Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI sebagian orang, bleep test atau beep test meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Bukan hanya karena tantangannya, tetapi juga rasa cemas yang muncul sebelum bunyi pertama terdengar di kelas pendidikan jasmani (PJOK).
Dikenal juga sebagai 20 metre shuttle run atau multistage fitness test, bleep test melibatkan lari bolak-balik dengan kecepatan yang semakin meningkat. Selama puluhan tahun, metode ini telah menjadi bagian dari kurikulum sekolah, latihan olahraga, dan penilaian kebugaran militer.
Bleep test awalnya dirancang untuk menilai kebugaran aerobik atau kemampuan kardiovaskular tubuh, tetapi pertanyaannya adalah apakah metode ini masih relevan di era jam tangan pintar wearable tracker dan pengujian performa berbasis laboratorium?
Bleep test dikembangkan pada awal 1980-an oleh ahli fisiologi olahraga Kanada, Luc Léger, di Universitas Montreal. Tujuannya adalah menyediakan metode sederhana untuk memperkirakan VO2 Max, yaitu kapasitas maksimal tubuh dalam menggunakan oksigen.
Dengan kesederhanaan dan fleksibilitasnya, metode ini dapat dilakukan di ruang terbatas dengan permukaan yang bervariasi, sehingga ideal untuk sekolah, klub olahraga, dan militer.
Metode ini dinamai “bleep test” karena peserta harus berlari mengikuti irama bunyi bleep yang telah dijadwalkan. Semakin cepat bunyi bleep, semakin tinggi kecepatan lari yang harus dicapai peserta.
Secara prinsip, bleep test memperkirakan VO2 Max, indikator penting kebugaran aerobik. Namun, karena peserta harus mempercepat, memperlambat, dan mengubah arah setiap 20 meter, metode ini juga melibatkan sistem anaerobik tubuh. Dengan demikian, bleep test memberikan indikasi umum kebugaran aerobik, meski tidak seakurat tes VO2 Max berbasis laboratorium.
Skor bleep test bervariasi berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tingkat kebugaran. Pada akhirnya, skor yang dianggap “baik” tergantung pada siapa yang diuji.
Meski praktis, bleep test memiliki keterbatasan, terutama untuk olahraga yang bersifat intermittent seperti sepak bola. Alternatif seperti Yo-Yo Intermittent Recovery Test atau tes lari jarak tertentu kini lebih spesifik untuk olahraga tertentu dan memberikan perkiraan kebugaran aerobik yang lebih akurat.
Dalam penelitian dan olahraga elit, tes berbasis laboratorium seperti VO2 Max semakin umum digunakan karena akurasi tinggi.
Namun, untuk menilai kebugaran kelompok besar dengan sumber daya terbatas, bleep test tetap menjadi pilihan alternatif. Kesederhanaan, biaya rendah, dan kemampuan memperkirakan VO2 Max membuat metode ini tetap relevan sebagai alat ukur kebugaran aerobik yang teruji selama beberapa dekade.
Sumber: The Conversation
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved