Jumat 20 Januari 2023, 11:00 WIB

Meski Kompleks, Trauma Bisa Diatasi

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Meski Kompleks, Trauma Bisa Diatasi

Medcom/Mohammad Rizal
Ilustrasi

 

TRAUMA bukan sekadar soal efek tidak menyenangkan akibat peristiwa di masa lalu namun merupakan hal yang jauh lebih kompleks dan subjektif tergantung individu serta kejadian penyebab trauma yang dialaminya.

"Jadi bukan tentang kejadiannya saja. Ini tentang reaksi tubuh yang ada saat ini. Reaksi tubuh yang dimaksud adalah reaksi yang ingin melindungi diri secara terus-menerus," kata psikiater lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang juga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Jiemi Ardian, dikutip Jumat (20/1).

Reaksi tubuh tersebut, menurut Jiemi, diiringi dengan perasaan terancam, takut, cemas, tegang, atau bersiap siaga terhadap adanya pemicu sehingga mudah terpancing atau sensitif.

Baca juga: Yuk Kenali Tanda dan Gejala Trauma Serta Cara Mengatasinya

Ada beberapa jenis trauma, namun psikiater yang berpraktik di satu rumah sakit di Bogor ini menyebut tiap trauma yang dirasakan akan memiliki gejala yang terbagi dalam dua aspek, yakni hyperarousal dan hypoarousal.

"Hyperarousal terjadi ketika tubuh seseorang tiba-tiba menjadi sangat waspada ketika terpicu suatu hal yang menyebabkan trauma dan menyebabkan tindakan yang vigilance atau keras, sedangkan hypoarousal adalah sebaliknya dan bahkan mati rasa," jelas Jiemi.

Adapun seseorang yang masuk pada jendela hyperarousal akan bertindak seolah-olah sedang dalam bahaya, diiringi perasaan gelisah, amarah yang di luar kendali, bahkan cenderung ingin menyerang atau melarikan diri.

Sedangkan hypoarousal sebaliknya, seperti energi yang menghilang, respons tubuh yang berkurang, kelelahan, mati rasa secara emosional bahkan depresi. Gejala ini membuat tubuh orang yang memiliki trauma membeku tidak dapat melakukan apa pun.

"Apa pun penyebab traumanya, kedua gejala ini membuat tubuh berusaha menyelamatkan diri dengan cara hyperarousal atau hypoarousal dan bisa juga terjadi keduanya sekaligus. Reaksi ini terjadi secara otomatis di luar sadar," terang Jiemi.

Reaksi-reaksi ini dipilihkan oleh tubuh secara spontan sehingga menyulitkan pejuang trauma untuk menjalani kesehariannya, salah satunya dalam membuat keputusan dan mengontrol emosi.

Namun, kabar baiknya, secara perlahan gejala dan reaksi trauma ini dapat diatasi dengan berbagai cara, mulai dari meditasi, mendengarkan musik, dan melakukan aktivitas baru yang digemari secara rutin.

Jiemi menyarankan, penderita trauma sebaiknya segera mencari pertolongan profesional untuk membantu menyadari dan mempelajari ulang bagaimana tubuh kita bereaksi dan cara mengatasinya. 

Pesan untuk para pejuang trauma, jika rasanya sulit, tidak apa untuk menemui profesional kesehatan jiwa. Ketika pejuang trauma sudah mampu mengenali dan mengatasi reaksi dan masuk dalam fase stabil, mereka dapat beraktivitas secara efektif dan berhubungan baik dengan diri sendiri dan orang lain," pungkas Jiemi. (Ant/OL-1)

Baca Juga

Dok. Iluni Menwa UI

Siap Hadapi Perubahan di Era Vuca, Iluni Menwa UI Gandeng Ahli Ekonomi Rhenald Kasali adakan Seminar Nasional

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Januari 2023, 15:07 WIB
Iluni Menwa UI menjadi garda terdepan dalam membuka wawasan dan mencerdaskan bangsa Indonesia. Salah satunya lewat seminar...
FREEPIK

Urutan Perawatan Wajah Remaja buat Pemula

👤Joan Imanuella Hanna Pangemanan 🕔Jumat 27 Januari 2023, 15:03 WIB
Basic skincare terdiri dari langkah-langkah yang sederhana seperti membersihkan, merawat, dan...
stagemilk.com

Parfi: Sineas Harus Bisa Atur Jadwal Syuting Jika Libatkan Pemain Anak-Anak

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Januari 2023, 14:37 WIB
Sineas harus bisa mengatur jadwal syuting jika sebuah film melibatkan aktor atau aktris anak-anak agar tetap menghasilkan karya yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya