Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 9 April 2020, Shirley Scarborough menerima kabar paling memilukan dalam hidupnya. Setelah melakukan panggilan doa seperti biasa, ia mendapat telepon dari kepolisian Richmond, Virginia. Putrinya, Francesca Harris-Scarborough, 31, ditemukan tewas tertembak dua kali di bagian jantung. Mobilnya masih menyala ketika polisi tiba. Lebih tragis lagi, Francesca sedang mengandung tiga bulan.
“Saya tidak siap untuk itu. Saya kehilangan kendali atas segalanya,” ujar Scarborough. “Semuanya terasa gelap.”
Kasus Francesca menjadi bagian dari tren mengkhawatirkan di Amerika Serikat, pembunuhan adalah penyebab utama kematian perempuan hamil. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal JAMA Network Open menunjukkan bahwa perempuan hamil memiliki risiko 37% lebih tinggi menjadi korban pembunuhan dengan senjata api dibandingkan perempuan lain seusia mereka. Dari lebih dari 7.000 kasus pembunuhan yang diteliti antara 2018–2021, dua pertiga di antaranya melibatkan penggunaan senjata api.
Penelitian itu juga menemukan bahwa setiap kenaikan 1% kepemilikan senjata api di tingkat negara bagian berhubungan dengan peningkatan 6% kasus pembunuhan secara keseluruhan dan 8% pembunuhan dengan senjata api pada perempuan hamil.
“Bahkan peningkatan kecil dalam ketersediaan senjata bisa berdampak nyata terhadap risiko pembunuhan pada perempuan hamil,” tulis para peneliti.
Dr. Lois Lee dari Harvard Medical School mengatakan, “Tidak mengejutkan bahwa semakin banyak senjata, semakin tinggi pula risiko pembunuhan. Jika jumlah senjata dikurangi, kemungkinan besar akan ada lebih sedikit kematian selama kehamilan.” Ia menambahkan, “Berbeda dengan kondisi medis seperti eklampsia atau sepsis yang sulit dicegah, kekerasan bersenjata ini bisa diprediksi dan dapat dicegah.”
Studi tersebut juga menunjukkan kelompok usia 20-24 tahun merupakan yang paling rentan, dengan korban mayoritas berasal dari kalangan kulit hitam. “Risiko ini dipengaruhi bukan hanya oleh faktor individu, tetapi juga sistem ketimpangan dan rasisme struktural,” kata Lee. Ia menekankan perlunya perubahan kebijakan yang lebih luas.
Para peneliti merekomendasikan penerapan undang-undang penyimpanan senjata yang aman dan larangan kepemilikan senjata bagi pelaku kekerasan domestik. Dr. Kelly Roskam dari Johns Hopkins Center for Gun Violence Solutions menambahkan hukum seharusnya mewajibkan pelaku untuk menyerahkan senjatanya, bahkan saat masih dalam tahap perintah perlindungan darurat.
Roskam mencontohkan program di King County, Washington, yang membentuk tim lintas lembaga untuk memastikan penyerahan senjata dari pelaku kekerasan rumah tangga. Program tersebut berhasil meningkatkan jumlah senjata yang disita dan menekan angka pembunuhan domestik.
Sejak kehilangan putrinya, Scarborough mendirikan organisasi nirlaba Cry Loud, Spare Not, Speak Up, yang berfokus memberdayakan perempuan korban kekerasan di Virginia. Ia juga menginisiasi program pengembangan kepercayaan diri bagi remaja perempuan berusia 12 tahun ke atas.
Setiap tahun, di sekitar hari kematian Francesca, Scarborough menggelar acara bertajuk “I Am Enough, I Know My Worth.”
“Dengan cara ini, dia tidak akan pernah benar-benar mati. Kami bisa terus membantu orang lain,” kata Scarborough. “Kematian Francesca menjadi guru hidup saya. Hidup saya tak akan pernah sama lagi.” (CNN/Z-2)
Dokter menyebut kelompok yang berisiko tinggi keracunan makanan adalah orang lanjut usia (lansia), bayi, atau siapapun yang sedang sakit, dan perempuan hamil.
Data yang dikumpulkan dari lebih dari 1,2 juta kehamilan, menunjukkan bahwa vaksinasi covid-19 memberikan manfaat bagi perempuan hamil.
Setelah empat tahun perdebatan, studi internasional terbaru membantah klaim mumi Perempuan Misterius dari Mesir kuno sedang hamil saat meninggal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved