Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Ahli gastroenterologi Dr. Joseph Salhab menyebut mengonsumsi 2 apel sehari dapat memberikan banyak manfaat kesehatan. Dalam unggahan Instagramnya pada 4 Agustus, ia membagikan beberapa alasan dianjurkan sebaiknya mengonsumsi dua apel setiap hari.
"Apel kaya serat, yang dapat membantu merasa kenyang lebih lama, menjadikannya camilan yang baik untuk mengelola berat badan. Serat dalam apel juga memperlambat pencernaan, sehingga mengurangi kemungkinan makan berlebihan," kata Salhab dikutip dari Hindustan Times pada Rabu (6/8).
Dr. Salhab menambahkan bahwa mengonsumsi 2 apel setiap hari dapat membantu menghilangkan kolesterol dari tubuh, mengatur kadar gula, mengurangi diabetes, hingga menurunkan risiko penyakit kronis seperti kanker. Kelebihan tersebut karena apel mengandung serat dan antioksidan dan kandungan gizi lainnya.
Konsumsi apel secara teratur telah dikaitkan dengan menurunkan risiko penyakit hati karena antioksidan dan serat, mengurangi risiko kanker usus besar karena senyawa pelindung, menurunkan kadar kolesterol berkat serat larut, kontrol gula darah yang lebih baik dan pencegahan diabetes, dan dukungan manajemen berat badan alami dari kandungan serat dan air.
"Harus makan 2 apel sehari karena penelitian menunjukkan bahwa hal itu menurunkan risiko perlemakan hati, menurunkan risiko kanker usus besar, memperbaiki sembelit, meningkatkan bakteri usus yang bermanfaat, meningkatkan pengelolaan kolesterol dan gula darah, dapat melawan peradangan sendi, dan membantu mengelola berat badan," ungkapnya.
Meskipun manfaat makan 2 apel sehari sangat banyak, perlu diingat bahwa hasil setiap individu dapat bervariasi, dan apel harus menjadi bagian dari pola makan seimbang.
Namun apabila memiliki masalah kesehatan atau alergi tertentu, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum membuat perubahan signifikan pada pola makan. (H-1)
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 8,5%.`
Kelebihan berat badan, terutama penumpukan lemak di sekitar perut, melemahkan kemampuan kerja insulin atau menurunkan sensitivitas insulin.
Terdapat faktor lainnya, yaitu lingkungan obesogenik, yaitu lingkungan yang cenderung membuat orang menjadi obesitas.
Selain senam, ada pula sesi penyerahan bantuan dari Holywings Peduli kepada warga kelurahan Cikini senilai Rp30 juta.
Saat kehilangan rasa pada kaki, seseorang mungkin tidak merasakan kerikil di dalam kaus kaki atau lepuh pada kaki. Itu dapat menyebabkan luka dan bisul yang dapat terinfeksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved