Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Teknologi eDNA Bantu Lacak Prajurit AS yang Hilang di Laut Sejak Perang Dunia II

Thalatie K Yani
08/11/2025 07:00
Teknologi eDNA Bantu Lacak Prajurit AS yang Hilang di Laut Sejak Perang Dunia II
Bangkai pesawat Perang Dunia II di Saipan menjadi kunci penelitian teknologi eDNA. Metode ini berpotensi membantu menemukan sisa jenazah ribuan prajurit yang hilang.(Jeremy Boreli)

DI dasar laut dangkal Saipan, sisa pesawat perang Grumman TBF Avenger terbaring terbalik, perlahan diselimuti karang dan kehidupan laut. Pesawat yang jatuh sekitar tahun 1944, saat Pertempuran Saipan, pernah membawa tiga kru; hanya satu yang selamat. Dua lainnya hilang tanpa jejak, namun kini ilmuwan mencoba menelusuri keberadaan mereka lewat jejak DNA yang tertinggal di laut.

Penelitian ini merupakan kolaborasi antara ilmuwan kelautan dan Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA), lembaga yang bertugas mencari lebih dari 40.000 tentara Amerika yang hilang di laut sejak Perang Dunia II. Mereka menguji teknologi environmental DNA (eDNA), yaitu analisis DNA yang tersisa di air, tanah, atau sedimen, untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan sisa manusia di lokasi bangkai kapal atau pesawat.

“Kami mencari cara baru untuk mengatasi tantangan dalam investigasi bawah air, salah satu lokasi paling sulit bagi kami,” kata Jesse Stephen, Kepala Inovasi DPAA. Ia menjelaskan pencarian di laut lebih kompleks dibanding di darat karena minimnya informasi sejarah dan luasnya area yang harus disisir.

Teknologi eDNA memungkinkan peneliti mendeteksi keberadaan makhluk hidup, termasuk manusia, tanpa harus menemukan jasad secara fisik. “Tanpa perlu mengambil sisa jasad, kita bisa tahu apakah sesuatu pernah ada di sana hanya dari DNA yang tertinggal di air atau sedimen,” ujar Dr. Kirstin Meyer-Kaiser, ilmuwan kelautan dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) yang memimpin proyek ini.

Dalam proyek percontohan ini, tim meneliti 12 lokasi bangkai kapal dan pesawat di tiga wilayah berbeda: perairan Saipan, Danau Huron di Amerika Utara, dan lepas pantai Palermo, Italia. Mereka mengumpulkan sampel air dan sedimen pada tahun 2022–2023 untuk menguji apakah kondisi lingkungan tertentu lebih baik dalam mempertahankan jejak DNA manusia.

Hasil awal menunjukkan bahwa sedimen lebih efektif menyimpan DNA dibanding air. Di dua lokasi pesawat di laguna Saipan dan satu di Italia, ditemukan fragmen DNA manusia berukuran sangat pendek, tanda DNA tersebut sudah berusia lama. “Kami berhasil menemukan DNA manusia dan membedakan antara DNA lama dan baru. Ini bukti awal bahwa metode ini berfungsi,” ujar Meyer-Kaiser.

Namun, belum ada jenazah yang ditemukan, sehingga hasil ini masih bersifat awal. Tim merekomendasikan penggalian di tiga lokasi yang menunjukkan konsentrasi DNA tertinggi untuk membuktikan temuan tersebut.

“Kami membutuhkan lebih banyak data untuk memastikan bahwa pola ini benar-benar terkait dengan sisa manusia,” tambah Meyer-Kaiser.

DPAA menyambut hasil penelitian ini dengan hati-hati. “Kami didorong oleh keberhasilan awal dalam mengekstraksi DNA manusia yang telah terdegradasi. Ini langkah penting untuk memahami apa yang mungkin dilakukan di masa depan,” ujar Stephen.

Jika terbukti efektif, teknologi eDNA berpotensi mengubah cara pencarian prajurit hilang dilakukan. Pencarian fisik yang memakan waktu menjadi analisis ilmiah yang cepat, akurat, dan minim gangguan terhadap lingkungan laut. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya