi bukan hanya lihat bangunan tua. Ini pelajaran tentang toleransi. Di sini, Islam dan budaya Cina bercampur jadi satu. Cocok untuk anak muda yang suka cerita sejarah ringan. Plus, lokasinya dekat pantai dan benteng, jadi bisa sekalian jalan-jalan. Jangan lupa, hormati situsnya ya, jangan rusak apa pun.

Tips Wisata di Situs Masjid Pecinan Tinggi

  • Pakai sepatu nyaman, karena tanahnya agak berbatu.
  • Baca papan informasi sejarah di lokasi.
  • Kunjungi saat musim kemarau agar tidak licin.
  • Bagikan foto di media sosial dengan tag #MasjidPecinanTinggi.

Masjid Pecinan Tinggi mengajarkan kita bahwa perbedaan bisa jadi kekuatan. Hikayatnya abadi, meski bangunannya sudah tua. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya