Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KERACUNAN makanan pada anak menjadi keresahan besar bagi orang tua. Gejala seperti muntah, diare, sakit perut, hingga demam sering muncul setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri, racun atau zat berbahaya.
Pada kasus tertentu, keracunan bahkan bisa memicu kejang akibat gangguan elektrolit atau infeksi bakteri invasif. Kondisi ini sangat berbahaya karena anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi dan komplikasi serius.
Salah satu konteks yang perlu diwaspadai adalah penyediaan makanan massal, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Program mulia ini bertujuan meningkatkan asupan gizi anak, tetapi jika pengelolaannya tidak tepat, justru bisa menjadi sumber keracunan. Risiko meningkat jika makanan disiapkan terlalu lama, disimpan pada suhu tidak sesuai, atau distribusinya kurang diawasi.
Peran guru dan sekolah sangat penting dalam memastikan keamanan makanan. Guru dapat memantau kualitas makanan sebelum disajikan serta mengenali tanda-tanda makanan yang mulai rusak. Dokter Spesialis Anak, Sub-spesialis Endokrinologi dan Tumbuh Kembang, Yogi Prawira, menekankan perlunya pengetahuan dan pelatihan.
“Sekolah dan guru perlu dibekali sistem serta prosedur yang jelas sebelum terlibat dalam distribusi makanan,” jelasnya.
Selain itu, fasilitas kantin sekolah sebaiknya dioptimalkan agar makanan tetap hangat dan aman saat disantap.
Dokter Spesialis Anak, Sub-spesialis Kardiologi, Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan, standar keamanan pangan tidak boleh dikurangi karena urusannya nyawa anak-anak.
"Tujuan mulia bisa gagal jika tata caranya tidak sesuai standar," ungkapnya.
Keamanan pangan membutuhkan kolaborasi antara penyedia makanan, sekolah, dan ahli gizi. Prosedur yang jelas mulai dari persiapan, distribusi, hingga penyajian akan memastikan program MBG berjalan optimal sekaligus melindungi kesehatan anak.
Meski kasus keracunan belakangan ini mencuat pada program MBG, perlu diingat bahwa risiko serupa juga bisa terjadi di acara lain yang melibatkan makanan dalam jumlah besar. Kesadaran tentang kebersihan, penyimpanan, dan prosedur pengolahan makanan yang benar wajib diterapkan di semua tempat demi mencegah keracunan massal. (Z-10)
Selain itu, air untuk mencuci diminta diberikan saringan. Hal itu disampaikan Dadan karena menyoroti SPPG tidak memiliki sanitasi yang baik.
Peran aktif Pemda melalui Satgas MBG, kata Tito, menjadi kunci agar pengawasan gizi berjalan optimal sekaligus memastikan program tepat sasaran.
KETUA Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Dr Yogi Prawira menjelaskan cara mengenali makanan yang tidak layak konsumsi agar terhindar dari keracunan makanan.
KETUA Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak (UKK ETIA) IDAI, Dr Yogi Prawira menjelaskan dampak yang muncul ketika anak mengalami keracunan makanan berbeda-beda.
Sangat penting bagi orangtua memahami gejala dan penyebab keracunan makanan, sehingga antisipasi dan penanganan bisa dilakukan dengan cepat.
KETUA Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak (UKK ETIA) IDAI, Dr Yogi Prawira menjelaskan terdapat perbedaan antara alergi dan keracunan makanan.
Keracunan makanan adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, racun (toksin), atau zat berbahaya lainnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved